PROKAL.CO- Tim nasional sepak bola Swiss terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan sepak bola di Eropa yang paling unik. Di balik kedisiplinan taktis yang mereka peragakan di lapangan hijau, skuad Rossocrociati menyimpan kekayaan latar belakang budaya yang luar biasa, di mana mayoritas bintang utamanya merupakan imigran generasi pertama dan kedua yang kini bersatu di bawah bendera Palang Merah.
Keberagaman ini bahkan melahirkan istilah khusus di negara mereka, yaitu "Secundos", sebutan ramah untuk generasi kedua imigran yang lahir atau besar di Swiss. Fenomena ini diakui langsung oleh sang pelatih kepala, Murat Yakin, sebagai sebuah berkah yang membentuk karakter tangguh timnya.
“Kekuatan terbesar kami terletak pada keragaman ini. Para pemain membawa bakat alamiah, kreativitas, dan gairah dari tanah leluhur mereka, lalu kami satukan dengan disiplin serta etos kerja ketat khas Swiss,” ujar Murat Yakin saat menjelaskan fondasi harmonis di dalam ruang ganti timnya.
Baca Juga: Jinakkan Aljazair 2-0 di Vancouver, Swiss Melesat ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Warisan Darah Balkan dan Eks-Yugoslavia
Identitas sepak bola modern Swiss tidak bisa dilepaskan dari gelombang migrasi besar-besaran akibat konflik perang Balkan pada era 1990-an. Kelompok inilah yang melahirkan pilar-pilar ikonik yang menjadi motor serangan Swiss selama lebih dari satu dekade.
Nama-nama besar seperti Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri, bersama talenta muda Ardon Jashari, merupakan pemain yang memiliki darah Kosovo-Albania yang sangat kental. Selain mereka, jejak Balkan juga tertanam pada mantan penyerang andalan Admir Mehmedi yang keturunan Albania-Makedonia Utara, serta striker kawakan Haris Seferovic yang lahir dari orang tua asal Bosnia & Herzegovina.
Ledakan Bakat Benua Hitam di Lini Pertahanan dan Serang
Selain wilayah Balkan, imigrasi dari benua Afrika dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah wajah lini serang dan benteng pertahanan Swiss menjadi jauh lebih bertenaga dan atletis.
Sektor juru gedor utama mereka dipimpin oleh Breel Embolo, penyerang yang lahir langsung di Yaounde, Kamerun, sebelum masa kecilnya berpindah ke Swiss. Di lini belakang, bek tangguh Manuel Akanji tampil kokoh berkat darah campuran dari ayahnya yang berasal dari Nigeria dan ibunya yang merupakan warga negara Swiss. Tak ketinggalan, nama-mana seperti Denis Zakaria dan Jordan Lotomba membawa trah Republik Demokratik Kongo, sementara Edimilson Fernandes mewakili garis keturunan Senegal dan Tanjung Verde.
Perpaduan Eropa, Amerika Latin, dan Nilai Historis Turki
Keunikan Swiss semakin lengkap dengan hadirnya darah campuran dari belahan dunia lain. Bek sayap senior Ricardo Rodriguez memiliki latar belakang keluarga yang sangat multikultur, di mana sang ayah berasal dari Spanyol sementara ibunya lahir di Chili.
Menariknya, identitas imigran ini juga melekat pada diri sang pelatih sendiri. Murat Yakin, bersama saudaranya yang juga legenda Swiss, Hakan Yakin, serta eks penyerang Eren Derdiyok, merupakan figur sepak bola ternama Swiss yang memiliki garis keturunan Turki. “Kami tidak melihat dari mana orang tua mereka berasal, melainkan bagaimana mereka bangga mengenakan jersi Swiss. Perpaduan warisan budaya dunia inilah yang membuat kami selalu siap menjadi tim kuda hitam yang menakutkan di turnamen besar,” pungkas Murat Yakin. (*)
Editor : Indra Zakaria