PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Membaca seperti mengisi waduk.
Pengibaratan itu digunakan Syafruddin Pernyata saat berbicara di depan puluhan siswa dan mahasiswa dalam Workshop Kelas Motivasi dan Musikalisasi Literasi di Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Kota Balikpapan, Rabu (29/7/2026).
Workshop ini rangkaian roadshow literasi yang digelar di Kota Minyak, sebutan Balikpapan, oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip bersama Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB).
Sebelumnya, di tempat sama, dihelat Mendongeng bersama Bunda Literasi, Nurlena Rahmad Mas’ud, yang dihadiri sejumlah murid SD. Roadshow juga dirangkai dengan pelantikan pengurus GPMB Balikpapan Periode 2026-2030.
Saat workshop, Syafruddin Pernyata yang merupakan budayawan, penulis, dan pemerhati literasi di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), mengatakan membaca bagaikan mengisi waduk.
Perumpamaannya, waduk adalah otak manusia, jika tak diisi air akan kosong. Membaca sama dengan mengisi. Setiap buku yang dibaca akan menambah pengetahuan dan wawasan.
“Waduk adalah diri kita. Semakin banyak membaca semakin penuh pengetahuan. Sementara ilmu ibaratnya air yang mengalir. Pengetahuan yang tersimpan siap digunakan kapan saja. Ilmu yang mengalir itu memberi manfaat pada diri sendiri dan orang lain,” katanya.
Kata dia, sejarah membuktikan kecerdasan mudah diperoleh dengan membaca. Orang-orang hebat, macam penemu lampu pijar Thomas Edison, penemu listrik AC Nikola Tesla, hingga bapak fisika modern Isaac Newton adalah pembaca yang tekun.
“Mau cerdas ya harus membaca,” katanya.
Terkait media baca, dia juga menyinggung masih relevankah membaca buku cetak?
“Membaca buku cetak masih sangat relevan, justru akan saling melengkapi dengan perkembangan zaman saat ini, dengan hadirnya buku digital,” katanya.
Baca Juga: Ketua PP IPHI Ahmad Yani Basuki Sambut Positif Inisiasi Islah dari Wamenhaj
Dia mencontohkan perpaduan antara buku cetak dan kemajuan teknologi.
“Saya baca buku Madilog punya Tan Malaka, bukunya cukup sulit dipahami, membahas nabi, macam-macam. Nah, biar gampang saya masuk ChatGPT minta jelaskan apa maksud buku Madilog,” katanya.
“Tapi jangan jua (juga) terlalu percaya ChatGPT kadang ngeramput (sembarangan) jua,” katanya, tersenyum.
Dia melanjutkan, zaman sekarang, upaya meningkatkan literasi memang sangat menantang.
Salah satunya dengan semakin kuatnya keterikatan seseorang, seperti pelajar dan mahasiswa, dengan gadget.
Hal ini bukan salah. Namun, yang harus dimiliki seseorang adalah sikap bijak.
“Kita pakai HP (handphone) itu sama saja kaya kita pakai sepeda motor, kalau dipakai balapan liar dan berbuat jelek jadinya jelek, kalau dipakai untuk yang positif, misalnya mencari nafkah, ya bagus. Jadi harus bijak,” katanya.
Selain Syafruddin Pernyata, workshop juga diisi paparan dari Rahmad Azazi Rhomantoro, dosen dan aktivis seni di Kaltim.
Dia memaparkan materi literasi dipadu dengan permainan musik yang membuat suasana menjadi semakin segar.
Suasana workshop pun jadi semakin hidup dengan komunikasi yang interaktif, dipandu moderator Unis Sagena, dosen Ilmu Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda.
Road show literasi GPMB digelar di lima kabupaten dan kota di Kaltim. Dimulai dari Samarinda pada 27 Juli, dilanjutkan di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), sehari kemudian.
Di Balikpapan digelar pada 29 Juli 2026. Esoknya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dan hari terakhir di Kabupaten Paser.
LITERASI KELUARGA
Sebelumnya, ditemui usai mendampingi Bunda Literasi, Nurlena Rahmad Mas’ud, dalam agenda mendongeng di depan anak-anak SD, Kepala Dispusip Kota Balikpapan, Neny Dwi Winahyu, mengatakan pada 2026 pemerintah daerah memprioritaskan pengembangan literasi keluarga sebagai fondasi membangun minat baca sejak dini.
Kata dia, program literasi keluarga menyasar anak usia 0 hingga 18 tahun sesuai Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.
Setiap kelompok usia mendapatkan pendekatan yang berbeda agar penyampaian materi literasi lebih efektif.
"Untuk saat ini kami menyasar siswa sekolah dasar melalui program dongeng keliling. Selanjutnya akan dilanjutkan kepada siswa SMA melalui kegiatan literasi musik. Setiap segmen pendidikan memiliki pendekatan yang berbeda dalam memberikan edukasi literasi," ujarnya.
Selain kegiatan edukasi, Dispusip juga menjalankan Program Alibaba (Anak Literasi Kebanggaan Balikpapan) sebagai upaya memperluas akses literasi bagi anak-anak di Kota Balikpapan.
Melalui program tersebut, pemerintah menyediakan kemudahan akses membaca dalam dua bentuk, yakni layanan konvensional dan layanan digital.
Untuk layanan konvensional, masyarakat dapat memanfaatkan berbagai fasilitas perpustakaan yang telah tersedia, mulai dari Perpustakaan Kota Balikpapan, perpustakaan khusus di tujuh instansi pemerintah, perpustakaan sekolah, hingga perpustakaan yang berada di masjid.
Sementara itu, layanan digital dikembangkan melalui aplikasi iBalikpapan dan penyediaan pojok baca digital yang akan ditempatkan di sejumlah ruang publik, seperti Taman Tiga Generasi dan Taman Bekapai.
Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan kapan pun dan di mana pun. (kpfm/far)
Editor : Faroq Zamzami