DILANTIK menjadi direktur utama Bankaltimtara, 11 September 2020 lalu, M Yamin adalah hasil seleksi pegawai yang ketat, 1991 lalu. Ketika itu, Yamin bersaing dengan 3 ribu pelamar dari seluruh Kaltim. Melalui beberapa tahapan, 10 orang dinyatakan lolos menjadi pegawai. Setelah 29 tahun mengabdi, M Yamin menduduki jabatan puncak di Bankaltimtara, menggantikan Zainuddin Fanani.
Lompatan karier luar biasa dari pria yang berkeinginan Bankaltimtara bisa melantai di Bursa Efek Jakarta. M Yamin sebelumnya menjabat direktur operasional, kini ayah empat anak ini memikul amanat besar di pundaknya demi menuju Bankaltimtara lebih berdaya saing dalam menyongsong ibu kota negara (IKN) di Kaltim.
Apa saja yang ingin dilakukan Muhammad Yamin selama masa kepemimpinannya? Berikut ini wawancara wartawan Kaltim Post Catur Maiyulinda dan Uways Alqadrie, Senin (12/10) lalu.
Kaltim Post: Apa fokus utama yang akan dilakukan dalam meningkatkan kinerja PT Bankaltimtara?
M Yamin: Saat ini yang terpenting membawa Bankaltimtara lebih berdaya saing. Kalau hanya meningkatkan kredit, meningkatkan DPK, dan lainnya itu sudah pasti dilakukan. Sangat umum dalam bisnis perbankan. Sepanjang dalam bisnis bank, pasti utamanya meningkatkan kredit. Namun, terpenting mengembangkan teknologi pendukung, seperti mempercepat elektronifikasi agar lebih berdaya saing. Sisi lain dari kredit yang kebanyakan bergerak dalam mengembangkan teknologi elektronifikasi.
Kaltim Post: Rencana ke depan dalam mempercepat penerapan elektronifikasi di Bankaltimtara agar lebih berdaya saing?
M Yamin: Mendukung program elektronifikasi, Bankaltimtara sudah memiliki fitur-fitur pendukung. Di antaranya, internet banking, mobile banking, dan cash management system (CMS) per 24 Maret 2020. Program tersebut untuk mendukung nontunai, co-branding uang elektronik dan QRIS dengan PT Bimasakti Multi Sinergi (SpeedCash) dengan nama produk “Paykaltimtara”. Dengan berbagai kemudahan itu, nasabah Bankaltimatara sudah bisa membayar pajak daerah membayar belanja di e-commerce, dan lainnya dengan menggunakan mobile banking Bankltimatara.
Kaltim Post: Menjabat di situasi sulit di tengah pandemi Covid-19, saat kinerja PT Bankaltimtara menurun sekitar 30-40 persen, bagaimana menghadapi tantangan tersebut?
M Yamin: Saya saat ini sedang berkonsentrasi dengan layanan berbasis teknologi informasi (IT). Melalui IT, banyak yang bisa diperoleh. Memasarkan mobile banking, membuka rekening secara online bisa menjadi sumber pendapatan baru. Kinerja yang menurun karena tidak bisa bertatap muka, harus bisa diatasi dengan kekuatan IT yang sudah dimiliki Bankaltimtara agar tidak kalah dengan perbankan lain. Karena itu, kepada staf, saya sampaikan mesin-mesin ATM di seluruh Kaltim selalu dipantau. Jangan sampai ada yang kosong.
Kaltim Post: Sebagai bank pembangunan daerah, seberapa optimistis penggunaan elektronifikasi bisa menjadi pilihan para nasabah saat ini?
M Yamin: Mobile banking Bankaltimtara baru diluncurkan Maret lalu.Dari 800 ribu nasabah Bankaltimtara, sampai September sudah meraih 25 ribu pengguna mobile banking. Meski belum terlalu banyak, saya yakin tahun depan mencapai 400 ribu nasabah. Itu membuktikan nasabah menyambut baik perkembangan elektronifikasi Bankaltimtara.
Kaltim Post: Selain perkembangan IT untuk mempermudah nasabah, bagaimana upaya PT Bankaltimtara hadir di setiap kecamatan di Kaltim dan Kaltara?
M Yamin: Di Kaltim dan Kaltara total terdapat 156 kecamatan, Kaltim ada 103, dan Kaltara 53 kecamatan. Jika dipisahkan Kaltim dan Kaltara, PT Bankaltimtara sudah hadir di 100 persen kecamatan di Kaltim. Sementara Kaltara dengan kesulitan geografis dan minimnya penduduk, baru mencapai 74 persen, atau sisa 14 kecamatan belum dijangkau. Namun, kalau digabung Kaltim dan Kaltara dengan total kecamatannya, PT Bankaltimtara sudah hadir 91 persen dari total kecamatan Kaltim dan Kaltara. Hanya sisa 9 persen belum terjangkau.
Kaltim Post: Apa kendalanya belum hadir di seluruh kecamatan di Kaltara?
