BALIKPAPAN - Riset terbaru dari gabungan peneliti Inggris dan Indonesia mencatat bukti keberadaan sejumlah longsor bawah laut yang berada di Selat Makassar. Tim peneliti menyebutkan, jika aktivitas longsor itu terjadi, akan memicunya tsunami di Teluk Balikpapan.
Kepala Stasiun Geofisika Balikpapan Mudjianto mengatakan, dalam peta rawan tsunami, Selat Makassar memang masuk zona rawan. Namun, jika terjadi longsor dasar laut, harus ada penyebabnya karena tidak serta merta terjadi begitu saja.
"Sama halnya tsunami di Teluk Palu akhir tahun lalu, gempa bumi berkekuatan besar Mag.7.4 SR didarat dan terjadi longsor di tebing dasar laut Teluk Palu. Maka dari itu longsor di laut harus ada pembangkitnya juga terutama gempa bumi tektonik bersekala kuat kedalaman dangkal diatas 5 SR," jelasnya.
Selain itu dijelaskan, bahwa gempa bumi kuat di atas 7.0 SR berpusat di laut dengan kedalaman sumbernya dangkal 0-70 KM, dan terjadi di dasar samudra atau kerak samudra. Salah satu blok turun atau naik utamanya di daerah subduction (bidang penyusupan).
"Hal ini di Selat Makasar yg berhubungan dengan teluk Balikpapan tidak ditemukan kecuali di bagian Utara Sulawesi atau di laut Sulawesi," bebernya.
Tambahnya, tsunami bisa terjadi di Selat Makassar, baik pantai Barat Sulawesi atau pantai Timur Kalimantan akibat gempa tektonik dan bisa akibat longsoran dasar laut. Potensi itu ada tetapi untuk waktu tidak dapat diprediksi.
"Tidak dapat di prediksi kapan terjadinya. Potensialnya tsunami ada di zona merah mulai dari selatan sampai Utara pesisir pulai Kalimantan. Tetapi jika terjadi gempa berpotensi tsunami, maka BMKG akan memberikan peringatan dini tsunami atau warning tsunami," tutur dia.
Mudjianto menerangkan, selama tidak ada peringatan dini tsunami BMKG maka tidak ada potensi tsunami. Jadi masyarakat diimbau untuk tetap tenang.
"Ini sebagai acuan informasi resmi dari BMKG untuk Indonesia," tandasnya. (rin/pro)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan