PROKAL.CO- Kekalahan dramatis Kroasia dari Portugal dengan skor 1-2 di babak 32 besar Piala Dunia 2026 menyisakan kekecewaan mendalam, terutama bagi sang kapten, Luka Modric. Keputusan Video Assistant Referee (VAR) yang membatalkan gol penyeimbang Josko Gvardiol di menit-menit akhir masa injury time dinilai telah merenggut keindahan alami dari olahraga ini.
Laga hidup mati di Stadion Toronto tersebut sejatinya menyajikan drama tingkat tinggi. Tepat sebelum peluit panjang berbunyi, seisi stadion bergemuruh saat Josko Gvardiol sukses menyarangkan bola ke gawang Portugal. Gol tersebut sempat menghidupkan asa Kroasia untuk memaksakan babak perpanjangan waktu, sebelum akhirnya dianulir secara kontroversial oleh VAR akibat indikasi sentuhan kecil beberapa saat sebelum gol tercipta.
Protes Keras Terhadap Keputusan Marginal
Ditemui usai pertandingan dengan raut wajah yang tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, Luka Modric meluapkan unek-uneknya terkait bagaimana teknologi mulai mendominasi esensi dari sepak bola itu sendiri. “Ini sepak bola. Bukan ruang sidang, bukan laboratorium di mana kita membekukan setiap bingkai dan berdebat soal sentimeter. Malam ini kami memberikan segalanya melawan tim Portugal yang sangat bagus. Kami masih bertarung hingga jauh ke dalam waktu tambahan,” ujar Luka Modric dengan nada masygul.
Gelandang veteran tersebut menegaskan bahwa seluruh penggawa Kroasia terus percaya dan menekan hingga detik terakhir. Ia tidak menampik bahwa dirinya menghormati korps baju hitam, namun ia mempertanyakan penerapan regulasi VAR yang kini dinilai sudah bergeser dari tujuan awalnya.
“Para pemain terus percaya, terus menekan, dan ketika bola itu masuk melalui Josko, kami pikir kami berhasil—penyeimbang, perpanjangan waktu, segalanya masih mungkin. Lalu VAR masuk dan merebutnya karena sentuhan lebih awal dalam gerakan itu. Saya menghormati wasit, benar-benar. Tapi aturannya jelas: kesalahan yang jelas dan nyata. Apakah ini salah satunya? Hal-hal kecil ini, keputusan marginal di mana para pemain bertarung untuk setiap inci… itulah sepak bola. Itulah yang dilakukan bek dan penyerang setiap hari,” cetus Modric.
Teknologi yang Merenggut Emosi dan Jiwa Permainan
Bagi maestro lini tengah tersebut, intervensi teknologi yang terlalu detail hingga hitungan milimeter justru membunuh drama spontan yang membuat miliaran orang jatuh cinta pada sepak bola. Modric merasa aturan saat ini terlalu kaku dan justru merusak klimaks dari sebuah pertandingan besar.
“Jika kita mulai membatalkan gol seperti itu di detik-detik terakhir karena sentuhan sepersekian detik atau bahu atau jari kaki, lalu apa yang tersisa bagi kita? Permainan kehilangan jiwanya. Emosi, kekacauan, momen-momen yang membuat orang jatuh cinta dengan sepak bola—semuanya direnggut oleh teknologi yang seharusnya hanya memperbaiki kesalahan nyata,” keluhnya.
Ia menambahkan bahwa menerima kekalahan adalah bagian dari olahraga yang sudah ia geluti sepanjang hidupnya. Namun, kalah karena sebuah keputusan yang terasa seperti dipaksakan di atas meja digital memberikan rasa sakit yang berbeda.
“Kami menerima bahwa terkadang bola tidak berpihak pada kita. Kami sudah melakukannya sepanjang karier kami. Tapi ketika keputusan terasa seperti menulis ulang bab terakhir pertandingan alih-alih hanya memperbaiki sesuatu yang jelas, itu menyakitkan. Bukan hanya kami di ruang ganti, tapi semua orang yang menonton dan menjalani setiap detik bersama kami,” tambahnya lagi.
Meski melontarkan kritik tajam pada sistem pengadil lapangan, Modric tetap menunjukkan jiwa sportsmanship yang tinggi dengan memberikan selamat atas kelolosan Portugal ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Kendati demikian, ia menutup keterangannya dengan sebuah refleksi mendalam tentang masa depan sepak bola modern.
“Portugal pantas lolos, mereka tim kuat dan mereka membuktikannya. Tapi malam seperti ini membuatmu bertanya-tanya ke mana arah permainan ini. Kami bermain dengan hati kami, kami bertarung hingga peluit, dan kemudian satu tinjauan memutuskan segalanya. Itu bukan lagi melindungi sepak bola. Itu mengubahnya menjadi sesuatu yang lain,” pungkas Modric dengan kecewa. (*)
Editor : Indra Zakaria