Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Inflasi Banjarmasin Tertinggi Di Kalimantan

miminradar-Radar Banjarmasin • 2019-05-04 09:34:01

BANJARMASIN - Banua lagi-lagi mengalami inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel mencatat, angka inflasi Kalsel pada April 2019 mencapai 0,94 persen. Naik cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 0,25 persen.

Inflasi Kalsel sendiri gabungan dari perkembangan indeks harga konsumen (IHK) dari Kota Banjarmasin dan Tanjung. Dari dua daerah itu, Banjarmasin yang menjadi penyumbang inflasi terbesar yaitu 0,97 persen. Atau terjadi kenaikan IHK dari 135,92 pada Maret 2019 menjadi 137,24 di April 2019.

Angka tersebut membuat inflasi Banjarmasin menjadi yang tertinggi di tingkat antar kota regional Kalimantan. Sementara tertinggi kedua ditempati Sampit dengan nilai inflasi 0,66 persen. Diikuti Tarakan yang mengalami inflasi 0,60 persen.

Untuk inflasi tertinggi ke empat sendiri ternyata diduduki Tanjung, yang mengalami inflasi sebesar 0,47 persen atau terjadi kenaikan IHK dari 134,13 pada bulan Maret 2019 menjadi 134,76 di April 2019. 

Kepala BPS Kalsel Diah Utami mengatakan, tingginya inflasi di Kota Banjarmasin pada April dipengaruhi oleh adanya kenaikan indeks harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Yakni, kelompok bahan makanan sebesar 1,38 persen. Lalu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,14 persen). Kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,17 persen).

"Selain itu, indeks harga kelompok sandang juga naik sebesar 0,23 persen. Lalu, kelompok kesehatan sebesar 0,95 persen. Kemudian, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,10 persen. Terakhir, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,46 persen," paparnya.

Lanjutnya, sedangkan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi di Kota Banjarmasin antara lain; angkutan udara, beras, bawang merah, sewa rumah dan bawang putih.

"Inflasi pada Ramadan dikhawatirkan semakin tinggi, apabila harga-harga komoditas tambah mahal," ujarnya.

Dia menyebut, padahal ada sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga pada April 2019. Namun jumlahnya tidak banyak, sehingga belum cukup menekan laju inflasi.

"Komoditas yang harganya turun dan ikut andil deflasi tertinggi hanya ikan papuyu, tarif listrik, ikan patin, melon dan ikan nila," ucapnya.

Sementara di Tanjung, komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil inflasi tertinggi antara lain; bawang merah, bawang putih, tomat sayur, jagung manis dan daging ayam ras.

"Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga dengan andil deflasi tertinggi, ialah ikan nila, kacang panjang, bayam dan ikan mas," ungkap Diah.

Meski inflasi naik cukup signifikan pada bulan April, namun Bank Indonesia Wilayah Kalsel masih berpandangan bahwa inflasi sepanjang tahun ini akan tetap terjaga dalam target dan batas aman yaitu 3,1 sampai 3,5 persen.

"Kita prediksi sampai akhir tahun inflasi masih terkendali di bawah tiga setengah persen," kata Kepala Perwakilan BI Wilayah Kalsel, Herawanto.

Meski begitu, dia menyampaikan pihaknya melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kalimantan Selatan akan tetap mewaspadai dan memantau harga-harga pangan yang dapat mengakibatkan inflasi.

"Apalagi pada bulan Ramadan nanti, inflasi cenderung naik. Lantaran, naiknya harga sejumlah komoditas," bebernya.

Menurutnya, agar harga komoditas tetap stabil yang perlu dilakukan saat ini ialah menjaga stoknya supaya tidak kurang di pasaran.

"Selama kita bisa menjaga pasokan barang, maka inflasi bisa dikendalikan. Untuk itu, masyarakat juga perlu ikut berperan dalam menjaga pasokan. Dengan cara belanja sesuai kebutuhan," paparnya.

Selain komoditas barang, dia menyebut tiket pesawat juga selalu memberikan andil yang besar dalam kenaikan inflasi jika harganya terlampau mahal.

"Apalagi mendekati Lebaran nanti, harga tiket pasti sangat mahal lantaran banyaknya permintaan," pungkasnya. (ris/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#ekonomi bisnis