Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Program Pemerintah Terancam, Waspada Pekebun Karet Beralih ke Sawit di Tanah Laut

Norsalim Yahya • 2024-04-02 08:30:00
ilustrasi kelapa sawit
ilustrasi kelapa sawit

Para pekebun karet di Tanah Laut semakin banyak tergoda mengganti komoditas tanamannya menjadi sawit. Tidak hanya berimbas terhadap berkurangnya jumlah luasan kebun karet di Bumi Tuntung Pandang, juga mengancam keberlangsungan program pemerintah.

        ***
PELAIHARI – Terjadi kejomplangan antara pekebun karet dan pekebun sawit. Terutama dari segi penghasilan, dan lamanya bekerja. 

Pekebun karet harus bekerja setiap hari untuk menghasilkan getah karet. Sedangkan pekebun sawit hanya menunggu waktu dua pekan sekali agar buah sawitnya bisa dipanen.

Dari segi harga, sawit lebih stabil dibandingkan karet. Begitu pula soal waktu produksi, sawit hanya memerlukan 3-5 tahun untuk bisa dipanen setelah ditanam. Sedangkan untuk karet memerlukan waktu lebih lama, 5-6 tahun setelah ditanam.

Kondisi ini menjadi alasan para pekebun karet di Bumi Tuntung Pandang beralih berkebun sawit. Muhammad Suryani dari Kecamatan Pelaihari mengungkapkan, saat ini memiliki lahan karet seluas satu hektare. Isinya sekitar 500 pohon. Kebun karet ini telah dimilikinya selama 12 tahun.

"Dalam seminggu biasanya empat kali menderes karet dengan hasil 140 kilogram. Kalau musim panas, hasilnya berkurang setengah," ungkapnya, Sabtu (30/3).

Menurutnya, harga karet cukup bersahabat saat ini. Berkisar Rp10 ribu per kilogram. Namun, kadang harganya juga cukup menyedihkan. Turun hingga Rp5 ribu per kilogram. "Dulu pernah merasakan harga karet yang cukup mahal, Rp15 ribu per kilogram." katanya.

Suryani menceritakan berbagai kesulitan yang dialaminya selama menjadi pekebun karet.

Pertama, harus bekerja setiap hari dan bergantung dengan musim. "Saat musim penghujan, tidak bisa bekerja, dan harus mencari pekerjaan lain (sampingan, red). Sedangkan saat musim panas, getahnya berkurang," ungkapnya.

Menjadi pekebun karet kerjanya harus pagi-pagi sekali. Itu jika ingin hasil karetnya lebih banyak. Selain itu, juga harus telaten.

Dari beberapa kendala itulah Suryani tertarik menanam pohon sawit. Saat ini, ia mempunyai lahan sawit sekitar 2 hektare. Sawit yang bisa dipanen seluas satu hektare. Sedangkan satu hektarenya belum bisa dipanen, karena usianya baru satu tahun. "Tertarik menanam sawit karena usia panennya lebih cepat dibandingkan dengan karet. Kalau sawit tiga tahun sudah bisa menghasilkan buah pasir (kecil, red). Sedangkan karet paling cepat lima tahun," bandingnya.

Selain usia panennya lebih cepat, hasil sawit juga cukup menggiurkan. Setiap satu hektare dalam sekali panen bisa menghasilkan seberat 3 ton atau 3.000 kilogram. Sedangkan saat musim trek alias buahnya sedang sedikit, maka berkurang setengahnya. "Dalam satu bulan itu bisa melakukan panen sebanyak dua kali. Tidak terkendala cuaca, baik musim hujan atau panas tetap bisa dipanen," ujarnya.

Saat ini harga sawit berkisar Rp2.200 per kilogram. Jadi dalam satu kali panen bisa menghasilkan Rp6,6 juta. Sedangkan kalau sedang trek bisa menghasilkan Rp3,3 juta. "Harga itu bisa saja lebih mahal, tergantung pabrik mana yang membeli sawitnya," ungkapnya.

