PROKAL.CO- Kegagalan tragis tim nasional Jerman di panggung Piala Dunia 2026 langsung memicu gelombang reaksi hebat di jagat maya. Bukan hanya menyoroti taktik di lapangan, jutaan warganet justru ramai-ramai mengaitkan hancurnya prestasi Die Mannschaft dengan memori kelam perlakuan diskriminatif terhadap mantan gelandang bintang mereka, Mesut Ozil.
Dilansir dari laman The Current pada Jumat (3/7/2026), narasi mengenai "karma Ozil" kembali mencuat ke permukaan. Hal ini terjadi setelah raksasa Eropa tersebut secara memalukan gagal melaju ke babak 16 besar untuk ketiga kalinya secara berturut-turut di turnamen paling bergengsi antarnegara ini.
Langkah Jerman terpaksa terhenti di babak 32 besar setelah didepak oleh tim underdog, Paraguay, lewat drama adu penalti yang menegangkan. Setelah bermain imbang dengan intensitas tinggi hingga babak perpanjangan waktu, dewi fortuna nyatanya lebih berpihak kepada wakil Amerika Selatan tersebut.
Kekalahan ini terasa sangat menyakitkan bagi publik Jerman. Hasil minor di Amerika Utara tersebut resmi mencatatkan sejarah kelam, yakni untuk pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Piala Dunia, Jerman harus menelan kekalahan dalam babak adu penalti.
Ramai-Ramai Mengungkit Memori Kelam Piala Dunia 2018
Sesaat setelah eksekutor penalti Paraguay mengunci kemenangan, lini masa media sosial langsung dibanjiri oleh komentar yang mengungkit kembali kisah mundurnya Mesut Ozil dari tim nasional Jerman pada tahun 2018 silam.
Banyak pencinta sepak bola menilai bahwa penurunan drastis performa Jerman yang seolah kehilangan taji di level internasional bermula sejak perlakuan buruk yang diterima Ozil pasca-Piala Dunia 2018. Warganet bahkan bernostalgia dan menegaskan bahwa tinta emas kejayaan Jerman saat merengkuh trofi Piala Dunia 2014 di Brasil silam tidak lepas dari visi bermain luar biasa milik sang maestro di lini tengah.
Sebagai pengingat, Ozil memutuskan gantung sepatu dari karier internasionalnya dengan alasan yang sangat sensitif, yakni karena merasa menjadi korban rasisme dan penghinaan yang sistematis terkait garis keturunan Turki yang ia miliki. Kontroversi tersebut meledak setelah foto dirinya bersama Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, viral dan memicu gelombang kritik pedas yang tidak proporsional dari berbagai pihak di internal publik Jerman.
Dalam surat terbuka pengunduran dirinya saat itu, Ozil mengaku menerima berbagai surat kebencian, ancaman fisik, hingga dijadikan kambing hitam tunggal atas jebloknya prestasi Jerman di Rusia.
Gelandang yang sempat membela Real Madrid dan Arsenal tersebut menyampaikan bahwa dirinya merasa diperlakukan dengan standar ganda, meskipun ia sudah memberikan segenap kemampuan dan trofi prestisius untuk sepak bola Jerman. Ia secara terbuka mempertanyakan mengapa ia mendapatkan perlakuan diskriminatif yang kental dengan sentimen latar belakang etnis serta keyakinan agama yang dianutnya.
Meskipun anggapan mengenai kutukan atau "karma" tersebut murni merupakan opini subjektif dan teori emosional yang berkembang di kalangan netizen, kisah pilu Ozil terbukti masih terus membayangi dan selalu diangkat ke permukaan setiap kali Jerman menelan pil pahit di turnamen-turnamen besar. (*)
Editor : Indra Zakaria