Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Sisa 65 Ekor Penyu Bertahan di Balikpapan, Penyu Lekang Jadi Penguasa

Redaksi Prokal • Selasa, 9 Juni 2026 | 12:45 WIB
Tukik penyu lekang yang dilepas di Teluk Balikpapan, Senin (8/6/2026). (ARIF FADILLAH/ Balikpapan Pos)
Tukik penyu lekang yang dilepas di Teluk Balikpapan, Senin (8/6/2026). (ARIF FADILLAH/ Balikpapan Pos)

PROKAL.CO- Kondisi ekosistem perairan di Kota Minyak tampaknya masih menjadi rumah yang ramah bagi kelestarian satwa purba. Dinas Kelautan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Balikpapan mencatat sebanyak 65 ekor penyu dari tiga spesies dilindungi terpantau hidup dan berkembang biak dengan baik di sepanjang kawasan pesisir kota tersebut. Dari tiga spesies yang terdata, penyu lekang (Lepidochelys olivacea) secara mengejutkan tampil mendominasi populasi dan menjadi penguasa di lautan Balikpapan.

Pengawas Perikanan DKP3 Balikpapan, Hery Saputro, merincikan bahwa sebaran mamalia laut dilindungi ini terdiri dari tiga jenis, yakni penyu lekang, penyu hijau (Chelonia mydas), dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Namun, ketiganya memiliki ketimpangan jumlah populasi yang sangat mencolok akibat kondisi daya dukung lingkungan setempat.

“Dari tiga jenis penyu yang ada di Balikpapan, kami mencatat kurang lebih sekitar 65 ekor. Yang paling banyak itu penyu lekang. Penyu sisik hanya dua ekor, sedangkan penyu hijau sekitar tujuh hingga delapan ekor. Selebihnya merupakan penyu lekang,” urai Hery saat membeberkan data kuantitas satwa dilindungi tersebut.

Tingginya populasi penyu lekang mengindikasikan bahwa perairan Balikpapan masih menyediakan suplai makanan yang melimpah serta karakteristik pesisir yang ideal bagi siklus hidup mereka. Pihak DKP3 juga memetakan bahwa aktivitas peneluran penyu tidak lagi berpusat di satu titik konvensional saja. Hewan eksotis ini tercatat kerap naik ke daratan untuk meletakkan telur-telurnya di beberapa spot pantai, mulai dari Pantai Seraya, Pantai Manggar, hingga bentangan pasir di kawasan SPN Brimob.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyu memiliki insting alami yang sangat sensitif dalam memilih tempat bersarang. Mereka hanya akan mendatangi area pantai yang memiliki hamparan pasir putih yang lembut, bertekstur alami, serta jauh dari kebisingan atau polusi cahaya buatan yang ekstrem.

Kehadiran kawanan penyu ini sejatinya merupakan indikator biologis yang sahih mengenai tingkat kesehatan dan kebersihan ekosistem pesisir Balikpapan. Oleh sebab itu, DKP3 mewanti-wanti bahwa masifnya pembangunan infrastruktur pesisir yang mengabaikan amdal, pencemaran limbah laut, hingga perusakan bentang pantai secara serampangan bisa berakibat fatal berupa hilangnya zona peneluran satwa dilindungi ini di masa depan. Konservasi berbasis edukasi masyarakat dan pengetatan pengawasan kawasan pesisir kini menjadi harga mati agar Balikpapan tetap kokoh berdiri sebagai benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian penyu di Kalimantan Timur.(*)

Editor : Indra Zakaria
#balikpapan #penyu