KHARTOUM – Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan situasi di Sudan kini sangat berbahaya. Bukan hanya dampak perang perebutan kekuasaan yang kian membesar. Namun, juga karena ada milisi bersenjata yang menduduki laboratorium publik nasional.
Padahal, tempat tersebut menyimpan berbagai sampel penyakit mematikan seperti kolera, polio, dan campak. ’’Milisi mengusir semua teknisi dari lab,’’ ujar Nima Saeed Abid, perwakilan WHO Sudan seperti dikutip Agence France-Presse (25/4).
Abid tidak mengetahui dengan pasti apakah milisi itu pendukung militer atau paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF), dua kelompok yang terlibat peperangan. Yang jelas, laboratorium itu sekarang dijadikan pangkalan militer. Abid mengatakan, pihaknya telah memerika informasi pendudukan laboratorium itu pada Senin (24/4).
Ada risiko biologis yang sangat besar jika laboratorium itu jatuh ke tangan yang tidak tepat. Direktur laboratorium memperingatkan, kantong darah yang stoknya sudah menipis berisiko rusak karena kurangnya daya. ’’Selain bahaya kimia, risiko biologis juga sangat tinggi karena genset yang tidak berfungsi dengan baik,’’ ujar Abid.
WHO juga mengkonfirmasi bahwa ada 14 serangan terhadap layanan kesehatan selama pertempuran berlangsung. Serangan itu menyebabkan delapan orang meninggal dunia dan melukai dua orang. Kementerian Kesehatan Sudan menyebutkan jumlah kematian total sejauh ini mencapai 459 orang. Selain itu, sebanyak 4.072 orang luka-luka. Namun, jumlah itu belum bisa diverifikasi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken menyatakan, militer dan RSF sepakat gencatan senjata selama 72 jam. Yakni, terhitung sejak Senin (24/4) tengah malam. Gencatan senjata di Sudan yang diprakarsai oleh AS itu tercapai setelah negosiasi selama 48 jam.
Meski demikian, suara tembakan masih terdengar di Khartoum dan Omdurman. Namun, tidak seintensif biasanya. RSF yang dipimpin Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemedti menuding pihak militer telah melanggar kesepakatan gencatan senjata. ’’Kami mendesak militer Sudan untuk menghormati gencatan senjata dan persyaratannya untuk meringankan penderitaan warga sipil tak berdosa,’’ bunyi pernyataan RSF.
Mereka meminta komunitas internasional untuk menekan militer agar patuh terhadap gencatan senjata. Tapi, klaim RSF itu belum bisa dikonfirmasi lantaran tidak jelas siapa yang menembak lebih dulu.’’Pelanggaran gencatan senjata oleh militer Sudan adalah bukti tak terbantahkan dari kehausan mereka akan perang dan pertumpahan darah yang harus segera diakhiri. Kami mendesak penyelesaian konflik secara damai,’’ tambah pihak RSF.
Masa gencatan senjata dimanfaatkan oleh berbagai negara untuk mengevakuasi warganya. Operasi penyelamatan sudah dilakukan sejak akhri pekan. Namun, kemarin proses evakuasi warga keluar dari Sudan belakangan lebih intensif. Beberapa warga asing telah diterbangkan ke Djibouti, Yordania serta Siprus. Ada juga yang berkendara ke Pelabuhan Sudan, kemudian naik kapal ke Arab Saudi atau melalui jalan darat ke Mesir dan Etopia.
Arab Saudi memimpin evakuasi besar-besaran pertama pada Sabtu (22/4) melalui laut. Sejak itu ratusan warga Saudi dan orang asing dari sejumlah negara telah dibawa ke kota pelabuhan Jeddah. Minggu (23/4) malam, Jordania juga telah menerbangkan hampir 350 orang termasuk warga Palestina, Irak, Syria, dan Jerman ke bandara militer di kerajaan itu.
Badan Pengungsi PBB memperkirakan setidaknya 270 ribu orang yang bakal melarikan diri dari Sudan ke negara tetangga Chad dan Sudan Selatan. Laura Lo Castro, perwakilan Badan Pengungsi PBB di Chad, mengatakan, sekitar 20 ribu pengungsi telah tiba di sana sejak pertempuran Sudan meletus sepuluh hari lalu. (sha/c18/hud)
Editor : izak-Indra Zakaria