PROKAL.CO- Seolah mengulang naskah lama yang pahit, Arsenal kembali berdiri di tepi jurang kegagalan yang sama musim ini. Setelah berbulan-bulan menguasai puncak klasemen Liga Inggris, skuat asuhan Mikel Arteta kini terdepak ke posisi kedua, dihantui trauma menjadi runner-up untuk kesekian kalinya. Kondisi ini membangkitkan ingatan pada musim 2022/2023 dan 2023/2024, di mana dominasi mereka di waktu Natal selalu berakhir tanpa trofi di akhir musim.
"Hantu" yang menciptakan trauma itu tidak lain adalah Manchester City. Hanya dalam waktu satu bulan, keunggulan sembilan poin yang dimiliki Arsenal menguap begitu saja. Puncaknya terjadi saat City berhasil mengudeta posisi puncak klasemen berkat kemenangan tipis 1-0 atas Burnley pada Kamis lalu. Meski poin kedua tim kini identik di angka 70, City berhak berada di singgasana karena unggul produktivitas gol dengan catatan 66 gol berbanding 63 milik The Gunners.
Rasa sakit yang dirasakan Arsenal kian dalam karena mereka seperti menelan dua kekalahan dari City hanya dalam waktu empat hari. Sebelum kehilangan puncak klasemen, Arsenal lebih dulu takluk 1-2 dalam laga krusial bertajuk title race di Stadion Etihad pada hari Minggu sebelumnya. Ironisnya, City melakukan kudeta ini di tengah periode regenerasi skuat mereka. Tanpa nama-nama besar seperti Kevin De Bruyne hingga Ilkay Gundogan yang telah hengkang, serta kondisi Rodri yang cedera, City rupanya masih memiliki mentalitas yang jauh lebih matang dibandingkan Arsenal yang sedang berada dalam performa terbaiknya.
Kini, kutukan bulan April kembali menghantui Emirates Stadium. Sejak ditangani Arteta pada 2019, April selalu menjadi masa di mana harapan Arsenal "gugur" satu per satu. Catatan statistik menunjukkan dari 26 laga di bulan April, Arsenal menelan 15 hasil negatif. Musim ini pun polanya serupa; dimulai dengan kekalahan dari Bournemouth, hingga kegagalan di kompetisi lain seperti tersingkir dari Piala FA oleh tim kasta kedua, Southampton, dan kalah di final Piala Liga dari City. Dari semula digadang-gadang mampu meraih quadruple, kini Arsenal terancam menutup musim tanpa satu pun gelar di tangan.
Namun, harapan belum sepenuhnya mati karena masih tersisa lima laga yang berpotensi menghadirkan plot twist. Selisih gol dan produktivitas akan menjadi kunci penentu juara musim ini. Arsenal dituntut tidak hanya menang, tapi juga mencetak banyak gol dimulai dari laga kontra Newcastle United malam ini. Tantangan bagi The Gunners saat ini bukan lagi sekadar taktik di lapangan hijau, melainkan bagaimana mereka mengatasi kepanikan di ruang ganti dan membuktikan bahwa mereka memiliki mental juara untuk mengakhiri dominasi City. (*)
Editor : Indra Zakaria