SAMARINDA - Udang windu Kaltim saat ini menjadi andalan Indonesia untuk mendorong kinerja ekspor dari bidang perikanan. Cukup beralasan, udang windu dari Bumi Etam termasuk yang terbaik di pasar dunia. Udang ini masuk kategori premium. Rata-rata, per tahun Kaltim mengekspor 150 ton udang windu. Tahun ini, ditargetkan ekspor udang windu meningkat 1,4 persen.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Riza Indra Riadi mengatakan, ekspor sektor perikanan sudah cukup baik. Bahkan, udang windu hasil petambak Kaltim dijadikan standar harga udang internasional, karena hasil udang windu Kaltim mempunyai kualitas dan mutu yang sangat tinggi. Adapun rata-rata produksi udang windu di Kaltim mencapai 9-10 ton per bulan.
“Produk udang windu kita dihasilkan dari budi daya alami. Tidak ada perlakuan khusus, sehingga kualitasnya sangat tinggi. Udang windu Kaltim, hasil budi daya, ada juga dari hasil tangkapan,” katanya Senin (21/1).
Saat ini, udang windu kebanyakan masih berasal dari kawasan Anggana, Kutai Kartanegara. Secara kumulatif, tambahnya, Kukar mampu memproduksi 8.995 ton udang windu, atau 85 persen dari jumlah produksi udang windu di Kaltim secara keseluruhan. Sedangkan sisanya tersebar di berbagai pesisir di Paser, PPU, Balikpapan, Kutai Timur, Bontang, serta Berau. “Tahun ini ditargetkan, produksi udang windu akan meningkat 1,4 persen,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, target ini diyakini mampu terpenuhi karena sudah ada sejumlah investor yang melirik kawasan Delta Mahakam, untuk dikembangkan sektor tambak budi daya udang windu. “Sehingga kami optimistis sektor ini akan terus berkembang,” pungkasnya.
Terpisah, Wakil Ketua Umum Kelautan dan Perikanan Kadin Kaltim Syafaruddin mengatakan, bisnis ekspor perikanan di Kaltim sudah cukup baik. Tidak hanya ekspor udang, namun semua komoditas dalam sektor perikanan.
Udang windu di Bumi Etam, sejak dulu merupakan komoditas berorientasi ekspor. Sehingga peningkatan produksinya akan membantu meningkatkan devisa negara. “Peminatnya banyak, dari Jepang, Thailand, hingga Tiongkok,” katanya.
Makanya saat ini butuh peningkatan produksi. Peminatnya sudah ada, tinggal bagaimana memenuhi suplainya. Karena, perluasan produksi udang windu bukan hanya sekadar berorientasi ekspor tapi juga untuk memenuhi ketahanan pangan. “Seharusnya produksi bisa lebih banyak. Agar dampaknya terhadap ekonomi semakin dirasakan,” tutupnya. (*/ctr/ndu/k15)
Editor : wahyu-Wahyu KP