Diketahui bersama, sejak tahun 2019, pemerintah telah mengumumkan rencana memindahkan ibu kota negara dari Jakarta ke wilayah Benua Etam. Tujuan utama dari pemindahan ini adalah mengurangi beban Jakarta yang sudah overpopulasi, serta meratakan pembangunan ekonomi dan infrastruktur ke wilayah timur Indonesia.
Balikpapan dipilih sebagai salah satu kota yang akan menjadi bagian dari kawasan pengembangan ini, digadang sebagai beranda dan pintu utama di Kaltim. Iwan mengatakan, keputusan untuk menjadikan Balikpapan sebagai bagian dari infrastruktur baru mendatangkan kebutuhan baru.
"Perubahan signifikan dalam demografi dan struktur sosial Balikpapan juga berdampak pada UMKM lokal. Pendatang baru yang bekerja dalam pemerintahan dan sektor swasta terkait ibu kota baru membawa kebutuhan konsumsi yang baru dan berbeda.
Maka, UMKM yang mampu menyesuaikan produk mereka dengan kebutuhan pasar yang berkembang dapat mengalami peningkatan signifikan dalam pendapatan dan eksposur mereka," ucap Iwan, Minggu (7/7).
Dari itu, infrastruktur Balikpapan mestilah ditingkatkan dan diperkuat untuk mendukung kebutuhan IKN, dan juga memberikan peluang baru bagi UMKM di Balikpapan. Disamping itu, menurut Iwan, ini akan membuka aksesibilitas yang lebih besar bagi UMKM untuk mengirim dan mendistribusikan produk mereka.
Hal ini tidak hanya mengurangi biaya logistik tetapi juga meningkatkan daya saing UMKM lokal di pasar nasional.
Perbaikan infrastruktur yang menyertainya, seperti pembangunan jalan raya dan transportasi publik yang lebih baik, juga memberikan angin segar bagi UMKM di Balikpapan.
Baru-baru ini pun, pemerintah kota telah memperkenalkan Balikpapan City Trans, armada umum ini diharapkan akan lebih mempermudah masyarakat dalam beraktivitas sehingga mendorong ekonomi lebih cepat.
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan bersama Pemerintah Kota Balikpapan telah meresmikan uji coba Balikpapan City Trans pada Senin (1/7), layanan bus baru yang ditujukan untuk mengurangi kemacetan di "Kota Minyak" ini. Layanan ini awalnya gratis dan diharapkan dapat meningkatkan penggunaan transportasi publik di tengah lonjakan jumlah kendaraan.
Balikpapan City Trans, yang merupakan bagian dari program pengembangan SAMS Sepinggan, Terminal Batu Ampar - Plaza Balikpapan via Jalan Ahmad Yani, dan Terminal Batu Ampar - Plaza Balikpapan via Jalan MT Haryono.
Bus akan beroperasi setiap hari dari pukul 06.00 hingga 20.00 WITA, dan akan berhenti di halte-halte yang ditandai dengan rambu atau logo bus stop.
"Dengan adanya Balikpapan City Trans, diharapkan masyarakat dapat lebih mudah mengakses berbagai titik penting di kota ini tanpa harus mengandalkan kendaraan pribadi, serta membantu mengurangi kemacetan yang sering terjadi," tuturnya.
Iwan kembali berujar, pemindahan ibu kota juga mengundang investasi baru ke Balikpapan dan sekitarnya. Diharapkan, ke depan para investor dapat melihat potensi pertumbuhan ekonomi yang signifikan di kawasan ini dan mulai mendukung UMKM lokal dengan pendanaan dan pelatihan.
Adanya program-program pengembangan UMKM menjadi lebih mudah diakses, dengan lebih banyak peluang untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas manajerial.
Dalam hal ini, HIPMI memberi dukungan kepada UMKM di Balikpapan untuk menghadapi tantangan dan mengoptimalkan peluang dari pemindahan ibu kota. Melalui inisiatif dan programnya, HIPMI telah berkontribusi dalam meningkatkan akses pendanaan, pelatihan, dan jaringan bagi pengusaha muda di kota ini.
Namun, hanya saja diakui dengan peluang yang ada, UMKM di Balikpapan masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Selain persaingan yang semakin ketat dan perubahan regulasi di antaranya. Ia menginginkan pihak perbankan dapat pula lebih merangkul pelaku UMKM dan pengusaha lokal.
"Sebagian masih ada yang sulit mengakses pendanaan, dan sebagian juga terbentur dengan bunga bank, jadi kita harap juga pendanaan ini bisa lebih friendly," harapnya.
Dalam waktu beberapa saat lagi, akan dilaksanakan Muscab IX pada 20 Juni mendatang, Iwan menginginkan pengusaha muda di Balikpapan bisa turut antusias dan menjadi bagian dalam monentum keberlanjutan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
"Multiplier effect dari IKN sangat luar biasa, jadi bagi pengusaha di Balikpapan mesti terus membangun kolaborasi dan jejaringan lebih luas lagi.
Tidak harus mengandalkan diri sendiri, tapi juga bisa bekerja sama dengan pengusaha di luar daerah agar bisa lebih cepat mengembangkan usahanya, dan bergabung dengan komunitas supaya lebih mudah dalam mengurus perizinan, mengakses permodalan dan sharing terkait ilmu hingga kebutuhan akan barang," beber Iwan. (lil/waz)