Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

8 Hari Memblokade Laut, Aksi Heroik Nelayan di Pulau Laut Kotabaru Gara-Gara Limbah Batu

Jumain Radar Banjarmasin • 2024-05-02 15:50:00
WARNA-WARNI: Deretan kapal nelayan di Desa Rampa Lama, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru (FOTO: JUMAIN/RADAR BANJARMASIN)
WARNA-WARNI: Deretan kapal nelayan di Desa Rampa Lama, Kecamatan Pulau Laut Utara, Kotabaru (FOTO: JUMAIN/RADAR BANJARMASIN)

 

Laut adalah ibu, nelayan adalah anak-anaknya. Lalu bagaimana bila ada yang mengusiknya?

 

****
Tak ada ikan yang terjebak di jaring atau perangkap yang dilabuh para nelayan di Pulau Laut, Kotabaru. Sebaliknya, para nelayan sering kali mendapati alat tangkap ikan yang mereka gunakan tersangkut di bebatuan. Tangkapan ikan jadi berkurang. 

Kondisi ini tak hanya dialami nelayan yang bermukim di kawasan Rampa Lama. Tapi juga nelayan yang bermukim di Tanjung Dewa, Kotabaru. Nelayan pun gusar. Mereka membentuk perkumpulan Ikatan Nelayan Saijaan atau Insan Kotabaru. Tujuannya, menampung keluhan para nelayan. Tak disangka, jumlah anggotanya ribuan. Keluhan yang ditampung pun sama. Tangkapan ikan mereka berkurang karena terganggu limbah batu.

Mereka pun berembuk. Mengusut akar permasalahan. Rupanya, limbah batu tidak muncul begitu saja. Melainkan berasal dari sebuah perusahaan.

Ketika dipetakan, ditemukan ada 100 titik lokasi tangkapan ikan yang tercemar limbah batu itu. Protes pun dilayangkan. Pertama, mendatangi DPRD Kotabaru. Di situ mereka berkeluh kesah. Namun tidak membuahkan hasil. Setahun mengeluh, tak ada perbaikan. Nelayan yang geram pun melancarkan aksinya. Melalui Insan, dihimpun kekuatan. Pilihannya hanya satu: memblokade lautan.

Cerita tentang blokade lautan ini dituturkan, Zainal, 64 tahun. Saat ini, ia masih menjabat sebagai Ketua Insan Kotabaru. Penulis bertemu Zainal di kediamannya di kawasan Rampa Lama, Rabu (1/5) siang. Lantaran penulis penasaran dengan kisah limbah batu yang mengakibatkan terjadinya aksi unjuk rasa besar-besaran itu. Konon, melibatkan ribuan nelayan.

"Tahun pastinya saya sudah lupa. Seingat saya di awal tahun 2000-an," ucap Zainal, sembari menyuguhkan secangkir kopi hitam.  "Sambil diminum, ini kopi Toraja asli," tambahnya. Zainal melanjutkan ceritanya. Saat itu, tak ada pilihan lain. Blokade laut adalah satu-satunya harapan agar pemda bertindak.  

"Permintaan kami hanya satu. Jangan cemari lautan," ujarnya. Tak kurang dari 1.500 perahu nelayan disusun berjejer di lautan Kotabaru. Di atas satu buah perahu, minimal diisi empat orang nelayan. Di situ, mereka berdiam dan berorasi selama delapan hari. "Ya, delapan hari," tekan Zainal.

Aksi yang dilancarkan para nelayan itu juga didampingi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel. "Kami yang meminta mereka mendampingi," ujar Zainal. Blokade lautan itu membuat aktivitas perkapalan yang melintas di laut Kotabaru terganggu. Setiap hari, aparat mencoba bernegosiasi agar aksi dihentikan. Namun, tak jua membuahkan hasil.

"Akhirnya di hari ke delapan, aksi yang kami lakukan berhasil dibubarkan aparat," ucap Zainal. Bahkan, ia sendiri bersama H Abdullah (Ketua Insan Kotabaru sebelumnya), selama satu hari satu malam sempat diamankan dan diperiksa aparat. "Kalau saya tidak keliru, kawan-kawan Walhi juga ikut diamankan. Bahkan selama sepekan," tuturnya.

Mengapa sampai sepekan? Rupanya, aksi itu berlanjut hingga ke meja hijau. Syukurlah, saat sidang berjalan, Insan Kotabaru menang. "Alhamdulillah kami menang, kawan-kawan Walhi juga dibebaskan. Sedangkan perusahaan diminta mengangkat limbah batu serta memberikan tali asih kepada para nelayan," ungkapnya.  

Kini, Zainal bersyukur nelayan Kotabaru sudah tak lagi menemukan kasus serupa. Bahkan sejak kejadian itu, mereka juga sering berkoordinasi ke TNI dan Polri. "Kami hanya tidak ingin ibu (laut) kami diusik. Kami hanya ingin terus bisa mencari nafkah di laut," tuturnya. "Keluarga kami, hidup dari sini (laut)," tekannya. 

Kalau pun menurutnya ada gangguan, itu lantaran masih langka dan mahalnya harga solar. "Masa bisa sampai Rp12 ribu per liter," keluhnya. Persoalan keluhan yang kini menjerat para nelayan itu juga diketahui Pemkab Kotabaru.  

Kadis Perikanan, Khairil Fajeri mengatakan bahwa selama ini dinasnya sudah mempermudah nelayan untuk mengakses BBM bersubsidi. Salah satunya, dengan menerbitkan rekomendasi pembelian solar ke penyalur.  

Melalui rekomendasi itu, nelayan dapat langsung membeli dengan harga subsidi, sesuai dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.Pihaknya juga sudah beberapa kali mengusulkan tambahan kuota BBM solar. Namun diakuinya hingga kini belum ada penambahan.  

Lebih jauh, untuk para nelayan di Kotabaru, bantuan juga terus disalurkan. Baik berupa alat tangkap maupun perlengkapan nelayan lainnya. "Dan setiap menyalurkan bantuan yang disalurkan, selalu disosialisasikan kepada nelayan," tutup Zainal. (*)

 
 
 
 
 
Editor : Indra Zakaria