BALIKPAPAN – Layanan transportasi publik andalan warga Kota Beriman, Balikpapan City Trans (BCT), kini tengah menghadapi ujian berat. Lonjakan tajam harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Dexlite yang terjadi secara nasional sejak 18 April lalu mulai memberikan tekanan hebat pada biaya operasional armada bus kebanggaan masyarakat Balikpapan tersebut.
Kenaikan harga yang sangat drastis—dari kisaran Rp14.200 menjadi Rp23.600 hingga Rp24.150 per liter—membuat beban anggaran harian membengkak hampir dua kali lipat. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Kalimantan Timur, mengingat skema pembiayaan operasional BCT telah disusun jauh sebelum badai kenaikan harga BBM diesel nonsubsidi ini melanda.
Kepala BPTD Kelas II Kaltim, Renhard Ronald, mengakui bahwa lonjakan tersebut sangat signifikan dan di luar prediksi awal. "Secara operasional tentu sangat terdampak. Kenaikannya di atas Rp24 ribu per liter, ini menjadi beban tambahan yang cukup besar bagi anggaran yang tersedia," ujar Renhard pada Rabu (29/4).
Meski tengah dihimpit biaya operasional yang "meledak", pihak BPTD memastikan bahwa untuk saat ini layanan BCT masih tetap berjalan normal. Belum ada pengurangan frekuensi keberangkatan maupun perubahan jarak antarbus (headway). Keputusan ini diambil demi menjaga kepercayaan masyarakat yang mulai beralih menggunakan transportasi publik untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi.
"Untuk sementara, anggaran yang tersedia masih mampu menopang layanan agar tetap prima. Kami tidak ingin pengguna yang sudah percaya pada transportasi umum merasa dirugikan," tegasnya.
Namun, napas panjang operasional BCT ini bukan tanpa batas. Renhard memberikan sinyal bahwa jika tren harga Dexlite tidak kunjung melandai dalam beberapa bulan ke depan, evaluasi besar-besaran akan dilakukan pada penghujung tahun. Skenario penyesuaian layanan, mulai dari efisiensi rute hingga pengaturan ulang strategi pengelolaan, kemungkinan besar akan diambil agar operasional BCT tetap bisa bertahan secara berkelanjutan.
Kini, keberlanjutan Balikpapan City Trans bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menyeimbangkan antara efisiensi anggaran dan komitmen pelayanan publik di tengah ketidakpastian harga energi global. Penumpang pun berharap agar kualitas layanan tetap terjaga, meski bayang-bayang penyesuaian mulai mengintai di akhir tahun nanti. (*)
Editor : Indra Zakaria