Kabupaten Berau dilintasi dua sungai besar. Memisahkan Kecamatan Gunung Tabur, Kecamatan Tanjung Redeb dan Kecamatan Sambaliung.
TANJUNG REDEB -Sungai Segah dan Sungai Kelay di Berau masing-masing sudah memiliki sebuah jembatan. Yaitu jembatan Gunung Tabur dan jembatan Sambaliung.
Kedua jembatan tersebut sudah berumur panjang. Satu di antaranya, jembatan Sambaliung baru selesai dilakukan perawatan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (DPUPR-Pera) Kalimantan Timur. Perawatan itu sempat menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Sebab, itu satu-satunya akses penghubung dari dan menuju Tanjung Redeb ke enam kecamatan di seberangnya hingga ke pesisir. Yaitu, Sambaliung, Tabalar, Biatan, Talisayan, Batu Putih dan Bidukbiduk.
Perjalanan panjang perawatan jembatan Sambaliung dijadikan rujukan, bagaimana jika jembatan Gunung Tabur harus diperbaiki sewaktu-waktu. Dari posisinya, jembatan Gunung Tabur terbentang di atas Sungai Segah yang merupakan jalur lintas angkutan kapal pengangkut batu bara. Sehingga, dalam beberapa kejadian, bagian pancang penahan kerap terjadi insiden tertabrak.
Jauh sebelumnya, untuk memecah kepadatan lalu lintas dan sebagai antisipasi, ada wacana pembangunan jembatan Teluk Bayur-Gunung Tabur pada sisi Kampung Tasuk. Wacana itu dirasa mampu menjadi jawaban, terkait antisipasi jika sewaktu-waktu, jembatan Gunung Tabur harus menerima perawatan seperti jembatan Sambaliung.
Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Berau, Benny Sepriady Panjaitan menyebut, memang pernah ada ide atau perencanaan tentang pembangunan jembatan baru yang akan menghubungkan Teluk Bayur dan Gunung Tabur pada sisi Kampung Tasuk.
“Iya itu ada, namun sudah lama sekali,” terang Benny, Minggu (17/12). Menurut Benny, sangat memungkinkan jika saat ini berpikir untuk membangun jembatan baru yang menghubungkan Teluk Bayur dan Gunung Tabur. Tapi, prosesnya akan sangat panjang dan memerlukan kajian teknis yang sangat mendalam.
“Karena memang itu harus, paling tidak butuh kajian yang matang,“ tegasnya. Sebab, wacana tersebut sudah lama, menurutnya ada beberapa perubahan seiring berjalannya waktu jika ingin menghidupkan kembali perencanaan itu. Sebab, dalam kurun waktu satu dekade, terdapat perubahan-perubahan. Khususnya, adanya perubahan tata guna lahan, baik pada sisi Teluk Bayur maupun Gunung Tabur.
“Otomatis, pada saat itu lahan di seberang masih representatif. Namun, saat ini pertumbuhan penduduk dan kegiatan masyarakat bertambah,” ujarnya.
Menurut Benny, ada opsi lain yang bisa diambil untuk mengantisipasi perawatan jembatan Gunung Tabur yang sewaktu-waktu dapat dilaksanakan. Yaitu, pembangunan jembatan Gunung Tabur 2 atau jembatan Kembar pada sisi jembatan Gunung Tabur saat ini. “Apakah kita buat jembatan kembar di Gunung Tabur, yang penting kita perlu koordinasi lagi dengan BPJN, Kalau pakai dana mereka, biasanya mereka mau asal masalah lahan itu clear,” ujarnya.
Melihat kondisi saat ini, menurut Benny, dari segi lahan di sekitar jembatan Gunung Tabur masih memungkinkan jika ingin dibangun jembatan kembar. Hanya, yang menjadi catatannya adalah pembebasan lahan harus tuntas.
Ini masih bersifat ide. Benny menegaskan, opsi-opsi tersebut terbuka untuk diperdalam. Sehingga, kejadian selama perbaikan jembatan Sambaliung beberapa waktu lalu bisa diantisipasi pada jembatan Gunung Tabur.
“Alternatif berikutnya, kita akan mencoba menghubungi balai akan konsultasi umur rencana jembatan di Gunung Tabur,“ jelasnya.
Terpisah, Ketua Komisi III DPRD Berau Saga meminta Pemkab Berau beserta jajarannya mengantisipasi pengalaman perawatan jembatan Sambaliung di jembatan Gunung Tabur nantinya.
Apalagi status jembatan di bawah naungan Pemerintah Pusat karena dibangun menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), jadi perlu kolaborasi dan komunikasi ekstra untuk mewujudkannya.
“Apalagi dengan kewenangan, jembatan Gunung Tabur itu punya pusat, ini perlu sekali kita dari sekarang ini bagaimana mencarikan solusi jangan sampai terjadi seperti di Sambaliung,” terangnya.(sen/far/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria