Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Perang Urat Saraf Semifinal Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Tebar Ancaman, Ibrahima Konate Tegaskan Prancis Tak Takut!

Redaksi Prokal • Selasa, 14 Juli 2026 | 10:45 WIB
Ibrahima Konate
Ibrahima Konate

 
ARLINGTON – Tensi tinggi langsung menyelimuti laga megah babak semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Spanyol. Ketegangan tidak hanya terjadi di atas papan taktik, melainkan sudah menjalar menjadi perang urat saraf antar-pemain kedua tim sebelum bentrokan hidup-mati dimulai di Stadion AT&T, Arlington, Texas, Amerika Serikat.

Saling lempar psywar ini dipicu oleh pernyataan berani dari bintang muda Spanyol, Lamine Yamal. Wonderkid La Furia Roja tersebut sesumbar bahwa timnyalah yang memegang kendali psikologis atas Prancis berkat keunggulan rekor pertemuan terkini mereka di panggung internasional.

"Kami telah mengalahkan Prancis dalam dua pertandingan terakhir kami. Bila Prancis harus takut pada satu tim, itu adalah kami. Kita lihat saja apa yang akan terjadi, tetapi timnas Spanyol tidak takut," ujar Lamine Yamal menantang.

Mendengar gertakan dari kubu Spanyol, lini belakang Les Bleus langsung merespons dengan dingin namun menohok. Bek tangguh Prancis, Ibrahima Konate, mengakui bahwa performa Spanyol sepanjang turnamen ini memang sangat impresif, terlebih dengan rekor mentereng 36 laga beruntun tak terkalahkan milik skuad asuhan Luis de la Fuente.

Kendati demikian, palang pintu yang baru saja merapat ke Real Madrid tersebut menegaskan bahwa tidak ada sejumput pun rasa gentar di dalam ruang ganti Prancis. Bagi Konate, sejarah masa lalu tidak akan mendikte hasil akhir di Texas nanti. "Anda tidak boleh takut kepada siapa pun. Sekarang kami akan mempersiapkan diri sebaik mungkin dan berharap hasil akhirnya akan menguntungkan kami," tegas Ibrahima Konate.

Konate juga menambahkan bahwa Prancis tidak akan terjebak untuk hanya menjaga satu nama di lini depan lawan. Les Bleus akan memperlakukan Spanyol sebagai satu kesatuan unit kolektif yang berbahaya.  "Spanyol adalah tim yang istimewa, dengan banyak individu berkualitas, jadi kami tidak akan fokus hanya ke satu pemain meski Lamine (Yamal) adalah pemain hebat," tambah Konate.

Senada dengan Konate, rekan duetnya di lini pertahanan Prancis, Maxence Lacroix, ikut menyuarakan rasa percaya diri yang tinggi. Lacroix memastikan timnya telah mengantongi peta kekuatan Spanyol, namun hal itu justru memicu motivasi armada Didier Deschamps untuk menjadi tim pertama yang memberikan kekalahan bagi Spanyol di Piala Dunia kali ini.

"Saya tidak akan bilang 'takut', tetapi kami sadar akan kualitas mereka. Mereka memenangi semua pertandingan, kecuali saat bermain imbang 0-0 melawan Tanjung Verde. Kami menghormati mereka karena memiliki pemain-pemain berkualitas tinggi, tetapi kami ingin menang," kata Maxence Lacroix.

Motivasi Prancis memang berada di titik tertinggi. Jika berhasil meredam keangkuhan Spanyol, Les Bleus akan menjejaki partai final Piala Dunia untuk tiga edisi beruntun setelah juara pada 2018 dan runner-up pada 2022—sebuah rekor langka yang sebelumnya hanya bisa diukir oleh Jerman Barat dan Brasil. Pemenang dari laga 'The Titans' ini nantinya akan menantang pemenang dari laga semifinal lainnya antara Inggris dan juara bertahan Argentina. (*)

Editor : Indra Zakaria
#piala dunia 2026