BONTANG – Antusiasme masyarakat menggunakan moda transportasi laut untuk perjalanan antar-pulau menjelang bulan suci Ramadan mulai terlihat. PT Laut Bontang Bersinar (LBB) mengonfirmasi bahwa terdapat lima jadwal keberangkatan kapal PT Pelni yang akan melayani penumpang melalui Pelabuhan Loktuan, Bontang, sepanjang periode menjelang dan selama awal Ramadan 2026.
Manajer Operasional PT LBB, Jackthin Pamasi, menjelaskan bahwa lima jadwal tersebut akan dilayani oleh dua kapal andalan, yakni KM Binaiya dan KM Egon. Pelayaran perdana dijadwalkan akan dimulai oleh KM Binaiya pada 18 Februari mendatang pukul 08.00 WITA.
"KM Binaiya akan menempuh rute pelayaran panjang mulai dari Parepare, Makassar, Labuan Bajo, Bima, hingga berakhir di Tanjung Benoa," jelas Jackthin.
Setelah keberangkatan perdana tersebut, pelayaran akan dilanjutkan oleh KM Egon pada 27 Februari pukul 11.00 WITA dengan rute pendek menuju Parepare. Kapal yang sama dijadwalkan kembali bersandar di Bontang pada 1 Maret untuk kemudian bertolak menempuh rute jauh (Waingapu) pada pukul 18.00 WITA, melewati Batulicin, Surabaya, dan Lembar.
Memasuki bulan Maret, KM Binaiya kembali dijadwalkan mengisi dua jadwal keberangkatan terakhir, yakni pada 7 Maret menuju Parepare dan pelayaran penutup pada 9 Maret pukul 15.00 WITA dengan rute eksekutif menuju Awerange hingga Tanjung Benoa.
Terkait lonjakan penumpang menjelang lebaran, pihak PT LBB menyatakan masih menunggu informasi resmi mengenai kebijakan dispensasi atau penambahan kapasitas penumpang dari PT Pelni pusat.
"Biasanya ada kebijakan khusus untuk angkutan mudik, namun hingga saat ini kapasitas masih merujuk pada aturan normal. Kami akan segera menginformasikan kepada masyarakat jika sudah ada keputusan terbaru," tambahnya.
Guna menjamin kenyamanan dan keamanan perjalanan, Jackthin mengimbau keras agar calon penumpang membeli tiket hanya melalui loket resmi di area pelabuhan atau melalui sistem daring (online). Langkah ini sangat penting untuk menghindari praktik calo yang berisiko menyebabkan tiket tidak valid dan kegagalan keberangkatan. (*)
Editor : Indra Zakaria