Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ramai di Mal Tapi Tak Ada yang Beli, Muncul Istilah Rojali dan Rohana, Penurunan Daya Beli yang Nyata

Redaksi • 2025-07-26 10:33:25
Fenomena Rojali dan Rohana, apakah sebagai dampak penurunan daya beli masyarakat di Pusat Perbelanjaan. (Kurniawan)
Fenomena Rojali dan Rohana, apakah sebagai dampak penurunan daya beli masyarakat di Pusat Perbelanjaan. (Kurniawan)

Fenomena yang kini ramai dibicarakan warganet, yaitu Rojali dan Rohana, mengungkapkan sebuah kenyataan yang terjadi di pusat-pusat perbelanjaan, terutama di mal-mal besar. Kedua istilah ini, yang mengacu pada kebiasaan pengunjung mal yang hanya melihat-lihat tanpa membeli apapun, semakin mencolok di tengah turunnya daya beli masyarakat. Namun, apa yang sebenarnya terjadi dengan fenomena ini?

Rojali adalah singkatan dari "rombongan jarang beli," sedangkan Rohana singkatan dari "rombongan hanya nanya." Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pengunjung yang datang ke mal dalam kelompok besar, namun tidak melakukan transaksi belanja atau hanya sekadar bertanya tentang harga barang. Banyak yang beranggapan bahwa fenomena ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara tingginya jumlah pengunjung dengan sepinya angka pembelian di mal.

Penyebab Fenomena Rojali dan Rohana: Penurunan Daya Beli

Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menjelaskan bahwa fenomena ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Ia mengungkapkan bahwa kebiasaan konsumen yang hanya melihat-lihat barang sebelum memutuskan untuk membeli sudah ada sejak lama.

Menurutnya, perilaku ini adalah bagian dari proses belanja yang wajar, di mana konsumen ingin memastikan kualitas produk yang akan dibeli dan menghindari barang palsu atau rekondisi. Dalam konteks ini, Rojali dan Rohana hanya menjadi indikasi dari perilaku konsumen yang lebih berhati-hati sebelum melakukan pembelian.

"Orang mau belanja, dicek dulu, lihat barangnya bagus atau tidak, harganya seperti apa. Ini sudah terjadi sejak dulu," jelas Budi dalam sebuah wawancara. Ia juga menambahkan bahwa kebiasaan seperti ini merupakan bagian dari proses pembelian yang normal dan tidak bisa dihindari oleh siapa pun.

Namun, di balik fenomena ini, ada faktor lain yang lebih besar yang perlu diperhatikan, yaitu penurunan daya beli masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menyatakan bahwa fenomena Rojali dan Rohana lebih mencerminkan kondisi perekonomian yang sedang tidak stabil. Daya beli masyarakat, khususnya di kalangan kelas menengah, terus menurun akibat dampak dari kondisi ekonomi global yang mempengaruhi keputusan belanja mereka.

"Kalau di kelas menengah atas, mereka lebih hati-hati dalam berbelanja. Ada pengaruh makroekonomi, mikroekonomi dari global, sehingga mereka lebih memilih belanja atau berinvestasi," ujar Alphonzus.

Sementara itu, di kelas menengah bawah, yang daya belinya semakin terbatas, fenomena Rojali dan Rohana semakin terlihat jelas. Meskipun jumlah pengunjung ke pusat perbelanjaan tetap meningkat, pembelian barang menjadi lebih selektif dan cenderung hanya dilakukan saat benar-benar diperlukan.

Perubahan Pola Belanja di Tengah Penurunan Daya Beli

Alphonzus lebih lanjut menjelaskan bahwa perubahan pola belanja masyarakat merupakan respons terhadap penurunan daya beli. Masyarakat kini lebih cenderung memilih barang dengan harga yang lebih terjangkau dan membeli barang hanya ketika dibutuhkan. Fenomena Rojali dan Rohana ini sudah terlihat sejak Ramadan tahun lalu dan semakin terasa setelah Idulfitri, di mana daya beli masyarakat semakin menurun.

"Pada Ramadan tahun lalu, kita sudah mulai melihat fenomena ini, dan pasca Idulfitri, kondisi ini semakin terasa. Banyak orang datang ke mal, tetapi hanya untuk melihat-lihat atau bertanya tanpa membeli apa pun," tambah Alphonzus. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa meskipun pusat perbelanjaan tetap ramai, pembelian barang tidak sejalan dengan jumlah pengunjung yang datang.

Dampak Fenomena Rojali dan Rohana bagi Pusat Perbelanjaan

Bagi pengelola mal, fenomena ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Meskipun kunjungan ke mal tetap tinggi, penurunan transaksi pembelian bisa berdampak pada pendapatan mereka. Pusat perbelanjaan yang bergantung pada penjualan barang dan penyewaan tempat kepada pedagang kini harus beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen.

Alphonzus juga menyampaikan bahwa untuk mengatasi fenomena ini, pengelola pusat perbelanjaan harus lebih kreatif dalam menarik minat pengunjung. Menawarkan berbagai promosi atau event yang menarik, serta menyesuaikan strategi pemasaran dengan kebutuhan konsumen saat ini, bisa menjadi salah satu solusi untuk mendorong transaksi pembelian.

"Pengelola mal harus lebih cermat dalam memahami tren konsumen. Mereka harus bisa menawarkan pengalaman berbelanja yang lebih menarik dan relevan dengan kondisi ekonomi saat ini," ujar Alphonzus.

 

Fenomena Rojali dan Rohana yang tengah ramai dibicarakan di kalangan warganet tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku konsumen, tetapi juga menggambarkan kondisi perekonomian yang tengah berfluktuasi. Daya beli masyarakat yang menurun, terutama di kalangan kelas menengah bawah, menjadi faktor utama di balik tren ini. Meskipun pusat perbelanjaan tetap ramai dikunjungi, banyak pengunjung yang hanya datang untuk melihat-lihat tanpa membeli. Fenomena ini menunjukkan perlunya penyesuaian dalam strategi pemasaran dan penjualan agar pusat perbelanjaan tetap dapat bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Dengan lebih memahami fenomena Rojali dan Rohana, para pengelola mal dan pengecer bisa lebih bijak dalam menghadapi tantangan pasar yang semakin selektif. Para konsumen pun dihadapkan pada kenyataan bahwa belanja kini lebih dipertimbangkan dengan matang, baik dari segi kebutuhan maupun harga. (*)

 

Editor : Indra Zakaria