RANTAU - Dinas Perikanan Tapin beberapa hari ini turun ke Kecamatan Bungur, untuk mendata kematian ikan yang diduga karena penutupan Bendungan Tapin.
Dari data yang dikirimkan. Ada 16 orang pembudidaya ikan yang terdampak dari tiga Desa yang ada yakni Desa Shabah, Desa Kalumpang dan Desa Linuh semuanya masuk Kecamatan Bungur.
Salah satu yang terdampak, bernama M Arsyad ia mangaku bahwa sejak beberapa hari lalu hingga saat ini ikan miliknya mati. Akibat kurangnya debit air.
"Diperkirakan sekitar 150 kilogram ikan saya mati," beber, warga Kalumpang, Rabu (14/10).
Ia mengaku sebelumnya, belum ada pemberitahuan yang sampai ke pembudidaya ikan. Perihal tentang penutupan bendungan.
"Kedepannya kalau memang ada seperti ini. Harap diberitahukan terlebih dahulu kepada kami," jelasnya.
Lain lagi dengan warga lainnya yang bernama Rusdi, tetangga M Arsyad. Ia mengaku bahwa kalau debit air berkurang bibit ikan yang terancam mati sebanyak 70.000 ekor.
"Sejauh ini untuk mengantisipasi kekurangan air. Ia menyedot air dari sumber yang ada. Ini memerlukan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya 5 liter solar perhari," tuturnya.
Kepala Bidang (Kabid) Budidaya Dinas Perikanan Kabupaten Tapin, Bambang Purwanto, menjelaskan bahwa ada 16 petani yang diduga terdampak. Mulai dari ikan konsumsi sampai dengan benih.
"Satuan kilogramnya berbeda-beda," tuturnya.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Tapin, Gusti Ridha Jaya menuturkan bahwa usai data yang dikumpulkan Dinas Perikanan terkumpul. Ia akan berkoordinasi dengan Balai Sungai bagaimana menyikapi ini. "Yang jelas akan kita serahkan datanya untuk ditindaklanjuti," pungkasnya. (dly/bin/ema)
Editor : miminradar-Radar Banjarmasin