SAFARI RELIGI. Kapolda Kaltim Irjen Pol Muktiono di sela-sela agenda silaturahmi di Samarinda, menyempatkan salat ashar berjamaah di Masjid Shiratal Mustaqiem, Samarinda. (foto:Baim/KP)
SAMARINDA-Masjid Shiratal Mustaqiem adalah masjid tertua di Samarinda. Lokasinya berada di Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang itu dibangun 1881 ini.
Kapolda Kaltim Irjen Pol Muktiono menyempatkan datang. Takjub melihat bangunan tuanya.
Kedatangannya dilakukan setelah selesai beri pengarahan jajaran Polresta Samarinda, Jumat (6/12).
Dia pun menyempatkan salat Ashar berjamaah bersama warga dan pengurus masjid. Masjid ini pernah pula menjadi pemenang ke-2 Festival masjid-masjid bersejarah di Indonesia pada 2003.
Ada langgar Al Washielah di Jalan Pangeran Bendahara, Kecamatan Samarinda Seberang, didirikan pada 1837. Terhelat 44 tahun lebih tua daripada Masjid Shiratal Mustaqim yang berjarak kurang lebih 100 meter pada jalan yang sama.
Langgar tersebut didirikan Habib Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Asseggaff, orang yang juga memprakarsai berdirinya Masjid Shiratal Mustaqim pada 1881 silam. Hingga kini, dia dikenal dengan nama Pangeran Bendahara.
Setelah bermukimnya Pangeran Bendahara di sana, kebutuhan rumah ibadah juga menjadi prioritasnya. Walhasil, bersama beberapa pendatang yang bermukim, ia mendirikan langgar berbahan kayu ulin tersebut. Bahkan, Langgar Al Washielah merupakan cikal bakal dibangunnya Masjid Shiratal Mustaqim.
Selain bersilaturahmi dengan instansi terkait serta tokoh agama, adat, masyarakat di Samarinda, kapolda diampingi sejumlah pejabat utamanya safari religi. “Ini sekalian melihat masjid tua,” kata Muktiono.
Diketahui, bangunan sebagian besar dinding masjid dilapisi cat kuning, ditambah aksen warna hijau sebagai pemanis.
Lebih 100 tahun berdiri, bangunan utama sudah beberapa kali mengalami pemugaran. Beberapa sisi masjid sudah mengalami peremajaan. Sebagian lagi tetap dijaga keasliannya oleh pemerintah.
Masjid ini juga menyimpan aset tak kalah tuanya. Yakni Alquran yang konon berusia 400 tahun. Diletakkan di etalase kaca, kitab suci itu tampak lusuh termakan usia. Terlihat dari warna kertas yang sudah menguning. Di tepinya bahkan sudah tampak rontok.
Menariknya, di dalam masjid terdapat kitab Alquran yang berumur lebih tua daripada bangunan itu, sekitar 400 tahun. Alquran hasil karya tulis tangan itu diketahui adalah warisan lintasgenerasi. “Generasi terakhir khawatir, pada masa depan, warisan itu tidak terawat, makanya diwakafkan ke masjid,” ucap dia. (pro/one)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan