Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Makin Sulit Punya rumah di Balikpapan, Harga Melambung Tinggi saat Daya Beli Sedang Menguji

Redaksi Prokal • Selasa, 2 Juni 2026 | 10:10 WIB
Harga rumah baru di Balikpapan tercatat naik pada triwulan I 2026, sementara penjualan hunian mengalami penurunan.
Harga rumah baru di Balikpapan tercatat naik pada triwulan I 2026, sementara penjualan hunian mengalami penurunan.

BALIKPAPAN – Wajah pasar properti di Kota Balikpapan pada awal tahun 2026 ini menampilkan sebuah anomali yang cukup unik. Di satu sisi, para pengembang terus mengatrol harga rumah baru menjadi lebih mahal, namun di sisi lain, minat beli masyarakat justru terjun bebas ke titik terendah. Fenomena kontras ini terekam jelas dalam Survei Harga Properti Residensial (SHPR) teranyar yang dirilis oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan. Meski transaksi penjualan sedang lesu dan mengalami kontraksi tajam, grafik harga rumah dari seluruh tipe—baik kecil, menengah, hingga mewah—justru kompak merangkak naik secara agresif.

Berdasarkan data indikator keuangan per triwulan I 2026, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di Kota Minyak ini melonjak di angka 107,67 atau tumbuh sebesar 1,44 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laju kenaikan ini terasa jauh lebih tinggi dan melompat signifikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal sebelumnya yang hanya tertahan di angka 0,43 persen. Rumah dengan ukuran tipe besar menjadi unit yang mencatatkan lonjakan harga paling tinggi, yakni mencapai 2,93 persen, yang kemudian diikuti oleh rumah tipe kecil sebesar 1,85 persen serta rumah tipe menengah sebesar 0,38 persen.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, memaparkan bahwa keputusan para pengembang untuk mengerek label harga hunian baru ini sebenarnya dipicu oleh faktor tekanan ongkos produksi di lapangan yang kian membengkak.

"Peningkatan harga rumah baru terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bangunan dan biaya tenaga kerja yang mendorong sejumlah pengembang melakukan penyesuaian harga jual," jelas Robi.

Namun, kebijakan penyesuaian harga ini harus dibayar mahal dengan anjloknya volume penjualan secara drastis. Sepanjang tiga bulan pertama di tahun ini, tercatat hanya ada 72 unit rumah baru yang berhasil dilepas ke pasar, sebuah angka yang merosot tajam hingga 55,56 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang sanggup menembus 162 unit. Hantaman paling telak dirasakan oleh segmen rumah tipe kecil yang penjualannya merosot hampir 67 persen, meskipun ceruk pasar ini sejatinya masih menjadi penopang utama dengan kontribusi separuh dari total penjualan properti residensial.

Menurut analisis Bank Indonesia, melemahnya angka transaksi ini dipicu oleh pergeseran prioritas keuangan di tingkat rumah tangga, di mana masyarakat lebih memilih memfokuskan sisa anggarannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi Ramadan dan Idulfitri. Kenaikan harga rumah yang terjadi berturut-turut dalam beberapa waktu terakhir akhirnya membuat calon konsumen mengambil sikap waspada dan memilih untuk menunda komitmen pembelian aset jangka panjang mereka. Kendati kondisi pasar sedang tertekan, skema pembiayaan melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih menjadi tumpuan utama dengan mendominasi sekitar 71 persen dari total metode pembayaran yang dipilih konsumen.

Menariknya, pemandangan berbeda justru diperlihatkan oleh sektor properti komersial yang mulai mengendus aroma pemulihan setelah sempat terpuruk lama. Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) Balikpapan dilaporkan mulai membaik dengan hanya terkoreksi tipis sebesar 0,10 persen. Angka ini jauh lebih sehat ketimbang penyusutan pada kuartal lalu yang sempat anjlok sedalam 0,36 persen. Berdasarkan pantauan di lapangan, denyut nadi sektor komersial ini merangkak naik berkat kontribusi manis dari industri perhotelan yang kebanjiran okupansi akibat masifnya arus mobilitas pekerja proyek raksasa operasional Kilang Pertamina Balikpapan, proyek pembangunan tahap II Ibu Kota Nusantara (IKN), serta tingginya intensitas perjalanan dinas korporasi.

Melihat dinamika yang beragam tersebut, otoritas moneter daerah tetap optimistis bahwa prospek jangka menengah industri properti Balikpapan masih sangat menjanjikan dan memiliki peluang tumbuh yang lebar. Berlanjutnya agenda proyek strategis nasional, hilirisasi industri, serta sokongan kebijakan makroprudensial dari Bank Indonesia yang melonggarkan pembiayaan perumahan diharapkan mampu menjadi stimulus kuat untuk kembali merangsang minat beli masyarakat dan menjaga momentum kebangkitan sektor properti di masa depan.(*)

Editor : Indra Zakaria
#perumahan #balikpapan