Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kontroversi Kartu Merah, Klasifikasi Selebrasi Aymen Hussein Berdasarkan Law of The Game IFAB

Indra Zakaria • 2024-01-30 13:50:35
KONTROVERSIAL: Selebrasi Aymen Hussein harus dibayar mahal dengan kartu merah dan tersingkirnya Irak dari Piala Asia 2023. (AFC)
KONTROVERSIAL: Selebrasi Aymen Hussein harus dibayar mahal dengan kartu merah dan tersingkirnya Irak dari Piala Asia 2023. (AFC)

 

 Yordania berhasil melaju ke perempat final Piala Asia 2023 dengan kemenangan dramatis atas Irak pada Senin (29/1). Namun, kisah menegangkan itu diwarnai oleh kontroversi ketika penyerang Irak, Aymen Hussein, dikeluarkan dari lapangan setelah selebrasi gol yang memicu pertanyaan serius terkait keputusan wasit. 

Kemenangan yang seharusnya menjadi sorotan positif bagi Yordania, kini menjadi sorotan akibat insiden yang mengocok pertandingan tersebut.

 

Pertandingan berlangsung ketat, dengan Irak unggul 2-1 melalui gol Aymen Hussein pada menit ke-76. Namun, selebrasi kontroversial Aymen Hussein setelah mencetak gol tersebut membuatnya mendapatkan kartu kuning kedua, memaksa Irak bermain dengan 10 pemain. Keadaan semakin sulit bagi Irak ketika Yordania menyamakan kedudukan di menit kelima waktu tambahan (90+5) dan akhirnya mencetak gol kemenangan (90+7).

Pelatih Irak, Jesus Casas, tidak terima dengan keputusan wasit terkait kartu merah untuk Aymen Hussein. Dia menilai bahwa tindakan tersebut tidak konsisten dengan perlakuan wasit terhadap selebrasi pemain Yordania di babak pertama. Kontroversi semakin memuncak karena kartu merah diberikan setelah Irak menggunakan semua pergantian pemain, membuat situasinya semakin sulit. 

"Dalam turnamen besar seperti Piala Asia, Anda tidak dapat mengecualikan pemain setelah merayakan gol," tegas Jesus Casas dalam konferensi pers pasca pertandingan. "Masalahnya ada pada waktu kartu merah ini. Itu terjadi setelah kami menggunakan semua pergantian pemain, jadi ini adalah situasi yang sangat sulit. Kami tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan apa pun di dalam lapangan."

Jesus Casas juga mengkritik kurangnya konsistensi wasit dalam menanggapi selebrasi pemain. Dia menyoroti bahwa pemain Yordania melakukan selebrasi provokatif di babak pertama, tetapi tidak mendapat tindakan dari wasit. Keputusan yang dianggap tidak adil ini memicu pertanyaan serius terkait penegakan aturan dalam turnamen tersebut.

Dalam Law of The Game IFAB, UU 12 mengatur tentang 'fouls and misconduct' terkait perayaan gol. Meskipun selebrasi di lapangan permainan tidak dianggap sebagai pelanggaran yang dapat diwaspadai, undang-undang tersebut menjelaskan bahwa perayaan tidak boleh berlebihan dan tidak boleh membuang-buang waktu secara berlebihan.

Pada kasus ini, kartu merah diberikan dengan dasar selebrasi yang dianggap 'memberi isyarat atau bertindak dengan cara yang provokatif, mencemooh, atau menghasut.' Klasifikasi ini menjadi titik perdebatan, dengan pihak Jesus Casas berpendapat bahwa hal tersebut tidak konsisten dengan penanganan selebrasi pemain Yordania di babak pertama.

 

Belum ada klarifikasi resmi dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) terkait insiden ini. Kontroversi ini menunjukkan betapa pentingnya konsistensi dan transparansi dalam penegakan aturan dalam dunia sepak bola.

Kemenangan Yordania yang semestinya meriah akhirnya terbungkus kontroversi, dan sementara mereka melangkah ke perempat final, insiden ini meninggalkan pertanyaan besar tentang integritas dan keadilan dalam Piala Asia 2023. (*)

Editor : Indra Zakaria
#Piala Asia