Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Megawati Hangestri Pertiwi, Bintang Voli Putri Indonesia, Memburu Impian Main di Eropa

izak-Indra Zakaria • 2023-02-10 10:44:17
Photo
Photo

Diperebutkan dua klub besar di usia 14 tahun dan masuk timnas tiga tahun berselang, Megawati Hangestri Pertiwi melengkapinya dengan sederet gelar bersama klub serta individu. Kalau bisa ke Eropa, dia ingin menjajal Liga Turki dulu.

 

 

RIZKA PERDANA PUTRA, Gresik

 

 

MASHUDI bersikukuh dengan pendapatnya: siswi 14 tahun itu harus masuk tim Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Jawa Timur (Jatim). Para pelatih lain yang ikut menyeleksi tak sependapat. Tapi, di mata pelatih bola voli kawakan tersebut, pelajar asal Jember itu punya segala syarat untuk berkembang.

”Saya bilang waktu itu, ini anak bisa jadi pemain voli, bahkan bukan hanya pemain, tapi bisa jadi ’gorilanya’ voli di (posisi) depan," kata Mashudi kepada Jawa Pos.

Anak yang dia maksud adalah Megawati Hangestri Pertiwi. Pada 2013 itu, Mega, sapaan akrabnya, akhirnya memang masuk skuad O2SN Jatim yang tampil di Kalimantan Timur. Dan, keyakinan Mashudi terbukti.

Meski Jatim tak juara, penampilan apik Mega yang kala itu kelas II SMP membuat dua klub besar, Surabaya Bank Jatim dan Gresik Petrokimia, memperebutkannya. Padahal, voli sebenarnya baru dia geluti secara serius pada usia 11 tahun.

Keyakinan Mashudi kepada Mega karena baru kelas II SMP, posturnya sudah menjulang. ”Selain itu, kalau dalam bahasa sekolah olahraga, ada panjang tungkai. Mega memenuhi itu. Anak ini bisa, saya punya feeling begitu," ungkapnya.

O2SN adalah pintu pembuka kesuksesan. Pada SEA Games 2017, di usia yang masih 17 tahun, Mega yang berposisi outside hitter tak cuma terpilih masuk skuad. Tapi juga jadi andalan tim asuhan Risco Herlambang. Pemain setinggi 183 cm itu benar-benar jadi ”gorila” untuk urusan serangan. Bersama Aprilia Manganang, Mega menjadi pengumpul poin terbanyak bagi skuad Merah Putih.

Mega tumbuh bersama Surabaya Bank Jatim. Pilihan klub itu dia ambil sendiri, tanpa campur tangan siapa pun, termasuk sang ayah, Maksum. ”Hati ini kan nggak semua orang tahu. Mungkin rezeki setiap orang beda-beda, tapi aku pilihannya Bank Jatim," kata pemain 22 tahun itu di sela-sela kompetisi Proliga 2023 di GOR Tri Dharma, Gresik, Sabtu (4/2) pekan lalu.

Di Bank Jatim, Mega digembleng langsung oleh Mashudi, pelatih yang terkenal dengan metode kerasnya di dalam lapangan. Eks pelatih Samator tersebut tidak segan memberikan menu latihan fisik yang berat kepada anak didiknya.

Meski begitu, Mega, menurut Mashudi, termasuk salah satu pemain yang cukup bisa menerima metode kepelatihan darinya. ”Kalau ada beberapa anak lain sampai nangis mbrebes mili, Mega paling cuma nggondok (ngambek)," cerita Mashudi.

Satu hal yang justru sempat membuat Mega down bukanlah metode keras di dalam latihan, melainkan cedera. Saat awal bergabung dengan Bank Jatim, dia sempat bermasalah dengan bahu. Padahal, kekuatan spike yang bertumpu pada bahu merupakan salah satu andalan pemain kelahiran 20 September 1999 itu di dalam lapangan. ”Sakit bahu rasanya seperti nggak bisa voli lagi. Patah semangat nggak bisa smes," ungkap Mega.

Di tengah kondisi sulit seperti itu, Mega selalu berusaha mengingat kedua orang tuanya. Di usia muda dia sudah rela merantau cukup jauh dari Jember ke Surabaya demi membahagiakan ayah dan ibu. Dan, dengan segera semangatnya bangkit lagi.

Setelah berhasil menembus tim nasional di usia 17 tahun, Mega meraup sederet prestasi. Dia turut mengantarkan Bank Jatim, klub yang dia bela sejak usia 14 tahun, juara Livoli selama empat musim beruntun (2017, 2018, 2019, dan 2022). Di penyelenggaraan Livoli terakhir, dia menyabet gelar individu tertinggi: Pemain Masa Depan Livoli 2022.

Selain itu, di tahun yang sama, Mega menyabet penghargaan individu Best Server Proliga 2022 ketika membela Jakarta Pertamina Fastron. Di Proliga tahun ini, dia juga membela tim yang sama.

Penampilan apiknya di dalam negeri membuat tawaran dari luar mengalir. Pada 2021 Mega bergabung dengan klub Thailand Supreme Chonburi-E Tech. Mega juga sempat bermain di klub Vietnam Ha Phu Thanh Hoa setelah kompetisi Proliga 2022 selesai.

Menurut Mashudi, semua prestasi Mega itu didapat bukan hanya karena bakat, tetapi juga kerja keras. Selama hampir lima tahun menangani dari 2013 hingga 2017, dia tahu Mega adalah sosok yang disiplin. ”Dia selalu menjaga kondisinya. Istirahatnya bagus sekali," bebernya.

Selain itu, Mega rendah hati. Mau terus belajar dan bisa jadi panutan bagi para pemain yang lebih junior. ”Dia enjoy, menikmati permainan, itu yang mungkin membedakan Mega (dari pemain lain, Red)," kata Mashudi.

Penilaian senada dilontarkan Loudry Maspaitella. Manajer timnas voli Indonesia di SEA Games 2021 di Hanoi, Vietnam, tahun lalu itu menilai Mega tidak hanya baik di dalam lapangan, tetapi juga di luar.

”Aku simpatik dengan pemain bukan hanya yang teknisnya baik, tapi karakternya juga baik. Seorang Mega punya itu, perilaku baik, komunikasi baik, anaknya rendah hati. Itu yang membuat aku (berpikir, Red): wah ini memang calon bintang voli Indonesia," papar Loudry kepada Jawa Pos.

Loudry, setter legendaris Indonesia, juga menyebut Mega sebagai opposite hitter terbaik di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara saat ini. Salah satu buktinya, menurut dia, adalah tawaran untuk bermain di Thailand, yang punya salah satu liga putri berkualitas di Asia.

Thailand dan Vietnam sudah dirambah, kini Mega menyimpan mimpi yang lebih tinggi lagi: main di Eropa. ”Kalau bisa ke Eropa, ke Turki dulu lah. Di sana pemain bagus-bagus dan tinggi-tinggi, ada tantangan lebih," kata Mega. ”Sekalian jalan-jalan juga hehehe," imbuhnya. (*/c9/ttg)

Editor : izak-Indra Zakaria