Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kaltim Masih Seksi di Mata Investor

izak-Indra Zakaria • 2022-02-02 14:25:43
Perkebunan kelapa sawit masih jadi andalan.
Perkebunan kelapa sawit masih jadi andalan.

Iklim investasi di Kaltim tengah kondusif. Ini terlihat dari realisasi 2021 yang mampu melampaui target, dengan capaian Rp 41,18 triliun atau 126,58 persen dari target Rp 32,53 triliun.

 

SAMARINDA - Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltim Puguh Harjanto mengatakan, realisasi investasi sebesar Rp 41,18 triliun berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 30,3 triliun dengan 428 proyek. Sedangkan, nilai penanaman modal asing (PMA) Rp 10,88 triliun dengan 4.319 proyek.

Menurutnya, realisasi investasi yang melebihi target itu disebabkan beberapa faktor, di antaranya kesadaran atas pelaporan yang meningkat. Berkat beberapa langkah pengawalan laporan kegiatan penanaman modal (LKPM). Hampir 1.000 laporan tercatat perlu perbaikan sepanjang 2021 sehingga pihaknya memaksimalkan pelaksanaan pemantauan, monitoring dan pengendalian investasi ke kabupaten dan kota.

Selanjutnya, pelayanan perizinan berbasis online dengan pengawalan proyek investasi juga menjadi faktor penting setelah kemudahan sistem perizinan berbasis risiko. “Kedua faktor ini menjadi pendorong realisasi investasi hingga bisa melebihi target. Selain itu, kami terus mengoptimalkan pemetaan proyek di sektor baru yang siap ditawarkan kepada investor melalui forum investasi,” ujarnya, Senin (31/1).

Meskipun sudah melampaui target, capaian ini dinilai perlu ditingkatkan lagi mengingat momentum pemindahan ibu kota negara (IKN) Nusantara ke Kaltim dapat menjadi pemicu bagi akselerasi beberapa investasi, khususnya di sektor konstruksi.

Terpisah, Wakil Ketua Bidang Investasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Alexander Soemarno mengatakan, Kaltim saat ini masih seksi di mata investor. Selain adanya IKN, korelasi secara umum jelas kalau investor pasti akan mau menanamkan sahamnya pada suatu daerah yang jika dilihat angka neraca perdagangannya surplus.

“Semua investor pasti tertarik dengan daerah yang neraca perdagangannya surplus. Karena biasanya daerah dengan neraca perdagangan yang surplus, pasti punya masyarakat dengan ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan daerah yang neraca perdagangannya defisit,” katanya.

Sehingga, hal ini yang membuat investor mau menanamkan modalnya. Hanya, jika melihat data yang mengalami surplus itu merupakan komoditas mentah yang diekspor seperti batu-bara. Artinya baru sektor ini yang masih seksi di mata investor. Sehingga, pihaknya berharap investasi sektor ini diarahkan pada hilirisasi. Supaya memiliki dampak ekonomi yang lebih luas.

Tak hanya Kaltim, secara nasional kinerja investasi juga berhasil melampaui target. Realisasinya tembus 101 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp 900 triliun. “Realisasi investasi Januari-Desember 2021 kita mencapai Rp 901,2 triliun. Artinya, melampaui target dari perintah Bapak Presiden (Joko Widodo, Red) kepada kami yang sebesar Rp 900 triliun,” ungkap Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia.

Capaian itu juga melampaui target dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) yang ditetapkan sebesar Rp 864 triliun. Dengan begitu, realisasi investasi itu melebihi 104 persen dari target RPJMN.

Seiring dengan pencapaian tersebut, total tenaga kerja yang terserap sebanyak lebih dari 1,2 juta. “Ini tenaga kerja langsung. Kalau dari teori ekonominya, biasanya tiga sampai empat kali lipat. Jadi, kalau dikalikan tiga atau empat, itu bisa sampai 4 juta sampai 5 juta,” jelasnya.

