SAMARINDA - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kembali menunjukkan penguatan pada Januari 2022. Yakni menyentuh level Rp 3.076 per kilogramnya. Harga kelapa sawit ini merupakan rekor baru dan diharapkan bisa menyejahterakan petani.
Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ujang Rachmad mengatakan, harga TBS ditetapkan sesuai harga crude palm oil (CPO) internasional. Harga-harga yang sudah ditetapkan per bulan merupakan standar bagi para petani yang bermitra dengan perusahaan pemilik pabrik kelapa sawit di Kaltim, khususnya kebun plasma. Harga ini juga menjadi acuan oleh petani.
“Tingginya harga TBS ini membuat kesejahteraan petani terus membaik,” tuturnya, Rabu (26/1). Jika permintaan CPO terus meningkat, maka permintaan TBS akan bertambah yang berujung pada perbaikan harga. Setiap bulan, perhitungan harga TBS kelapa sawit membutuhkan komponen harga CPO dunia. Jika melesatnya harga CPO tertahan di atas, maka harga buah kelapa sawit juga terus melesat.
“Terlepas dari tingginya harga TBS, saat ini kelapa sawit di Kaltim masih memiliki potensi yang luas. Masih ada prospek perkembangan perkebunan kelapa sawit di Kaltim sudah mencapai 1,37 juta hektare,” katanya.
Sehingga, ke depannya pihaknya berharap dengan upaya untuk terus mengembangkan perkebunan, dapat memperluas dan meningkatkan produktivitas pasti akan diikuti penyerapan tenaga kerja yang lebih banyak. Harapannya, juga tidak hanya menjual produk mentah atau hasil perkebunan langsung dijual meskipun harganya jual TBS sedang tinggi. Harus diolah dulu.
Tidak hanya kelapa sawit, namun produk perkebunan lain. Seperti olahan kakao berupa cocoa powder, olahan lada menjadi lada putih bubuk dan lada hitam bubuk, serta olahan aren gula semut. Hasil bumi dari sektor perkebunan di Kaltim yang memiliki potensi besar terutama dalam hal pengolahan menjadi produk setengah jadi.
“Intinya, kami di Kaltim berharap agar investor tidak lagi berinvestasi yang hanya berorientasi untuk menjual raw material saja, namun membangun pabrik di Kaltim untuk mengolah produk, memberi value added (nilai tambah) bagi komoditas itu sendiri, juga bagi pemberdayaan masyarakat Benua Etam,” pungkasnya. (ndu/k15)
Catur Maiyulinda
@caturmaiyulinda
Editor : izak-Indra Zakaria