Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Qatar Sudah Compang-camping Diganjar 2 Kartu Merah, Kanada Enggan 'Kasih Kendor' hingga Hancur 6-0, Pelatihnya Ngamuk

Redaksi Prokal • Sabtu, 20 Juni 2026 | 10:01 WIB
Jesse Marsch (kanan) terlibat perseteruan sengit dengan bos Qatar, Julen Lopetegui (tengah).
Jesse Marsch (kanan) terlibat perseteruan sengit dengan bos Qatar, Julen Lopetegui (tengah).

PROKAL.CO- Tensi tinggi dan drama di lapangan hijau tidak hanya terjadi karena perebutan bola, melainkan bisa dipicu oleh masalah "etika" intensitas pertandingan. Baru-baru ini, laga antara Kanada dan Qatar berakhir dengan perselisihan sengit yang melibatkan kedua pelatih kepala di pinggir lapangan.

Melansir laporan dari media terkemuka Brasil, ge.globo, bentrokan mulut antara pelatih kepala Qatar, Julen Lopetegui, dan pelatih kepala Kanada, Jesse Marsch, dipicu oleh rasa frustrasi mendalam atas jalannya babak kedua. Lopetegui dilaporkan tidak terima dan mengeluhkan sikap Marsch yang tetap menginstruksikan anak asuhnya untuk tampil "kesetanan" tanpa menurunkan intensitas permainan.

Situasi Berat Sejak Menit ke-52

Pertandingan sebenarnya berjalan sangat timpang sejak awal. Petaka luar biasa menghantam Qatar ketika mereka harus bermain dengan hanya sembilan orang di lapangan pada menit ke-52 akibat kartu merah, di mana saat itu posisi mereka sudah tertinggal 3-0. Melihat situasi lawan yang pincang, Kanada di bawah komando Jesse Marsch bukannya mengendurkan serangan atau sekadar melakukan penguasaan bola aman, mereka justru terus menggempur pertahanan negara Arab tersebut di setengah jam terakhir laga. Alhasil, Kanada menutup pertandingan dengan kemenangan telak dan tanpa ampun lewat skor 6-0.

Lopetegui Anggap Kanada Berlebihan

Bagi seorang Julen Lopetegui, tindakan tim lawan yang terus membombardir skuadnya yang sudah compang-camping dinilai sudah sangat berlebihan dan tidak menghormati lawan. Frustrasinya memuncak karena sepanjang laga ia melihat Jesse Marsch sama sekali tidak memberikan gestur atau perintah kepada para pemain Kanada untuk bermain lebih santai.

Hingga peluit panjang ditiup, adu argumen antara kedua juru taktik tersebut tidak terhindarkan di pinggir lapangan. Kubu Kanada tampaknya merasa bahwa mencetak gol sebanyak-banyaknya adalah bentuk profesionalisme, sementara kubu Qatar menganggap hal itu sebagai tindakan yang mencederai semangat fair play di saat lawan sudah tidak berdaya. (*)

Editor : Indra Zakaria
#kanada #qatar