TABALONG – Kabupaten Tabalong telah lama dikenal sebagai salah satu lumbung energi di Kalimantan Selatan. Sejarah pengelolaan emas hitam di wilayah ini ternyata memiliki akar yang sangat dalam, membentang sejak akhir abad ke-19, tepatnya pada tahun 1898. Kala itu, kekayaan minyak dan gas di Bumi Sarabakawa mulai dieksplorasi oleh perusahaan bernama MINJ Bown Maatschappu Martapura.
Perjalanan industri ini terus berkembang seiring dengan pergantian peta kekuatan ekonomi dunia. Pada tahun 1930, operasional sumur migas diambil alih oleh Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM). Namun, ketika zaman penjajahan Jepang melanda, sumur-sumur di kawasan Murung Pudak ini sempat diduduki oleh tentara Jepang sebelum akhirnya direbut kembali oleh BPM melalui persaingan sengit memperebutkan minyak mentah.
Manajer PT Pertamina EP Lapangan Tanjung, Charlie Parmonangan Nainggolan, menceritakan bahwa titik balik perluasan pengelolaan migas terjadi pada tahun 1961 saat perusahaan asing Shell mulai masuk. Di bawah pengelolaan Shell, untuk pertama kalinya migas dari Tabalong dikirim ke kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, sebuah langkah strategis yang mengintegrasikan jalur distribusi energi di daratan Kalimantan.
Transisi besar kembali terjadi pada tahun 1968, ketika seluruh kemajuan pengelolaan migas diserahkan kepada Permina, yang tak lama kemudian berubah nama menjadi Pertamina. Meski sempat melalui berbagai dinamika kontrak, termasuk kerja sama Enhanced Oil Recovery (EOR) dengan Southern Cross dan Bonham pada 1989, kendali operasional sempat beralih ke tangan Bow Valley pada 1992 dan dilanjutkan oleh Talisman.
Eksistensi Pertamina sebagai penguasa penuh pencarian migas di Tabalong baru benar-benar mantap kembali pada tahun 2004 di bawah nama PT Pertamina EP UBEP Tanjung. Seiring reorganisasi di tubuh perusahaan plat merah tersebut, unit ini kemudian berkembang menjadi bagian dari Pertamina EP Asset 5 Lapangan Tanjung.
Kini, pengelolaan migas di Tabalong telah memasuki era baru yang lebih terintegrasi. Sejak tahun 2021, operasional lapangan ini resmi masuk ke dalam kawasan Pertamina Hulu Indonesia (PHI) Zona 9 Lapangan Tanjung. Perjalanan panjang dari abad ke-19 hingga era modern ini menjadi bukti bahwa Tabalong tetap menjadi pilar strategis dalam menyokong kebutuhan energi nasional hingga saat ini. (*)
Editor : Indra Zakaria