
Catatan: Irianto Lambrie
(Gubernur Kalimantan Utara/Kaltara 2016-2021)
PROKAL.CO, PERTH-Alhamdulillah, pada Jum'at, 9 Januari 2026, bersama anak bungsu saya, Arkanata Akram, berkesempatan Salat Jumat di Perth Mosque (Masjid Perth), yang menurut prasastinya dibangun pada 1905.
Saya saat ini berada di Perth untuk mengantar Akram untuk melanjutkan pendidikanya di program PhD (S-3) Chemical Engineering, Energy and Mining Department, Curtin University, Perth-Western, Australia.
Salat Jumat di masjid ini mengikuti Mazhab Imam Hanafi.
Masjid itu berkapasitas maksimal sekitar 700 jamaah, termasuk jamaah perempuan.
Yang cukup menarik, meskipun sandal dan sepatu para jamaah ditempatkan di tangga masjid yang terbuka (termasuk sepatu saya dan Arkanata Akram), ternyata sangat aman dan selama ini tidak pernah terdengar ada yang kehilangan alas kaki.
Jamaah masjid ini berasal dari berbagai ras dan bangsa.
Ada Pakistan, India, Turki, dan negara-negara di Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara termasuk Indonesia, Afrika Utara, Australia sendiri, serta dari Eropa.
Masjid Perth terletak di Brisbane Street, bagian Utara Kota Perth.
Di sepanjang jalan ini banyak terdapat restoran masakan Asia (termasuk Indonesia), dan banyak yang menjual makanan halal.
Setelah Jumatan, kami pun memilih makan siang di Restoran Indonesia Raja Gurih, dengan tulisan Halal Food.

Dari referensi yang saya dapat, Islam sudah menyebar di Australia Barat Daya/Western lebih dari 120 tahun yang lalu.
Pembawa Islam pertama ke Western Australia adalah nelayan dan pedagang Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Mereka tiba di pesisir utara Australia Barat, Australia Utara, dan Queensland pada abad ke-16 dan ke-17, jauh sebelum bangsa kulit putih datang ke benua itu.
Nelayan Makassar ini berdagang dengan suku Aborigin dan mencari teripang, yang bernilai ekonomis tinggi.
Mereka juga menyebarkan Islam kepada penduduk asli melalui perkawinan dan interaksi sehari-hari. (far)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



