PROKAL.CO-Serangan buaya masih terjadi di Kalimantan. Bahkan di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim) dalam kurun waktu sekira satu minggu ada dua kali serangan buaya di lokasi berbeda.
Terbaru, pada Selasa (8/4/2025), seorang warga Desa Petangis, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, dilaporkan hilang dan diduga kuat menjadi korban serangan buaya.
Sebelum dilaporkan menghilang, korban sedang menjala udang di Sungai Lonu, wilayah Desa Tebru, Paser Damai.
Korban diketahui berusia 54 tahun, seorang karyawan sebuah perusahaan di sekitar lokasi kejadian.
Ia terakhir terlihat meninggalkan barak tempat tinggalnya sekitar pukul 16.00 Wita untuk menjala udang di sungai yang berada tidak jauh dari lokasi perusahaan.
Hingga malam, korban tak kunjung kembali ke barak. Keluarga yang semula tidak mencurigai apa-apa, mulai melakukan pencarian secara mandiri pada pukul 21.00 Wita.
Hasil pencarian itu menemukan sejumlah barang diduga milik korban di tepi Sungai Lonu, tepatnya di kawasan Estate MTBE 01 Blok 37, RT 04 Desa Tebru Paser Damai.
Barang-barang tersebut antara lain ember hitam, jala yang sudah robek, dan sebilah parang.
Pencarian resmi oleh tim gabungan dimulai pada Rabu (9/4/2025) pagi.
Tim terdiri dari personel BPBD Kabupaten Paser, aparat desa, relawan, dan masyarakat sekitar.
Sekitar pukul 13.22 Wita, tim pencari menemukan potongan yang diduga merupakan isi perut manusia di bagian hulu Sungai Lonu, sekitar 4 kilometer dari lokasi awal korban dinyatakan hilang.
Baca Juga: Serangan Buaya di Kotim Kian Mengkhawatirkan
"Kami sempat melihat buaya besar mengapung saat pencarian. Diduga kuat buaya tersebut adalah pelaku serangan terhadap korban," ujar Marwansyah, Komandan Rescue BPBD Kabupaten Paser.
Menurut Marwan, Sungai Lonu merupakan habitat alami buaya muara, spesies predator yang berbahaya dan sering muncul menjelang sore hingga malam hari.
Tim pencari sempat menyisir beberapa anak sungai yang dicurigai sebagai sarang predator. Namun hingga memasuki hari keempat pencarian, korban belum ditemukan.
Setelah empat hari pencarian intensif, pencarian korban secara resmi dihentikan pada Kamis (11/4) pukul 12.30 Wita.
Keputusan ini diambil berdasarkan permintaan keluarga korban serta pihak manajemen perusahaan tempat korban bekerja.
"Atas permintaan keluarga dan perusahaan, pencarian resmi kami hentikan hari ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu, mulai dari relawan, TNI, Polri, hingga masyarakat," kata Marwansyah.
SERANG REMAJA
Baca Juga: Dalam Kurun Waktu Berdekatan, Ada Tiga Kasus Terkaman Buaya di Kalimantan
Sebelumnya, pada 1 April 2025, seorang remaja berusia 13 tahun, warga Desa Pulau Rantau, Kecamatan Tanah Grogot, Kabupaten Paser, tewas diduga diterkam buaya.
Jasad korban baru ditemukan tiga hari setelah hilang, yaitu pada Kamis, 3 April 2025.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Paser Ruslan menyampaikan, dari laporan timnya di lapangan, kejadian bermula saat korban bersama kakaknya atau saksi sedang mengeringkan genangan air di perahu yang berada di pinggir sungai di belakang rumah mereka.
Mereka berdua menguras air dalam posisi perahu tenggelam bagian belakang, serta saling membelakangi saat menguras.
Selesai menguras, kakak korban naik duluan ke jembatan.
"Setelah naik jembatan, saksi mendengar suara jatuh, kemudian menoleh ke belakang dan korban sudah tidak ada di perahu," kata Ruslan.
