Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Pola dan Perilaku Konsumen Berubah

izak-Indra Zakaria • Senin, 12 Oktober 2020 - 19:15 WIB
ilustrasi mal
ilustrasi mal

Tren belanja dan konsumsi konsumen di Indonesia ikut berubah dengan kondisi yang belum memungkinkan transaksi serbafisik. Survei yang dilakukan Bank DBS memberikan gambaran bahwa di tengah upaya menjaga konsumsi, saat ini masyakarat sangat bergantung pada teknologi digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Regional Equity Strategist DBS Bank Group Research Joanne Goh mengatakan bahwa berdasarkan survei yang dilakukan DBS, ada beberapa temuan menarik soal perubahan perilaku konsumen di Indonesia. Pertama, kini masyarakat Indonesia lebih menaruh perhatian tentang kesehatan dan kebersihan.

Kedua, selama pandemi tingkat konsumsi rumahan justru melonjak menjadi 69 persen. Lebih tinggi dibanding tingkat konsumsi sebelum Covid-19 yang tercatat 42 persen. Ketiga, rumah telah menjadi tempat hiburan baru bagi masyarakat karena semakin banyak orang yang menikmati waktu dan ruang pribadi mereka di rumah.

Keempat, penetrasi e-commerce di Indonesia menjadi lebih cepat karena adanya pergeseran perilaku masyarakat dari yang awalnya belanja ke toko fisik menjadi belanja online. Apalagi saat ini e-commerce juga menyediakan akses layanan yang mudah bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun di sisi lain, kondisi ini tidak pelak membuat pasar tradisional kehilangan pangsa pasar karena terbatasnya akses selama PSBB dan kesadaran yang lebih tinggi akan keamanan dan kebersihan. ”Temuan ini memperkuat keyakinan kami bahwa digitalisasi di Indonesia bakal dipercepat pasca-Covid,” ujar Goh.

Lebih rinci soal tren konsumsi, DBS Group Research memproyeksikan makanan menjadi lebih tinggi, sebesar 50,1 persen pada 2020 dan secara bertahap menurun seiring dengan pemulihan ekonomi pada 2021-2022. DBS Group Research juga melakukan wawancara dengan beberapa perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) untuk membahas dampak pandemi ini, mengetahui cara mereka beradaptasi serta pandangan mereka terhadap prospeknya.

”Perusahaan yang kami wawancarai tampaknya masih mampu mengatasi keadaan dengan baik, meskipun terdapat persamaan di antara mereka. Ada ketidakpastian tentang apa yang akan dihadapi pada masa depan, serta kebutuhan untuk fokus ke diversifikasi, baik produk, geografi, saluran penjualan, dan lain lain," pungkasnya. (agf)

Editor : izak-Indra Zakaria
#ekonomi nasional