M Yamin: Ada di infrastruktur pendukung di kecamatan yang belum terjangkau telekomunikasi. Menggunakan agen laku pandai saja sangat sulit,tapi kami berusaha hadir di seluruh pelosok Kaltim karena sudah menjadi kewajiban sebagai bank pembangunan daerah. Saya targetkan di 2021bisa hadir 100 persen di kecamatan Kaltara. Namun, ada beberapa wilayah masih menggunakan agen laku pandai. Sebab, secara fisik sulit hadir di tengah terbatasnya infrastruktur.
Kaltim Post: Di tengah kinerja yang menurun tahun ini, bagaimana dengan target kinerja intermediasi tahun depan?
M Yamin: Tahun ini kinerja sebenarnya tidak terlalu buruk, kinerja kredit masih tumbuh 7 persen. Sedangkan kinerja DPK jauh lebih tinggi, karena dorongan transfer daerah yang lebih besar. Posisi aset masih Rp 34,9 triliun. Sementara tahun depan kredit harus tumbuh di atas 8 persen, DPK ditargetkan bertumbuh 9-10 persen.
Kaltim Post: Apa pencapaian yang ingin diberikan kepada Bankaltimtara?
M Yamin: Saat ini saya ingin membawa Bankaltimtara menuju level tertinggi, menjadi perusahaan yang profesional dan berkontribusi lebih besar ke daerah. Bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD), sehingga membantu pemerintah dalam mengakselerasi infrastruktur di daerah.
Kaltim Post: Tahun lalu Bankaltimtara masih menjadi pemberi setoran PAD terbesar perusda untuk Kaltim, mencapai Rp 170 miliar. Ada harapan agar setoran PAD terus meningkat hingga menembus Rp 200 miliar?
M Yamin: Tentu sajakami berkeinginan memberikan kontribusi yang besar untuk Kaltim dan Kaltara. Dua provinsi tersebut dan kabupaten/kota yang ada di dalamnya adalah pemegang saham kami. Tentu kami terus berusaha meningkatkan setoran PAD hingga melebihi Rp 200 miliar. Semoga tahun inimeningkat dibandingkan tahun lalu.
Kaltim Post: Sektor UMKM menjadi harapan pemerintah dalam ikut menunjang perekonomian masyarakat. Bankaltimtara sudah melakukan apa untuk meningkatkan penguatan UMKM?
M Yamin: Kami juga sangat fokus terhadap pemberian kredit di sektor UMKM. Bahkan kami punya kredit UMKM makro dan kecil. Angka kredit kami di sektor tersebut mencapai Rp 500 juta dengan persyaratan dengan bunga yang relatif tidak memberatkan pelaku usaha. Prinsipnya kami sepakat sektor UMKM harus bersama-sama dikembangkan seusai anjuran pemerintah. Kami pun sudah melakukan anjuran tersebut dengan terus mendorong UMKM agar bergerak maju menjadi pendukung penguatan perekonomian daerah.
Kaltim Post: Bagaimana dengan pemberian kredit untuk sektor pertanian dan perikanan?
M Yamin: Kami ada program Perikanan Sejahteran, Pangan Sejahtera, Ternak Sejahtera, dan Sawit Sejahtera. Empat program tersebut menyentuh level masyarakat paling bawah. Alhamdulillah, sejauh ini kontribusi empat program tersebut sangat besardan mampu memberikan nilai tambah kepada nasabah yang mengikuti program tersebut.
Kaltim Post: Awal masuk BPD tahun berapa, menduduki posisi apa pertama kali?
M Yamin: Saya masuk BanKaltimtara September 1991. Masuk setelah mengikuti tes panjang yang diikuti 3 ribu orang. Hanya 10 yang lolos kala itu, termasuk Pak Ismunandar Azis (direktur kredit) dan Hairuzzaman (direktur bisnis dan syariah). Setelah itu, saya menjalani percobaan tiga bulan di divisi perencanaan, lalu dua tahun kontrak. Sebelum akhirnya diangkat 1993 silam. Gaji pertama saya Rp 175 ribu, uang makan Rp 35 ribu. Alhamdulillah saya bisa sampai ke jabatan puncak di Bankaltimtara. Sebelum terpilih, saya berdoa, kalau jabatan dirut bisa memberikan manfaat, izinkan saya memegang amanah itu. Kalau tidak bisa memberikan kebaikan, berikan jabatan tersebut kepada orang lain. (adv)
Kaltim Post: Apa kegiatan sehari-harinya kalau lagi santai?
M Yamin: Saya menyenangi olahraga bridge sejak masih mahasiswa hingga kini. Olahraga itulah yang aktif saya tekuni. Bahkan sejak 2019 saya menjadi ketua umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) Kaltim (periode 2019–2023). Alhamdulillah juga anak-anak sudah besar. Anak kedua saya masih kuliah di fakultas kedokteran, anak ketiga masih kuliah, dan anak keempat masih SMA.
Kaltim Post: Bisa ceritakan sedikit tentang masa kecil dan kuliah?
M Yamin: Ayah saya adalah Prof Kaharuddin Anas, guru besar di Universitas Mulawarman. Saya lahir di Parepare, namun SD hingga kuliah di Samarinda. Saya masuk kuliah ikut jalur umum, tidak mengandalkan ayah saya yang dosen di Unmul. Alhamdulillah bisa lulus. Sejak kuliah saya mengikuti aktivitas kemahasiswaan. (adv/luc/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria