BALIKPAPAN-Meski belum mendeteksi adanya kasus hepatitis akut di Balikpapan, masyarakat diminta tetap waspada namun tidak panik dan menerapkan pola hidup bersih. Mulai dari menjaga higienitas makanan dan minuman serta membiasakan diri mencuci tangan sebelum makan.
“Persebaran penyakit akut ini (hepatitis) memang lewat saluran cerna. Jadi kami mengimbau masyarakat agar lebih memerhatikan kebersihan makanan dan selalu mencuti tangan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Andi Sri Juliarty, Sabtu (7/5).
Sebagai langkah antisipasi, DKK Balikpapan, lanjut Dio sudah meminta seluruh fasilitas kesehatan untuk siaga dan waspada terhadap adanya kemungkinan persebaran hepatitis akut ini di Kota Beriman.
“Kami sudah sosialisasi ke seluruh fasilitas kesehatan kota, terutama mempersiapkan lab untuk pemeriksaan pada pasien dengan gejala hepatitis akut,” kata perempuan yang akrab disapa Dio ini.
Meski belum diketahui penyebabnya, Dio menyebut, gejala yang dialami pada anak yang mengalami hepatitis akut mirip dengan hepatitis yang sudah ada seperti demam, gangguan cerna mulai mual, muntah dan diare.
Selain itu, pasien akan mengalami perubahan warna kulit dan selaput mata menjadi kuning. Kondisi makin parah biasanya ditandai dengan perubahan warna air seni menjadi gelap seperti teh.
“Jenisnya memang belum diketahui, tapi berbeda dengan Hepatitis A, B dan C. penyakit ini juga menyerang anak-anak di bawah usia 17 tahun,” katanya.
Diberitakan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus Hepatitis Akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia, dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.
Kewaspadaan tersebut meningkat setelah tiga pasien anak yang dirawat di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta dengan dugaan Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya meninggal dunia, dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022.
Ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat.
Gejala yang ditemukan pada pasien-pasien ini adalah mual, muntah, diare berat, demam, kuning, kejang dan penurunan kesadaran.
Saat ini, Kementerian Kesehatan RI sedang berupaya untuk melakukan investigasi penyebab kejadian hepatitis akut ini melalui pemeriksaan panel virus secara lengkap. Dinas kesehatan Provinsi DKI Jakarta sedang melakukan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut.
Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan terkait hepatitis akut misterius ini terus bertambah, tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara.
WHO pertama kali menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute Hepatitis of Unknown aetiology ) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.
Kisaran kasus terjadi pada anak usia 1 bulan sampai dengan 16 tahun. Tujuh belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice (Penyakit Kuning) akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.
Penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium diluar negeri telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut. Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus dil luar negeri yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus. (hul)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan