PALANGKA RAYA-Pandemi Covid-19 belum juga berakhir, tapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah muncul di depan mata. Tidak ingin terjadi bencana kabut asap seperti musim kemarau sebelumnya, para pemangku kepentingan langsung duduk bersama, bersinergi untuk melakukan pencegahan sedini mungkin.
Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) H Sugianto Sabran menginstruksikan kepada semua forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) untuk melakukan antisipasi dini karhutla tahun 2021. Selain intens melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk memberi pemahaman, gunernur juga meminta memperkuat patroli gabungan antara pemerintah, TNI, Polri, dan pihak terkait lainnya pada titik-titik yang dianggap rawan terjadi karhutla.
Orang nomor satu di Kalteng ini mengingatkan agar semua pihak harus bekerja keras dan tidak lelah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dengan cara apa pun.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Palangka Raya hingga bulan Mei nanti diprediksi masih terjadi hujan di wilayah Kalteng.
"Meski demikian, perlu dilakukan antisipasi secara baik. Kabupaten Kotim sudah menetapkan status siaga darurat karhutla. Untuk daerah lainnya, jika dianggap perlu, maka selaku wakil pemerintah pusat di daerah, kami sangat mendukung," tegasnya dalam rapat koordinasi di Aula Jaya Tingang (AJT), Kantor Gubernur Kalteng, (2/3).
Pemetaan di daerah sudah dilakukan bersama jajaran forkopimda. Daerah-daerah yang dianggap rawan terjadi karhutla akan dilakukan patroli secara intens. "Kebakaran memang sering terjadi tiap tahun, baik dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja," jelasnya.
Guna menghindari terjadinya kabut asap seperti yang terjadi pada 2015 dan 2019 lalu, maka perlu ada langkah antisipasi. Salah satunya dengan melakukan rapat koordinasi. Rapat ini merupakan tindak lanjut dari rapat koordinasi nasional (rakornas) pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2021 yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (22/2) lalu.
Ditegaskan gubernur, selama musim kemarau masih berlangsung, sebisa mungkin diupayakan agar lahan gambut tidak dibakar. Begitu pun dengan hutan dan tanah perbukitan.
"Karena resikonya akan berakibat fatal bagi kesehatan masyarakat, berdampak pada perekonomian, pendidikan, transportasi, dan lainnya," tegasnya lagi.
Oleh karena itu, semua pihak harus siaga dan lebih tanggap dengan kondisi lingkungan sekitar, mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan.
Jika masih ada terjadi kebakaran, maka urusan sepenuhnya ditangani pihak penegak hukum untuk memberi penindakan sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku.
Disampaikannya, bantuan tak terduga yang disediakan oleh pemerintah provinsi senilai Rp100 miliar. Dana tersebut bisa digunakan untuk penanganan Covid-19, penanganan karhutla, dan lainnya.
Gubernur juga meminta semua pengusaha atau investor untuk terlibat dalam upaya pencegahan ini. Termasuk yang memelihara taman nasional, perusahaan pertambangan, HPH, dan perkebunan untuk menyerahkan perlengkapan dan peralatan pemadam kebakaran.
"Jika terbukti melakukan kelalaian, dicabut izinnya, kami akan koordinasikan dengan bupati sesuai kewenangan masing-masing," tegasnya.
Catatan khusus diberi untuk tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Gunung Mas karena di tiga wilayah itu terdapat proyek strategis nasional.
"Jangan sampai malah terjadi kebakaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Perlu antisipasi dini dan kerja sama antara provinsi dengan kabupaten serta forkopimda," harapnya.
Sementara itu, Kapolda Kalteng Irjen Pol Dr Dedi Prasetyo mengatakan, penegakan hukum karhutla akan dilakukan pihaknya tanpa kompromi sesuai dengan arahan presiden.
"Perlu ada koordinasi dan kerja sama yang baik. Walaupun tengah fokus melakukan antisipasi karhutla, tapi penanganan terhadap Covid-19 serta penerapan prokes tetap menjadi hal penting untuk diperhatikan semua pihak," tegasnya.
Oleh karena itu menjadi tugas bersama untuk melakukan sosialisasi terkait penerapan prokes seperti mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan lainnya demi memutus mata rantai persebaran virus.
Terpisah, Brigjen TNI Purwo Sudaryanto melalui Kasrem 102 Panju Panjung Kolonel Czi Wakhyono menegaskan bahwa pihaknya bersama unsur forkopimda akan siap melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat hingga tingkat bawah.
"Kami juga akan bersama-sama melakukan penanganan jika terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalteng, terutama selama musim kemarau," ucapnya.
Patroli gabungan TNI- Polri dinilai sangat penting. Patroli gabungan mesti dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan mengedepankan sisi humanis, sehingga kehadiran TNI-Polri benar-benar diterima masyarakat. Harus bisa menunjukkan kepada masyarakat bahwa TNI-Polri di Kalteng solid dalam kondisi dan situasi apa pun.
Kepala Kejaksaan Tinggi Kalteng Iman Wijaya melalui Wakajati Marang mengatakan, pihaknya juga kembali mempersiapkan strategi dan program guna menanggulangi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap terjadi di Kalteng saat musim kemarau.
"Kami akan selalu siap bersama pemerintah dan forkopimda untuk melakukan sosialisasi serta pendampingan hukum kepada masyarakat," tegasnya.
Juni-Juli, Diprediksi Kemarau Melanda Kalteng ====judul baru
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi (BMKG) Kota Palangka Raya Catur Winarti melalui prakirawan cuacanya Lian Adriani menyampaikan, untuk saat ini wilayah Kalteng dan Kota Palangka Raya khususnya masih dalam musim hujan.
Dikatakannya, perkiraan terjadinya musim kemarau di sebagian wilayah Provinsi Kalteng termasuk di Kota Palangka Raya adalah memasuki awal Juni hingga akhir Juli.
“Sesuai dengan hasil prediksi kami, musim kemarau tahun ini kurang lebih masih normal seperti tahun lalu, tidak terlalu kering dan juga tidak terlalu basah,” ucapnya kepada Kalteng Pos, Selasa (2/3).
Lebih lanjut dikatakannya, kemarau tahun ini bisa dikatakan cukup seimbang. Meski memasuki musim kemarau, tetap ada hujan di wilayah Kalteng, sebagaimana musim kemarau tahun lalu. Bisa disebut sebagai kemarau basah.
Mengenai terjadinya musibah karhutla di beberapa daerah tahun lalu, Lian mengungkapkan, hal itu terjadi karena selama bulan Februari tahun lalu kondisi di wilayah Kalteng cukup kering. Ada penurunan curah hujan.
Hal itulah yang menyebabkan terjadinya sejumlah karhutla. Juga mengakibatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kahayan dan Barito mengalami penurunan debit air.
“Berdasarkan hasil prakiraan cuaca kami, pada bulan Maret dan April nanti akan terjadi kenaikan curah hujan, curah hujan yang tinggi itu dapat membuat lahan lebih lembap dan basah sehingga bisa mengurangi potensi terjadinya karhutla,” pungkasnya. (nue/ahm/ce/ala)
Editor : izak-Indra Zakaria