Bahlil memerinci, dari capaian tersebut, PMA tercatat Rp 454 triliun (50,4 persen). Sementara itu, PMDN Rp 447 triliun (49,6 persen). “Kalau tren ini mampu kami pertahankan pada 2022, insyaallah Indonesia akan masuk pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan pendapatan per kapita akan bergeser,” jelas mantan ketum Hipmi itu.

Dari sisi lokasi, Jawa Barat tercatat menjadi provinsi dengan investasi masuk terbesar sepanjang 2021. Yakni, tercatat Rp 136,1 triliun. Disusul DKI Jakarta (Rp 103,7 triliun); Jatim (Rp 79,5 triliun); Banten (Rp 58 triliun); dan Riau (Rp 53 triliun).

Untuk kuartal IV 2021 saja, realisasi investasi yang masuk mencapai Rp 241,6 triliun. Naik 12,5 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020. Kemudian, tenaga kerja yang terserap mencapai 295 ribu orang atau naik 0,24 persen dibandingkan kuartal IV 2020. DKI Jakarta menjadi daerah dengan investasi masuk yang paling besar pada kuartal IV, yakni mencapai Rp 30,8 triliun.

Tercapainya investasi pada 2021 membuat Bahlil optimistis menghadapi target tahun ini. Pada 2022 pemerintah menetapkan target investasi sebesar Rp 1.200 triliun. Dia mengakui tidak mudah menghadapi target itu. Menurut dia, pandemi Covid-19 dan stabilitas politik dalam negeri harus bisa terjaga. Dengan didukung penerapan UU Ciptaker, Bahlil yakin target itu tercapai.

Bahlil menuturkan, ada beberapa strategi yang akan digunakan. Pertama, memaksimalkan potensi dari investasi yang sudah mendapatkan izin dan fasilitas insentif. “Kemarin saya katakan bahwa ada beberapa perusahaan yang sudah dapat insentif. Ada kurang lebih Rp 2.000 triliun. Ini akan jadi bagian terpenting yang menjadi skala prioritas kita,” katanya.

Kedua, pemerintah akan mendorong percepatan realisasi investasi sejumlah proyek yang sudah diluncurkan pada 2021. Pihaknya mendorong para pelaku usaha untuk melakukan konstruksi dan mempercepat schedule. “Contoh, bangun pabrik 36 bulan, kita majukan jadi 30 bulan. Ini berarti bisa mempercepat realisasi dan menaikkan angka realisasi,” imbuh Bahlil.

Strategi selanjutnya, Bahlil akan membentuk tim khusus untuk bisa menggaet para investor global agar masuk ke Indonesia. “Tim ini akan melakukan kerja untuk berkompetisi di beberapa negara di UEA, China (Tiongkok), Korea, Jepang, dan Amerika,” katanya.

Terpisah, ekonom Bhima Yudhistira memandang realisasi investasi 2022 masih mungkin tercapai. “Tapi, perlu effort. Tantangan makin kompleks karena IMF sendiri memproyeksikan pertumbuhan global menurun, dan akan memengaruhi investasi di negara berkembang,” ujarnya.

Menurut Bhima, perlu ada kewaspadaan pada kenaikan suku bunga acuan di negara maju. Sebab, itu juga membuat sebagian investor mengalihkan dana ke aset di negara maju. “Pandemi dengan merebaknya varian Omicron juga membuat proyeksi investasi sedikit rendah dari ekspektasi. Tapi, berita baiknya, minat investasi di sektor komoditas dan hilirisasi industri masih tetap tinggi,” jelasnya.

Dia melanjutkan, booming harga komoditas diperkirakan masih berlanjut setidaknya sampai akhir semester I 2022. Dalam situasi ini, pemerintah sebaiknya mempercepat reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi, dan penurunan biaya logistik. (ndu/k15)

Catur Maiyulinda

@caturmaiyulinda

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim