Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Diwejangi Yon, Yok, dan Nomo agar Bikin Lagu dari Hati

izak-Indra Zakaria • Jumat, 12 Juni 2020 - 19:03 WIB
Personel P Plus
Personel P Plus

Saat P Plus terbentuk tiga tahun lalu, para personelnya masih duduk di bangku SMP. Kini mereka telah menguasai 120 lagu dan kukuh mempertahankan orisinalitas Koes Plus.

 

ANA R. DEWI, Jogjakarta-SHAFA NADIA, Jakarta Jawa Pos

 

SAAT Irfan Affandy lahir pada 5 Juli 2001, Koes Plus sudah merilis sekitar 85 album, telah mengalami 11 kali pergantian formasi, Tonny Koeswoyo sudah 14 tahun berpulang, dan Yok Koeswoyo tidak lagi aktif di band yang bercikal bakal di Tuban, Jawa Timur, itu.

Padahal, Irfan tertua di Phenotip Plus alias P Plus, band pelestari Koes Plus dari Bantul, Jogjakarta. Jadi, bisa dibayangkan betapa jauh jarak zaman antara cah-cah asal Desa Melikan Lor itu dengan band yang mulai dikenal sejak 1960an tersebut.

Tapi, dengan fasihnya Irfan bisa bicara soal akord Koes Plus yang disebutnya “miring-miring.” Atau Septyaji Dharma, sang drummer sekaligus personel termuda P Plus, yang menuturkan bagaimana tak mudahnya dia mencari ropel atau fill in di setiap lagu Koes Plus agar lebih mirip dengan rekaman asli.

Ini bukti kesekian betapa pengaruh Koes Plus melintas zaman, melintas generasi. Cara mereka mengharmonisasi musik, cara mereka menulis lirik, tak lekang dimakan zaman. Band garage rock Kelompok Penerbang Roket, misalnya, termasuk pengagum mereka. Terutama lagu “Kelelawar”, yang kala pertama dirilis pada 1969 sempat seret di pasar.

"Kami awalnya iseng karena sedang belajar tentang musik. Tapi lama-lama kami ingin juga mengeksplor bakat kami," ujar Irfan (lead guitar dan keyboard) kepada Jawa Pos Radar Jogja.

Phenotip yang dalam bahasa fisika artinya keturunan atau kemiripan itu berdiri pada 2016, saat Irfan, Dharma, Pradipta Perisai (basisst), dan Setiawan (vocal/rhythm guitarist) masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Sejak kecil empat sekawan yang berasal dari desa yang sama itu memang sering mendengarkan lagu-lagu Koes Bersaudara/Koes Plus. Kebetulan, dalam kurun1999 hingga 2012 di Bantul sempat terbentuk grup band pelestari Koes Plus lain, yakni Ngak Ngik Ngok Band.

Kala itu Ngak Ngik Ngok menjadi band kebanggaan Bumi Projo Tamansari, julukan Bantul. Basecamp atau studio yang dipakai P Plus saat ini juga studio milik Ngak Ngik Ngok.

Ngak Ngik Ngok adalah sebutan Presiden Soekarno untuk musik barat. Itu terlontar dalam pidato peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1959. Dan, sebagai bagian upaya memerangi pengaruh imperialisme Barat pula, keluarlah Penetapan Presiden No 11/1963 tentang larangan musik ngak ngik ngok.

Dianggap melanggar larangan ini, Tonny, Nomo, Yon, dan Yok Koeswoyo yang kala itu masih berbendera Koes Bersaudara ditahan kejaksaan pada 4 Juni 1965. Musik mereka juga dilarang diputar. Tapi, kepada Budi Setiyono yang menulis reportase panjang bertajuk Ngak Ngik Ngok, Yok menyebut penahanan itu sebenarnya bagian dari misi negara dalam kaitan konfrontasi dengan Malaysia.

Di mata Irfan, akord yang dimainkan KP sedikit berbeda dari grup band lain. Terutama dari segi harmonisasi. Harmonisasi itu pula yang membuat karya-karya Koes Plus awet sepanjang masa.

Gaya permainan P Plus secara keseluruhan plek dengan aslinya. Ketukan drum khas Murry, misalnya, berhasil direplika Dharma. Dia mengaku selalu berusaha memainkan style drum semirip mungkin. "Untuk menjaga ke orisinalitsan lagu itu yang sulit," kata Dharma yang dihubungi Jawa Pos Radar Jogja secara terpisah.

Dibanding grup band lain, ketukan drum Koes Plus sangat bervariasi. Juga memiliki ciri khas tersendiri. Misalnya, dalam beberapa part ketukan diisi menggunakan kick drum. Padahal, pada grup musik umumnya ketukan diisi menggunakan snare drum.

Sejauh ini sudah sekitar 120 lagu Koes Plus yang mereka kuasai. Kuingat Selalu dan Senang-Senang Bergembira termasuk lagu-lagu favorit mereka.

Sebagaimana band profesional, P Plus juga punya manajemen dan seksi dokumentasi. Jam terbang mereka pun lumayan tinggi. Sejumlah kota di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jakarta telah mereka rambah.

"Ya, kami terus belajar saja untuk mengulik lagu. Terus berlatih agar bisa semakin mirip lagi," kata Irfan.

Di beberapa kesempatan berbeda, semua anggota P Plus sempat bertemu personel Koes Pkus. Pertama di acara Golden Memories di Jogja, mereka bertemu Yon Koeswoyo. Kalu bertemu Yok Koeswoyo di acara Gebyar Lagu KP di Solo. Irfan dkk juga sempat sowan ke rumah Nomo Koeswoyo di Magelang.

BendGo, band pelestari Koes Plus lainnya, malah mendapat kehormatan karena peluncuran album mereka, Tradisi Pertiwi, dihadiri langsung Yok. ”Ini yang saya tunggu. Nggak nyangka ada pelestari yang bisa bikin saya suka. BendGo sama dengan Koes Plus dan semoga bisa jadi penerus Koes Plus,” tutur Aritonang, rhytm guitarist sekaligus vokalis BendGo.

Selain Tonank, sapaan akrab Aritonang, BendGo beranggotakan Kusnandar, lead guitarist sekaligus vocal; Alung, keyboard, bass, dan juga vokal; dan Ipang, drummer. BendGo merupakan kepanjangan dari “Bendungan Jago” yang diambil dari nama jalan basecamp pertama mereka di daerah Jakarta Pusat.

”Waktu itu masih pakai rumah Tono, mantan personel BendGo yang sebelumnya,” kata Tonank, seraya menambahkan mereka kemudian pindah ke rumahnya di kawasan Tanjung Priuk, Jakarta Utara.

Seharusnya di bulan ini BendGo kembali menggarap double album. Didalamnya terdapat lagu yang diciptakan untuk Koes Plus yang berjudul Koeswoyo Murry.

“Koes Plus tak akan bisa digantikan siapapun. Kalau kami, BendGo, menciptakan karya untuk meneruskan semangat dari Koes Plus,” katanya.

Dharma juga tak bisa lupa wejangan para anggota Koes Plus yang pernah mereka temui. "Yang paling kami ingat, kalau kami membuat lagu dari hati, pasti akan sampai juga ke hati," ujarnya. (*/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria
#musik #feature