Dari Berau untuk Dunia: Kakao Premium Bumi Batiwakkal Sukses Rambah Prancis hingga Kanada

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 06:43 WIB
Komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Berau dalam mengawal mata rantai industri kakao mulai dari kualitas biji fermentasi di gudang pascapanen hingga menjadi produk olahan cokelat.
Komitmen penuh Pemerintah Kabupaten Berau dalam mengawal mata rantai industri kakao mulai dari kualitas biji fermentasi di gudang pascapanen hingga menjadi produk olahan cokelat.

TANJUNG REDEB — Komoditas perkebunan dari Kabupaten Berau kembali membuktikan tajinya di panggung internasional. Melalui komitmen kuat dalam penguatan hilirisasi, biji kakao fermentasi premium asal Bumi Batiwakkal kini menjadi rebutan industri cokelat dunia, sukses menembus pasar Eropa hingga Amerika Utara.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh mendampingi para petani lokal agar produk mereka mampu naik kelas. Pembinaan intensif dilakukan secara menyeluruh dari sektor hulu hingga hilir.

"Pemerintah daerah berkomitmen penuh memfasilitasi para petani kakao, mulai dari penyediaan bibit unggul, pelatihan budidaya, hingga memperluas jaringan pasar agar komoditas lokal kita ini bisa naik kelas," ujar Sri Juniarsih Mas.

Kakao Berau dikenal memiliki karakteristik rasa yang sangat khas, yaitu perpaduan rasa pahit yang kuat dengan sentuhan asam segar yang seimbang. Keunikan cita rasa inilah yang membuat produsen cokelat hitam termasyhur di dunia asal Prancis, Valrhona, kepincut.

Pada November 2025, Berau sukses mencatatkan ekspor perdana sebesar 20 ton ke Prancis. Tren positif ini terus berlanjut hingga pertengahan tahun 2026, di mana Bupati Sri Juniarsih kembali melepas ekspor sebanyak 10 ton biji kakao fermentasi premium ke negara yang sama. Selain Prancis, gurita pasar kakao Berau kini telah merambah ke Amerika Serikat (khususnya wilayah Virginia), Belanda, Swiss, hingga Kanada.

Sementara untuk pasar domestik, komoditas unggulan ini rutin dikirim ke berbagai kota besar seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, Bogor, Malang, dan Makassar untuk memenuhi kebutuhan industri kuliner premium.

Perjalanan kakao Berau untuk mendunia sempat menemui tantangan berat. Setelah mencatatkan produksi sebesar 463,7 ton hingga semester II tahun 2024, kapasitas produksi daerah yang rata-rata menyentuh 800 ton per tahun sempat terprediksi terkoreksi akibat dampak banjir besar yang merusak lahan pertanian.

Namun, memasuki pertengahan tahun 2026, pemulihan lahan terus digenjot. Dinas Perkebunan (Disbun) Kabupaten Berau bergerak taktis dengan menggandeng Sekolah Tani Indonesia (STI) untuk memperkuat kapasitas petani, khususnya dalam standarisasi teknik fermentasi dan pengeringan guna menjaga stabilitas pasokan serta mutu pascapanen.

Sekretaris Disbun Berau, Mansur Tanca, menjelaskan bahwa kolaborasi dengan STI ini berfokus untuk menyempurnakan mata rantai niaga dari hulu hingga hilir agar para petani mendapatkan nilai tambah yang nyata.

"Karena mereka membina dari hulu sampai hilir. Jadi petani tidak hanya berhasil memproduksi, tetapi juga memiliki akses pasar. Jangan sampai hasilnya bagus, tapi tidak ada market-nya," pungkas Mansur. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
berau