PROKAL.CO– Suara dentuman keras yang disusul kepulan asap tebal membubung tinggi dari area PT Kertas Nusantara (ex Kiani Kertas) di Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, Rabu (29/7) pagi. Insiden yang terjadi sekitar pukul 10.00 WITA tersebut sempat memicu gelombang kepanikan di kalangan warga sekitar area perusahaan.
Menanggapi gejolak di masyarakat, manajemen PT Kertas Nusantara bergerak cepat memberikan klarifikasi. Perusahaan memastikan bahwa dentuman tersebut bukan berasal dari ledakan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) maupun cairan kimia berbahaya.
Humas PT Kertas Nusantara, Penny Isdhan Tommy, menjelaskan bahwa berdasarkan investigasi awal, titik ledakan berada di fasilitas penampungan sampah sementara milik perusahaan. Di lokasi tersebut, terdapat tumpukan sisa material batu kapur (limestone) bekas operasional.
"Dugaan sementara, batu kapur tersebut mengalami proses oksidasi atau bercampur dengan sisa limbah non-B3 lainnya. Namun, satu hal yang dapat kami tegaskan kepada masyarakat, ledakan ini bukan dipicu oleh limbah B3 ataupun cairan kimia berbahaya," ujar Penny dalam keterangannya, Jumat (31/7).
Penny menerangkan bahwa bangunan kayu yang terdampak dalam insiden tersebut merupakan bekas workshop tua yang sudah tidak terpakai untuk aktivitas operasional utama.
"Bangunan kayu tersebut saat ini hanya difungsikan sebagai tempat penyimpanan sementara sampah non-B3. Itu yang terbakar seperti yang terlihat dalam video yang beredar. Kami juga masih terus melakukan investigasi mendalam di lapangan," tambahnya.
Pihak manajemen memastikan tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Kerugian material yang dialami pun tergolong terbatas karena posisi bangunan berada di area terpisah dari fasilitas produksi utama. Meski demikian, pihak perusahaan berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh atas sistem tata kelola sampah di area operasional mereka agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.
"Meski sistem pemilahan sampah selama ini telah dijalankan sesuai prosedur, perusahaan tetap menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi. Kami akan memperketat tata kelola penanganan sisa material operasional," tegas Penny. Hingga saat ini, penyebab pasti serta pemicu utama reaksi material tersebut masih menunggu hasil investigasi resmi lanjutan dari tim terkait di lapangan. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co