Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Asosiasi Konstruksi Malaysia Gali Potensi di IKN

izak-Indra Zakaria • Selasa, 6 September 2022 - 19:45 WIB
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan menerima kunjungan dari Master Builders Association Malaysia (MBAM).
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan menerima kunjungan dari Master Builders Association Malaysia (MBAM).

Komunikasi pengusaha di Kaltim, khususnya Balikpapan dengan perwakilan pelaku usaha maupun asosiasi dengan berbagai negara makin kencang. Terutama dari Malaysia. Tentu jalinan komunikasi ini erat kaitannya dengan rencana pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) ke Kaltim.

 

BALIKPAPAN - Terbaru Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Balikpapan menerima kunjungan dari Master Builders Association Malaysia (MBAM) sembari melakukan jamuan makan malam di Grand Jatra Hotel, Minggu (4/9). Lebih istimewa karena kali ini jajaran Kadin Balikpapan juga ditemani Ketua Kadin Kaltim Dayang Donna Faroek.

Kegiatan Business Mission to Indonesia oleh MBAM tersebut berlangsung 4-7 September. Selama dua hari, rombongan akan berada di Kota Beriman, kemudian dilanjutkan kunjungan ke Jakarta. Rombongan pengusaha yang tergabung di dalam MBAM asal Malaysia itu dipimpin Tan Sri Sufri, selaku ketua delegasi.

Tan mengatakan, Pemerintah Malaysia mendukung pengusaha di negaranya untuk menangkap peluang investasi dari pembangunan IKN. “Alasan kami datang kemari, untuk melihat kemungkinan dan potensi yang dapat dikerjasamakan. Melalui keterbukaan investasi, agar dapat menjajaki proyek-proyek bersama yang potensial yang akan menguntungkan bagi kedua negara dan seluruh pengusaha yang terlibat. Serta bagaimana komitmennya. Karena kerja sama haruslah dilandaskan keterbukaan. Tidak hanya kecerdasan tapi juga kejujuran,” bebernya, Minggu (4/9).

Diketahui, IKN akan membutuhkan infrastruktur fisik maupun penunjang, termasuk utilitas perkotaan, manufaktur, pelabuhan laut dan bandara, serta jaringan komunikasi. Presiden Joko Widodo, kata Tan, juga telah menyampaikan, bahwa IKN akan mengusung konsep smart and green city.

Selain pengerjaan bangunan, proyek lain yang disinggung olehnya ialah pembangunan terowongan bawah laut. Sehingga, Indonesia akan membutuhkan pendanaan swasta yang signifikan dalam pembangunan infrastruktur maupun pendukung lainnya.

Rencana kota administratif baru ini memberikan peluang luas di mana Malaysia dapat menawarkan keahlian dan layanan. Mulai dari konsepsi hingga pengiriman yang meliputi perencanaan kota, perancangan arsitektur, konstruksi, layanan pendukung, seperti pembiayaan, SDM, material bangunan dan konstruksi, serta pemeliharaan dan perbaikan.

Sebagai informasi, MBAM didirikan pada 1954, merupakan asosiasi perdagangan konstruksi nasional terkemuka yang memainkan peran penting dalam pengembangan dan kemajuan industri konstruksi di Malaysia. Sebagai penggerak dan telah diakui dari industri konstruksi Malaysia, MBAM aktif memulai, mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan yang meningkatkan profesionalisme, produktivitas, dan kualitas dalam industri konstruksi.

MBAM juga berupaya mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan industri konstruksi untuk mempermudah para anggota mencapai persaingan global. Asosiasi tersebut memperoleh pengakuan internasional dan keunggulan karena bergabung dengan International Federation of Asian and Western Pacific Contractors Associations (IFAWPCA) dan ASEAN Constructors Federation (ACF).

“Usaha anggota MBAM bergerak di berbagai bidang, baik properti, edukasi sampai jasa perawatan. Tidak hanya di Kalimantan dan Jawa, tetapi ada juga yang menjalankan sampai ke India hingga Arab Saudi,” terang pria yang juga menjabat Group Managing Director di TRC Synergy Berhad tersebut.

Selain memperoleh informasi terbaru tentang peluang bisnis dan investasi yang tersedia di Indonesia, dalam proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan, kunjungan ini sekaligus memperluas jaringan bagi kontraktor Malaysia untuk mengenal otorita IKN. Dikatakan, sementara ini belum dilakukan konsorsium. Pihaknya masih mengikuti regulasi dan protap yang berlaku.

Meski demikian, disebutkan beberapa perusahaan Malaysia seperti IJM, Sunway, Tan Chong dan UEM telah menyatakan minat terhadap proyek di Indonesia. Kepindahan IKN dari Jakarta ke Kalimantan Timur, menurutnya bukan sebuah masalah. Layaknya Malaysia sudah lebih dulu memindahkan ibu kota dari Kuala Lumpur ke Putrajaya.

Indonesia pun dinilai memiliki pengalaman besar. Sehingga, pemindahan tersebut tidak akan mengganggu jalannya pemerintahan. Selama fondasinya kuat dan sesuai konsep yang dicanangkan.

“Saya telah bekerja di bidang konstruksi selama lebih dari 40 tahun. Dari perusahaan kecil, sekarang mempunyai lebih 600 orang staf. Kuncinya adalah usaha, perahan-lahan. Step by step. Tidak ada usaha yang instan dan bekerja seperti sebuah magic. Semua butuh waktu. Kita memang tidak akan mengetahui apa yang terjadi di hari esok ataupun masa depan. Tetapi, bagaimana kita akan tahu bila kita tidak mencoba hari ini,” ujarnya.

Dia menambahkan, Indonesia menjadi salah satu mitra paling strategis di Malaysia. Lantas dia juga menjelaskan, alasan mengapa pengusaha Malaysia tertarik berbisnis di Indonesia, pertama faktor jarak kedua negara yang bertetangga membuat pengeluaran tidak terlalu besar dan tidak membebani. Tan juga mengatakan, adanya kedekatan hubungan secara budaya maupun kepercayaan/religi, bahasa juga bukan sebuah masalah.

“Diharapkan, setelah kunjungan ini komunikasi tetap terjalin, meskipun tidak bertemu secara tatap muka dengan saling berkunjung, di era sekarang kita bisa memanfaatkan teknologi untuk bersilaturahmi serta bertukar informasi,” pungkasnya. (ndu/k15)

Ulil

Yin.khazan@gmail.com

Editor : izak-Indra Zakaria