Dugaan kuat korban diterkam buaya hingga tenggelam. Sebab, saat ditemukan pada Kamis, April, pukul 06.00 Wita, korban sudah tidak bernyawa.
Kondisi tubuh korban ada bekas luka gigitan binatang buas di bagian kepala, di bawah hidung, dagu, punggung, dan lainnya.
SERANGAN BUAYA DI KABUPATEN BERAU
Sehari setelah kejadian di Paser, di lokasi berbeda, yakni di Kabupaten Berau, Kaltim, pada Jumat, 4 April 2025, pukul 10.30 Wita, Kantor Pencarian dan Pertolongan Balikpapan menerima informasi dari Polair Berau bahwa pada Rabu 2 April pukul 07.00 Wita, ada seorang anak diduga diterkam buaya di perairan Sungai Maya, Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Provinsi Kaltim.
Korban berusia 10 tahun, bersama saudaranya berusia 9 tahun, sebelum kejadian berenang di belakang pondok yang berada di area tambak ikan.
Kemudian pada pukul 07.30 Wita, saksi yang juga paman korban melihat seekor buaya mendekat ke arah korban berenang.
"Saksi berteriak agar korban naik namun korban belum sempat untuk naik ke daratan korban diterkam dan diseret buaya lalu menghilang," kata Endrow Sasmita, Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor SAR Balikpapan.
Hingga hari kelima pencarian pada Minggu (6/4/2025), di Sungai Maya, Kampung Kasai, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, Kaltim, belum membuahkan hasil.
HILANG SAAT MANDI
Pada Jumat (4/4/2025), seorang warga, Sa (35), di Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), dilaporkan hilang sekitar pukul 08.30 WIB.
Korban baru ditemukan keesokan harinya, Sabtu (5/4/2025) sekitar pukul 14.30 WIB, dengan kondisi sudah tak bernyawa dan mengapung sekitar 1,2 kilometer dari posisi awal ketika ia disambar hewan predator tersebut.
Saat ditemukan, jasad korban terbilang masih utuh dan tidak ditemukan bagian tubuhnya yang hilang atau dimakan buaya yang menyambarnya.
Berdasarkan kronologis kejadian, Sa (35), diterkam buaya saat sedang mandi di lanting tepi Sungai Mentaya Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut.
Ketika itu kondisi perairan menuju pasang, dan ia berada di sekitar sungai bersama anak dan istrinya.
SERANG BOCAH DI KUTAI TIMUR
Serangan buaya juga terjadi di Desa Sepaso Selatan, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kaltim, Selasa (8/4/2025).
Seorang bocah berusia 8 tahun tewas diterkam buaya berukuran 3 meter.
"Korban (terkaman buaya) merupakan anak-anak berusia delapan tahun," ucap Kapolsek Bengalon AKP Mohamad Yazid dilansir detikKalimantan, Rabu (9/4/2025).
Dari informasi yang dihimpun, korban sebelum kejadian ingin mengambil bola di pinggir kanal.
Saat di pinggir kanal hendak mengambil bola, kaki korban diterkam buaya.
Baca Juga: Buaya Muara Mati Setelah Ditangkap Warga, BPSPL Pontianak Selidiki Penyebabnya
Kakak korban yang melihat hal itu sempat berupaya menolong dengan menarik tangan korban. Namun lantaran tidak kuat, korban pun kemudian ditarik buaya ke dalam air.
Kakak korban lantas berteriak meminta pertolongan. Beberapa warga yang berada di lokasi langsung melakukan pencarian terhadap korban.
Yazid menerangkan, beberapa jam pencarian warga pun berhasil menangkap buaya tersebut. Namun saat perut buaya tersebut dibelah jasad korban tidak ditemukan.
Pencarian terhadap korban terus dilanjutkan. Korban ditemukan di kanal sekitar pukul 19.22 Wita pada hari yang sama, dengan kondisi meninggal dunia. (far)