PROKAL.CO- Panggung megah Piala Dunia 2026 resmi dibuka dengan gemuruh luar biasa di Stadion Azteca, Mexico City. Sang tuan rumah bersama, Meksiko, sukses menandai laga pembuka dengan kemenangan krusial 2-0 atas Afrika Selatan. Hasil positif ini menjadi torehan sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya sepanjang keikutsertaan di Piala Dunia, tim berjuluk El Tri tersebut berhasil memetik poin penuh pada pertandingan perdana mereka. Duel panas ini tidak hanya menyajikan taktik tingkat tinggi, tetapi juga drama menegangkan yang berujung pada banjir kartu merah dari saku wasit.
Stadion Azteca sendiri menasbihkan diri sebagai arena pertama di dunia yang dipercaya menggelar tiga edisi Piala Dunia yang berbeda. Di hadapan lebih dari 80 ribu pasang mata yang memadati tribun, penyerang andalan Julian Quinones langsung menghentak lewat gol cepat pada menit kesembilan setelah sepakan rendahnya sukses mengolongi kiper Afrika Selatan, Ronwen Williams. Gol tersebut masuk dalam jajaran gol pembuka tercepat dalam sejarah turnamen, menyamai catatan ikonik Philipp Lahm pada edisi 2006 silam.
Baca Juga: Drama Comeback di Guadalajara: Korea Selatan Jinakkan Ceko dan Intai Meksiko di Puncak Grup A
"Saya senang dan bersemangat bisa mencetak gol di stadion yang penuh dengan dukungan suporter. Kami bermain baik dan meraih kemenangan ini sebagai tim," ungkap Quinones penuh kegembiraan saat diwawancarai ESPN.
Atmosfer magis di atas lapangan diakui sangat membakar semangat para pemain bertahan tuan rumah. Bek Meksiko, Israel Reyes, bahkan menyebut malam itu sebagai puncak dari segala impian masa kecilnya yang menjadi kenyataan di bawah sorotan lampu stadion.
"Ini pengalaman yang berbeda dari apa pun yang pernah saya rasakan. Semua berjalan seperti yang saya impikan selama bertahun-tahun," ujar Reyes tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
Baca Juga: Gemuruh Estadio Azteca: El Tri Sempurna di Laga Pembuka Lewat Air Mata Jimenez dan Sihir Mora
Memasuki paruh kedua, tensi pertandingan meningkat drastis hingga mengubah lapangan hijau menjadi arena pertempuran yang keras. Afrika Selatan harus bermain dengan sepuluh orang sejak awal babak kedua setelah Sphephelo "Yaya" Sithole diganjar kartu merah langsung akibat mengganjal peluang emas Brian Gutierrez. Unggul jumlah pemain, Meksiko langsung tancap gas dan menggandakan keunggulan lewat sundulan maut Raul Jimenez. Gol ini menjadi gol internasional ke-46 bagi sang striker veteran, sekaligus gol perdananya dalam tiga edisi Piala Dunia yang pernah ia jalani sepanjang karier profesionalnya.
Drama belum berakhir karena Afrika Selatan kembali kehilangan pilar mereka, Themba Zwane, yang diusir wasit setelah tinjauan VAR membuktikan dirinya melakukan pemukulan terhadap wajah Roberto Alvarado. Wasit asal Brasil, Wilton Pereira Sampaio, akhirnya menggenapi total tiga kartu merah dalam laga ini setelah bek Meksiko, Cesar Montes, turut diusir keluar pada masa tambahan waktu akibat pelanggaran keras.
Selain hujan kartu dan kemenangan manis, publik Meksiko juga dibuat bersemangat oleh sejarah baru yang diukir oleh Gilberto Mora. Masuk sebagai pemain pengganti di usia 17 tahun 240 hari, ia resmi dinobatkan sebagai pemain termuda dalam sejarah timnas Meksiko di ajang Piala Dunia. Gelandang Erik Lira menegaskan bahwa skuad El Tri sejak awal memang memikul beban dan harapan dari jutaan rakyat mereka untuk bisa melangkah sejauh mungkin setelah kegagalan pahit di Qatar 2022 lalu.
"Kami tahu ini tanggung jawab besar karena kami mewakili jutaan rakyat Meksiko. Sejak peluit awal berbunyi, target kami hanya satu, yaitu menang," tegas Lira dengan penuh percaya diri.
Dengan raihan tiga poin ini, Meksiko berhak memuncaki klasemen sementara Grup A dan dijadwalkan akan terbang ke Guadalajara untuk menantang raksasa Asia, Korea Selatan, pada 18 Juni mendatang. Pertandingan pembuka ini sebelumnya diawali dengan upacara pembukaan yang sangat megah, yang mempertemukan diva dunia Shakira bersama Burna Boy membawakan lagu resmi "Dai Dai", serta penampilan kolosal dari Andrea Bocelli dan musisi legendaris Lila Downs yang menyapa dunia dalam berbagai bahasa asli suku Meksiko.(*)
Editor : Indra Zakaria