JAKARTA--Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim secara resmi melakukan pelepasan terhadap 21.045 mahasiswa yang siap belajar sambil berdampak dalam Program Kampus Mengajar Angkatan 5 secara virtual dan serentak di 34 provinsi seluruh Indonesia, Jumat (17/2). Melalui program ini, mahasiswa disiapkan menjadi agen perubahan perubahan pendidikan di Indonesi dan mampu mengasah keterampilan hard skills dan soft skills.
“Selain mengenal lebih dekat kehidupan nyata di luar gedung kuliah, saya bisa menjamin bahwa dengan mengikuti Kampus Mengajar, adik-adik akan mendapatkan banyak pelajaran yang merupakan bekal berharga untuk kehidupan di masa depan. Seperti misalnya kemampuan leadership, komunikasi, problem solving, juga kemampuan berkolaborasi, dan masih banyak soft skills lain yang tidak akan didapatkan di dalam kelas,” jelas Menteri Nadiem di Jakarta, pada Jumat (17/2).
Plt. Dirjen Dikti, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek),Nizam menjelaskan, program Kampus Mengajar yang kini sudah memasuki angkatan ke-5 juga sudah menunjukkan hasil yang signifikan dalam pelaksanaan angkatan-angkatan sebelumnya. Utamanya terkait literasi dan numerasi di jenjang yang memang menjadi sasaran utama.
"Keberhasilan ini tentu berkat kerja keras para guru dan juga kehadiran mahasiswa peserta Kampus Mengajar. Di dalam program Kampus Mengahar 5 ini tentunya semakin dirancang dan ditingkatkan dari sisi pembekalan maupun kualitas program di sekolah dengan dukungan dosen dan dinas pendidikan setempat," ujar Nizam.
Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (PAUDikdasmen), Iwan Syahril menambahkan, saat ini pendidikan di Indonesia masih menyisakan persoalan yang mendasar yakni krisis pembelajaran yang kemudian diperparah dengan adanya pandemi. Oleh sebab itu, pelaksanaan Kampus Mengajar ini menjadi salah satu solusi untuk mengakselerasi pemulihan pembelajaran siswa pasca pandemi.
"Dengan fokus pada peningkatan literasi dan numerasi, mahasiswa Kampus Mengajar menjadi mitra untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang sesuai kebutuhan di setiap sekolah. Selain literasi dan numerasi, program ini juga fokus dalam pengembangan kompetensi diri mahasiswa sesuai minat bakat, dan mengasah keterampilan soft skills," tuturnya.
Masih di dalam acara tersebut, secara virtual Siti Masita Ali, mahasiswi Universitas Negeri Gorontalo program studi Pendidikan Sekolah Dasar yang merupakan salah satu alumni mahasiswa peserta Kampus Mengajar angkatan ke-4 mengungkapkan bahwa dengan mengikuti program ini banyak hal yang didapat. Tidak hanya dari sisi pengalaman saja, melainkan juga banyaknya pembelajaran yang diperoleh usai menjalani program Kampus Mengajar selama hampir satu semester.
"Awal mula mendaftar pesimis untuk lolos. Karena banyak teman-teman yang kapasitas kemampuannya lebih dari saya. Namun Alhamdulillah saya ikut lolos dalam ribuang orang yang mendaftar dalam program ini.
Setelah mengikuti pembekalan, banyak ilmu juga yang saya dapat dari aplikasi Merdeka Belajar dan Kurikulum Merdeka. Pengalaman menarik di sekolah selama 5 bulan adalah beradaptasi dengan siswa dan guru-guru. Koordinasi dengan sekolah Alhamdulillah cukup mudah meskipun tetap ada sedikit kendala di lapangan," katanya.
Dalam program kerjanya, Siti Masita mengungkapkan bahwa masih banyak siswa yang tingkat literasi dan numerasinya masih jauh di bawah rata-rata. Apalagi siswa kelas 4,5, dan 6 SD.
"Program kerja yang kami tawarkan ke sekolah lebih fokus pada literasi dan numerasi. Kami juga menerapkan program calistung 3 kali dalam semingguu untuk kelas 3,4, dan 5. Tetapi kami hanya memilih siswa yang memiliki tingkat literasi dan numerasinya yang rendah. Itu kami golongkan setiap siswa sesuai tingkat kemampuannya," pungkasnya. (*/cha/pro25)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan