Tapi korban menolak permintaan maaf itu. Hingga korban mengajak duel di Jalan Gubernur Subarjo.
Setiba di lokasi, tepatnya di Jembatan Basirih, pelaku tidak menemukan lawan seterunya.
Dia lalu pulang ke Kuin Cerucuk, memarkir truknya, dan mengambil belati sepanjang 23 sentimeter di indekosnya.
"Pelaku mendatangi korban di TKP yang berjarak 200 meter dari indekosnya. Tanpa basa-basi, pelaku menusukkan pisau sebanyak tujuh kali ke tubuh korban," terang Aris.
Luka tusuk di belakang kepala, dada kanan, perut kiri, dan lengan kiri. Korban pada akhirnya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Setelah korban ambruk, pelaku bergegas melarikan diri ke HSS dengan menumpangi mobil travel.
Lalu, apa pokok masalahnya? Arm mengatakan, Agustian kerap mengejek nama daerah kelahirannya. Itu menyinggung perasaannya.
"Saya sudah coba meminta maaf, tapi malah semakin menjadi-jadi dan menantang duel. Dia mengaku jagoan, tapi saya datangi malah tidak muncul. Kesabaran saya habis," akunya. "Hati saya terlanjur panas. Saya serang dia di tempat biasa mangkal," lanjutnya.
Armando mengaku menyesal. Tapi nasi sudah menjadi bubur. "Saya menyesal, mengakui perbuatan ini, dan berharap permohonan maaf saya bisa diterima keluarga korban," ujarnya.
Penyidik menjerat tersangka dengan Pasal 340 sub 338 KUHP tentang pembunuhan berencana.
"Dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup," tutup kapolsek. (*)