Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Harta Karun Masa Depan: Kalbar Jadi Incaran Dunia Lewat Rekor Logam Tanah Jarang di Melawi dan Boyan Hulu

Redaksi Prokal • Rabu, 3 Juni 2026 | 10:30 WIB
Eksplorasi tambang logam tanah jarang. (Rare-earth-mining.com)
Eksplorasi tambang logam tanah jarang. (Rare-earth-mining.com)

PROKAL.CO- Kalimantan Barat kini resmi masuk dalam radar utama peta pengembangan mineral kritis nasional. Badan Industri Mineral (BIM) secara strategis mengidentifikasi dua kawasan di Kalbar, yakni Blok Melawi dan Blok Boyan Hulu, sebagai wilayah yang menyimpan potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) serta antimon berkadar tinggi. Langkah ini menempatkan Kalbar di posisi istimewa, mengingat dari delapan blok mineral kritis yang diprioritaskan di seluruh Indonesia, dua di antaranya berada di tanah Borneo Barat.

Kepala BIM, Brian Yuliarto, dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI sempat menegaskan bahwa dua blok di Kalbar tersebut merupakan tulang punggung kawasan yang memiliki sumber daya mineral kritis primer yang sangat menjanjikan untuk masa depan industri teknologi tinggi. “Kemudian juga yang berikutnya itu adalah Blok Melawi, Blok Boyan Hulu, Blok Mamuju, dan Blok Bombana,” ungkap Brian menjelaskan daftar wilayah yang kini menjadi fokus jajarannya.

Melawi Pegang Rekor Tertinggi, Boyan Hulu Kuasai Antimon

Daya tarik utama Kalimantan Barat berada di Blok Melawi. Kawasan eksplorasi seluas 54.000 hektare ini tercatat memiliki kandungan logam tanah jarang dengan kadar total mencapai 81.720 parts per million (ppm). Angka fantastis ini otomatis menempatkan Melawi sebagai pemilik kadar LTJ tertinggi di Indonesia, mengalahkan blok-blok lain seperti Toboali di Bangka Belitung atau Mamuju di Sulawesi Barat. Kandungan raksasa ini membuat Melawi berpotensi menjadi modal utama Indonesia dalam menyuplai bahan baku kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI).

Di sisi lain, Blok Boyan Hulu menyajikan pesona berbeda dengan luas lahan 8.492 hektare. Wilayah ini dipetakan kaya akan kandungan antimon dengan kadar luar biasa mencapai 70 hingga 95 persen. Antimon sendiri merupakan mineral kritis yang menjadi bahan baku wajib dalam pembuatan komponen elektronik, semikonduktor, baterai, hingga material tahan api.

Namun, ambisi mengeruk kekayaan alam ini harus berhadapan dengan tantangan lingkungan yang nyata. Sekitar 20 persen wilayah Blok Melawi dan 15 persen area Blok Boyan Hulu berada di dalam kawasan hutan lindung. Kondisi ini menuntut pemerintah dan pelaku industri untuk menerapkan kajian lingkungan yang sangat ketat agar eksploitasi tidak merusak paru-paru hijau Kalbar.

Langkah agresif BIM dalam memetakan delapan blok nasional—termasuk empat blok di Bangka Belitung dan masing-masing satu di Sulawesi Barat serta Sulawesi Tenggara—bukan tanpa alasan. Saat ini dunia sedang terlibat persaingan sengit untuk mengamankan pasokan logam tanah jarang demi memutus ketergantungan dari China yang menguasai 60 persen produksi global dan hampir 90 persen kapasitas pemurnian dunia.

Berdasarkan data International Energy Agency (IEA), permintaan global terhadap unsur tanah jarang magnetik seperti neodymium dan dysprosium sudah melonjak dua kali lipat dan diproyeksikan kembali membubung tinggi pada 2030. Terlebih setelah China menerapkan pembatasan ekspor ketat yang sempat membuat raksasa otomotif dunia kelimpungan akibat kelangkaan bahan baku.

Masuknya Melawi dan Boyan Hulu dalam lingkaran proyek strategis ini jelas membuka pintu lebar bagi lompatan ekonomi di Kalimantan Barat. Jika proses eksplorasi hingga hilirisasi berhasil dieksekusi dengan matang, Kalbar tidak hanya sekadar menjadi penonton, melainkan pemain kunci dalam rantai pasok teknologi global. Tantangan terbesarnya kini tinggal bagaimana menyelaraskan keuntungan ekonomi yang menggiurkan tersebut dengan komitmen pelestarian alam yang berkelanjutan. (*)

Editor : Indra Zakaria
#tanah jarang #kalbar