Antisipasi Warga Terserang ISPA,Ingatkan Puskesmas Makroman dan Palaran Berikan Pelayanan Maksimal

SAMARINDA – Di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menjaga kesehatan pernapasan menjadi perhatian penting bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengimbau warga menggunakan masker dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi lingkungan, sementara pelayanan kesehatan di wilayah terdampak dipastikan tetap berjalan.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasi, mengatakan penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama ketika kondisi lingkungan terdampak karhutla masih perlu diwaspadai.
“Kami mengimbau masyarakat agar menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, khususnya apabila kondisi udara di lingkungan sekitar terganggu oleh asap. Upaya pencegahan perlu dilakukan untuk membantu melindungi kesehatan pernapasan,” Ungkapnya kepada awak media. Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu persoalan kesehatan yang terus dipantau Dinkes Samarinda. Data yang diperoleh menunjukkan kelompok usia produktif termasuk kelompok dengan jumlah kasus yang besar. Kondisi tersebut perlu dilihat dengan mempertimbangkan aktivitas sehari-hari dan komposisi penduduk.
“Kelompok usia produktif menjadi salah satu kelompok dengan jumlah kasus yang besar. Aktivitas mereka cukup tinggi, termasuk bekerja dan melakukan berbagai kegiatan di luar rumah,” Ucap Ismed.
Lebih lanjut, Ismed menjelaskan, tingginya aktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan frekuensi seseorang berinteraksi dengan kondisi lingkungan. Selain pekerja, pelajar juga menjalani kegiatan sehari-hari yang membuat mereka beraktivitas di luar rumah.
Karena itu, perhatian terhadap kondisi udara dan langkah perlindungan diri perlu menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.
Meski demikian, Ia mengingatkan bahwa besarnya jumlah kasus ISPA pada kelompok usia tertentu tidak serta-merta membuktikan seluruh kasus disebabkan oleh paparan asap karhutla. Penilaian terhadap penyebab penyakit perlu didasarkan pada informasi klinis dan data yang relevan.
“Data kasus ISPA perlu dibaca secara cermat. Tidak semua kasus bisa langsung dikaitkan dengan karhutla karena gangguan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor,” Jelas Ismed.
Selain itu, Ismed juga menyampaikan bahwa kondisi ISPA di Samarinda disebut relatif lebih rendah dibandingkan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




