Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki potensi investasi yang cukup besar pada sektor kelautan dan perikanan, salah satunya yang berkaitan dengan budidaya rumput laut.
Penatakelola Ahli Muda Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kaltara, Rahman Putrayani mengatakan, saat ini sudah ada investor yang menyatakan berminat untuk menangkap peluang investasi pada industri olahan rumput laut di provinsi ke-34 Indonesia ini.
“Mereka sudah mencoba mengkaji dari IPRO Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang kita (Pemprov Kaltara) susun dengan menemukan bahwa nilai investasi yang mereka pertimbangkan tidak jauh berbeda dengan rencana investasi kita,” ujar Rahman kepada Radar Kaltara saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu.
Rahman menyebutkan, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh calon investor, nilai potensi investasi olahan rumput laut di Kaltara ini sekitar USD 3 juta per satu industri olahan. Sementara yang disusun berdasarkan IPRO Pemprov Kaltara itu nilai investasi olahan rumput laut itu sekitar Rp 40 miliar.
“Kalau rupiahkan USD 3 juta itu dengan kurs Rp 15 ribu per USD 1, maka nilainya sekitar Rp 45 miliar. Jadi tidak jauh berbeda dengan yang kita hitung,” tutur Rahman. Nilai ini untuk investasi pada sektor hilirisasinya. Akan tetapi sejauh ini belum dapat dipastikan investasi ini akan difokuskan dalam bentuk Semi Refined Carrageenan (SRC) Alkali Treated Cottonii (ATC), produk setengah jadi yang digunakan pada pengolahan karaginan atau dalam bentuk lainnya, sejauh ini belum diketahui.
“Pastinya, kalaupun hanya untuk produksi chips saja, itu sudah merupakan langkah awal yang baik. Apalagi kalau nanti sudah jadi tepung,” katanya.
Pada prinsipnya, diharapkan dengan potensi yang luar biasa besar di Kaltara, nilai tambah dari sektor kelautan dan perikanan melalui investasi hilirisasi ini dapat memberikan nilai tambah terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Harapan kita, industri rumput laut pada melalui sektor hilirisasi ini dapat memberikan kontribusi yang baik bagi peningkatan ekonomi masyarakat dan peningkatan pendapatan asli daerah,” pungkasnya. (iwk/har)
Editor : Indra Zakaria