Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Jude Bellingham:: Tak Harus Estetik, Kadang Harus Menang Kotor

Redaksi Prokal • Selasa, 14 Juli 2026 | 08:15 WIB
Jude Bellingham
Jude Bellingham

MIAMI – Lagu legendaris “Hey Jude…” milik The Beatles menggema dahsyat di Hard Rock Stadium. Lebih dari 30 ribu pendukung Inggris kompak bernyanyi saat pertandingan memasuki menit ke-106. Koor massal itu menjadi bentuk penghormatan tertinggi bagi Jude Bellingham yang baru saja kembali menjadi juru selamat The Three Lions.

Dua gol spektakuler yang dilesakkan gelandang Real Madrid tersebut pada menit ke-45+2 dan 93 berhasil membawa Inggris membalikkan keadaan untuk mengunci kemenangan 2-1 atas Norwegia. Hasil krusial ini tidak hanya mengamankan tiket semifinal Piala Dunia 2026 bagi Inggris, melainkan juga menyejajarkan generasi ini dengan pencapaian bersejarah edisi 1966, 1990, and 2018.

Brace tersebut sekaligus menaruh nama Bellingham dalam buku sejarah sepak bola dunia. Ia menjadi pemain pertama sejak Diego Maradona pada Piala Dunia 1986 yang mampu mencatat dua brace beruntun di fase gugur. Pada usia 23 tahun 12 hari, ia juga menjadi pemain termuda kedua setelah Pele (Piala Dunia 1958) yang mampu mengukir torehan emas tersebut.

Meski terhitung masih muda, kematangan bermain membuat Bellingham kini diperlakukan layaknya pemain senior yang dituakan. Rekan setimnya, Morgan Rogers dan Jordan Henderson, bahkan menjulukinya "Unc" atau uncle (paman)—sebuah istilah slang untuk menggambarkan sosok yang dihormati, bijak, dan menjadi panutan.

Perubahan sikap ini sangat kontras dengan pembawaannya yang emosional pada Euro 2024 lalu. Kini, Bellingham bertransformasi menjadi sosok yang hangat di luar lapangan, seperti momen ketika ia menghampiri wonderkid Meksiko Gilberto Mora untuk bertukar jersey, hingga saat ia melayani wawancara menggunakan bahasa Spanyol dengan jurnalis disabilitas asal Venezuela. Kedewasaan ini juga tercermin dari bagaimana ia selalu mengutamakan kerja keras kolektif tim di atas panggung individu.

"Sulit di luar sana. Ini pertandingan yang berat. Semua pemain sedang bekerja keras. Jadi pikiran dan apresiasi saya ditujukan kepada para pemain yang tampil baik di luar sana," ujar Bellingham yang dinobatkan sebagai Man of the Match.


Menariknya, kedewasaan Bellingham juga terlihat saat ia berani menyuarakan pandangan yang berbeda dengan sang pelatih, Thomas Tuchel. Usai laga, Tuchel secara terbuka melayangkan kritik tajam terhadap performa timnya yang dinilai ceroboh, banyak melakukan kesalahan teknis, kurang cepat, dan dinaungi faktor keberuntungan.

Mendengar evaluasi keras tersebut, Bellingham meresponsnya dengan kepala dingin namun tetap tegas mempertahankan argumen skuad di lapangan. Ia menilai tim pelatih mungkin kurang merasakan langsung atmosfer tekanan ketika menghadapi materi pemain top milik Norwegia.

"Ya... terserah. Terserah. Mungkin dia tidak tahu seperti apa rasanya bermain dalam kondisi seperti itu menghadapi Erling Haaland, Martin Odegaard, Antonio Nusa, dan Alexander Sorloth. Itu bukan tim yang mudah dilawan," cetus Bellingham.

Bagi Bellingham, turnamen sebesar Piala Dunia tidak melulu soal estetika permainan di atas rumput hijau, melainkan bagaimana cara mengamankan kemenangan di akhir laga. "Anda tidak akan memenangkan setiap pertandingan dengan mengalirkan bola dan membuat seribu operan. Kadang-kadang Anda harus menang dengan cara yang kotor (win dirty), dan kami melakukannya lagi malam ini," tambahnya.

Pembuktian Bellingham di Piala Dunia 2026 ini sekaligus membungkam segala keraguan publik sebelum turnamen dimulai. Sempat dikritik karena mandul di awal era Tuchel, ia kini justru menjelma menjadi pemain paling determinan bagi Inggris, di mana lima dari enam golnya sepanjang turnamen selalu lahir sebagai gol penyama kedudukan atau penentu keunggulan.(*)

Editor : Indra Zakaria
#piala dunia 2026