Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Lepas dari Bayang-bayang Provinsi Lain, Kaltara Incar Jalur Ekspor Mandiri

Redaksi Prokal • 2026-02-07 14:30:00
Kaltara dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut, namun sebagian besar hasil panen masih dikirim antarwilayah sebelum diekspor. (HRK)
Kaltara dikenal sebagai salah satu sentra produksi rumput laut, namun sebagian besar hasil panen masih dikirim antarwilayah sebelum diekspor. (HRK)

 

PROKAL.CO- Karantina Kalimantan Utara (Kaltara) kini tengah berupaya keras mengubah status daerahnya dari sekadar pemasok bahan baku menjadi daerah pengirim (exporting region) yang mandiri. Selama ini, banyak komoditas unggulan asal Bumi Benuanta yang sebenarnya sudah melanglang buana ke pasar internasional, namun sayangnya pengiriman tersebut masih menumpang melalui pelabuhan di provinsi lain seperti Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. Akibatnya, nilai tambah dan "nama" Kaltara seringkali tenggelam dalam catatan ekspor daerah lain.

Kepala Karantina Kaltara, Ichi Langlang Buana Machmud, menegaskan bahwa instansi yang dipimpinnya kini berperan sebagai instrumen ekonomi yang mendukung penguatan perdagangan luar negeri. Fokus utama saat ini adalah mendorong ekspor langsung (direct call) dari pelabuhan lokal, terutama untuk komoditas primadona seperti rumput laut. Meski Kaltara adalah sentra produksi raksasa, ekspor langsung secara perdana baru tercatat satu kali menuju Korea Selatan, sementara sisanya masih harus "mampir" ke daerah tetangga sebelum dikirim ke luar negeri.

Secara infrastruktur, Kaltara dinilai sudah sangat siap dengan fasilitas pelabuhan yang memadai dan jalur pelayaran yang tersedia. Pihak Karantina pun telah menggandeng PT Pelindo, kelompok nelayan, hingga perusahaan ekspedisi untuk menyatukan visi ini. Namun, tantangan besar masih membayangi, terutama mengenai pemenuhan volume muatan minimal satu kontainer secara berkelanjutan dan efisiensi biaya logistik yang harus bersaing dengan jalur konvensional lewat pelabuhan besar di Jawa atau Sulawesi.

Selain menata sisi pasokan, Karantina Kaltara juga mulai aktif "menjodohkan" pelaku usaha lokal dengan calon pembeli dari luar negeri, termasuk dari India yang baru-baru ini menyatakan minatnya. Di sisi lain, penataan juga perlu dilakukan pada sektor impor yang secara sistem masih tercatat nol, meski secara faktual produk seperti daging dan ternak beredar di masyarakat. Dengan sinergi pemerintah daerah dan pelaku usaha, Kaltara optimis bisa segera memiliki identitas kuat di kancah perdagangan global tanpa harus terus-menerus bergantung pada daerah lain. (*)

Editor : Indra Zakaria