Suryani pernah merasakan harga sawit yang sangat mahal. Mencapai Rp3 ribu per kilogram. Saat itu keuntungannya cukup banyak.

Dengan berbagai keuntungan dan kemudahan itu, tak heran para pekebun mulai banyak mengganti kebun karetnya menjadi sawit. Termasuk Suryani.

 

Dari mana biaya menanam sawit? Suryani mengungkapkan dari hasil karet yang disisihkan. "Dulu menanam sawitnya tidak langsung banyak, namun bertahap. Kalau ada uang lebih dibelikan ke bibit sawit, dan kemudian ditanam secara tumpang sari di kebun karet," terangnya. "Jika sudah mulai berbuah, baru tanaman karetnya ditebang," runutnya.

Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Tala, memang ada kecenderungan pekebun mengganti komoditas tanamannya dari karet ke sawit. Luasan lahan karet terus berkurang setiap tahunnya.

"Kecenderungan pekebun karet mengganti ke sawit memang ada," sebut Kepala Bidang Perkebunan pada Distanhorbun Tala Edy Haryadi, Selasa (27/2). Meski di tahun 2021 dan 2022, luas perkebunan karet sedikit mengalami peningkatan dari 14,888 ha menjadi 14,894 ha. “Itupun karena program dari dinas,” sebutnya.

Sedangkan 2023, luas kebun karet kembali mengalami berkurang menjadi 14,778 ha.

 

Mengenai hal ini, Edy mengungkapkan bahwa pihaknya belum bisa mengondisikan atau memplot suatu wilayah untuk komoditas tertentu. Mengingat setiap warga dilindungi oleh undang-undang untuk memilih jenis usaha atau komoditas yang ingin diusahakan. “Kami secara aturan tidak bisa memplot suatu wilayah untuk satu komoditas. Misalnya, Kecamatan Batu Ampar khusus perkebunan karet rakyat, karena ada perusahaan karet,” katanya memberi contoh.

Meski secara aturan terkendala, pihaknya akan memberikan program peremajaan karet. Terutama di wilayah Kecamatan Batu Ampar. Mengingat karet-karet di sana usianya sudah tua. Di atas 25-30 tahun. “Jadi nanti dari karet tetap ke karet,” harap Edy.

Selain memberikan bantuan peremajaan karet, pihaknya juga akan memberikan bantuan lain untuk sarana produksi. Selama proses peremajaan ini, mereka juga akan dapat bantuan program tumpang sari. “Selama tanaman karetnya belum menghasilkan, mereka akan diminta menanam kacang dan jagung. Supaya mereka tetap memperoleh penghasilan, dan semangat bekerja di bidang perkebunan karet,” tuturnya.

Menurutnya, dalam sepekan ini harga karet sudah naik. Di atas Rp11 ribu. Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi pekebun karet. Sebelum-sebelumnya harga karet di bawah Rp10 ribu. “Jika harga karet ini tetap di atas Rp11 ribu, insya Allah pekebun karet tetap bergairah untuk bekerja di bidangnya,” yakinnya.

Edy menjelaskan jika pabrik karet di Desa Ambawang sudah beroperasi, tentu akan semakin menguntungkan pekebun karet. Mereka tidak perlu lagi menjual kepada tengkulak. “Mereka bisa langsung mengantarnya ke pabrik. Tentunya harganya akan lebih tinggi dibanding menjual ke tengkulak,” tekannya.

Di tahun 2023, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UMK) sedang membangunkan sebuah pabrik karet di Tanah Laut, tepatnya di Desa Ambawang, Kecamatan Batu Ampar. Pabrik ini digadang-gadang bisa membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar pabrik.

Bahkan, bisa meningkatkan harga jual karet karena pekebun tidak lagi menjual kepada tengkulak.
Jika fenomena peralihan dari karet ke sawit ini tidak disikapi dengan serius oleh pemangku kebijakan, pabrik yang dibangun dengan nilai puluhan miliar bisa saja sia-sia. (*)

 
 
 
Editor : Indra Zakaria
#kelapa sawit