Kabar penutupan Transmart Pontianak di Kubu Raya pada 30 April 2025 dibenarkan Store Manager Transmart, Ismail. "Lantai I dan II resmi tutup pada 30 April 2025. Hanya bioskop XXI lantai III yang masih tetap buka," kata Ismail.
Ia tak merinci alasan manajemen menutup operasional Transmart. Begitupun dengan kebijakan konfensasi terhadap karyawan yang terancam PHK apakah ada atau tidak, juga belum dikerahuinya. "Apakah nantinya akan dipindah atau bagaimana selanjutnya, kota belum tahu," katanya.
Untuk diketahui, Transmart Kubu Raya berdiri pada 8 Februari 2018. Transmart merupakan mall yang memadukan konsep berbelanja, bersantap, bermain, dan menonton. Penutupan Transmart Kubu Raya menjadi sorotan tajam dari banyak pihak. Kondisi tersebut dinilai sebagai cerminan dari situasi ekonomi global yang dirasakan hingga level daerah.
Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kalbar, Agus Sudarmansyah menilai langkah penutupan ini tidak lepas dari perang dagang global yang dipicu Amerika Serikat dan tren pergeseran pola konsumsi masyarakat pasca-pandemi.
Menurut mantan Ketua DPRD Kubu Raya ini, penutupan Transmart merupakan efek domino dari melemahnya daya beli masyarakat lokal yang disebabkan stagnasi ekonomi dampak pandemi Covid-19. Gerai ritel besar tersebut diresmikan pada 2019, tepat di tengah masa krisis pandemi yang menyebabkan lesunya transaksi ekonomi secara nasional maupun regional.
"Timing pembukaannya kurang ideal karena terjadi di masa pandemi. Saat itu semua sektor mengalami stagnasi, dan ketika pandemi berakhir, booming e-commerce justru semakin memukul bisnis ritel tradisional," ucap Agus.
Pasca-pandemi, pertumbuhan pesat platform e-commerce membuat belanja online menjadi pilihan utama masyarakat. Hal ini berdampak signifikan pada pusat perbelanjaan fisik seperti Transmart yang mengandalkan transaksi langsung.
"Bukan hanya Transmart di Kubu Raya, fenomena ini juga terjadi di skala nasional. Daya beli masyarakat masih lemah, sehingga banyak lini usaha swasta yang gulung tikar," tambah anggota DPRD Kalbar dari dapil Kubu Raya-Mempawah ini.
Ketua PDI Perjuangan Kubu Raya ini melanjutkan bahwa penutupan Transmart juga menjadi indikator penting bagi pemerintah provinsi dan kabupaten dan kota di Kalbar untuk lebih serius mengantisipasi dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan. Salah satu isu utama adalah nasib puluhan, ratusan atau ribuan tenaga kerja yang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK).
Agus menegaskan bahwa pemerintah harus segera membuka peluang kerja baru melalui inovasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dia juga menawarkan salah satu opsi atau ide solusi strategis untuk menekan dampak penutupan Transmart.
Mengingat lokasinya yang terintegrasi dengan GAIA Mall, ia menyarankan upaya merger antara manajemen kedua entitas atau bahkan alih fungsi Gedung Transmart menjadi usaha lain yang lebih profitable. "Misalnya, gedung tersebut bisa dialihfungsikan menjadi hotel atau pusat bisnis lain yang memiliki prospek bagus di masa depan. Tenaga kerja yang terdampak PHK pun bisa diprioritaskan untuk direkrut kembali oleh manajemen GAIA Mall," usulnya.
Langkah ini dinilai dapat menjadi win-win solution, baik bagi pengelola maupun pekerja yang terkena dampak. Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk menciptakan peluang kerja baru melalui program-program inovatif yang sesuai dengan potensi lokal.
Agus melanjutkan bahwa penutupan Transmart bukan hanya persoalan bisnis semata, tetapi juga peringatan bagi pemerintah daerah untuk lebih proaktif dalam menjaga stabilitas ekonomi lokal. "Kalau kita telusuri lebih jauh, mungkin ada perusahaan-perusahaan swasta lain di daerah yang juga tutup. Ini harus menjadi evaluasi bersama agar dampaknya tidak semakin meluas," tegas Agus.
Ia menambahkan bahwa Pemprov Kalbar harus segera melakukan langkah-langkah antisipatif, termasuk memberikan pelatihan keterampilan kepada pekerja yang terdampak PHK serta menciptakan iklim investasi kondusif untuk menarik investor baru.
Sebab, tutupnya Transmart Kubu Raya menjadi contoh nyata bagaimana gejolak ekonomi global berdampak hingga ke tingkat lokal. Namun, di balik tantangan ini, ada peluang inovasi untuk menciptakan solusi berkelanjutan. "Kolaborasi antara pemerintah, pengusaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk memitigasi dampak negatif dan membangun ekosistem ekonomi yang lebih tangguh di masa depan," pungkasnya.
Perlu Persiapan Risiko Jangka Panjang
Terpisah, Pengamat ekonomi Muhammad Fahmi menilai bahwa penutupan pusat perbelanjaan seperti Transmart bisa terjadi karena kurangnya kesiapan manajemen dalam menghadapi risiko jangka panjang. “Tidak mempersiapkan risiko jangka panjang, hal-hal yang sifatnya mendadak seperti perubahan pasar,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (24/4).
Menurutnya, manajemen mal atau supermarket tidak cukup adaptif terhadap perubahan besar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, terutama saat pandemi Covid-19.
“Ketika Covid-19 melanda, mereka betul-betul tidak bisa berbuat banyak. Padahal pihak lain sudah mulai bertransformasi ke platform daring,” lanjut Fahmi. Ia juga menyebut pergeseran perilaku konsumen turut menjadi faktor signifikan.
Perubahan pola belanja masyarakat dari sistem offline ke marketplace digital menyebabkan penurunan drastis dalam kunjungan dan transaksi di pusat perbelanjaan konvensional. “Daya beli masyarakat menurun dan ini jelas berdampak pada penjualan,” katanya. Fahmi menekankan pentingnya peran fasilitas pendukung di pusat perbelanjaan, seperti tersedianya masjid, sebagai bagian dari pelayanan publik yang lengkap dan inklusif.
Lebih jauh, ia memperingatkan adanya tantangan ekonomi baru yang akan memengaruhi harga barang di Indonesia, menyusul kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat. “Hal ini akan berdampak pada jalur logistik utama di Indonesia, terutama barang-barang impor yang harga jualnya ikut meningkat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti ekspansi pasar China yang kini semakin masif masuk ke negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagai solusi jangka panjang, Fahmi mendorong pelaku usaha ritel untuk melibatkan riset dalam pengembangan bisnis.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi dan industri sangat penting agar strategi yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kondisi lokal. “Di negara-negara maju, sumber daya diarahkan pada riset yang dilakukan oleh akademisi. Ini semestinya juga bisa kita terapkan di sini,” pungkasnya. (den/sti)
Editor : Indra Zakaria