CALIFORNIA – Nama Sharon Stone, 62, melambung tinggi di era 1990-an berkat perannya sebagai Catherine Tramell pada Basic Instinct (1992). Berlanjut pada lakonnya di film Casino (1995) yang membuat ibu 3 tiga anak itu diganjar piala Golden Globe sebagai aktris terbaik.
Kesuksesan Stone menjadi salah satu bintang besar Hollywood tak terjadi dalam semalam. Perempuan asal Pennsylvania tersebut meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib di New York. ”Saudaraku masuk penjara karena narkoba, aku harus cari uang dengan menjadi model dan pemeran pembantu,” ujar Stone dalam acara Mola Living Sabtu siang (7/11).
Perlahan, nama Stone merangkak dari sekadar peran pembantu menjadi pemeran utama. Puluhan film sudah dia bintangi. Terakhir, Stone membintangi film The Laundromart tahun lalu. Namun, sehebat apa pun akting Stone, dia tetap harus menerima kenyataan bahwa semakin tua, semakin jarang seorang aktris dilirik untuk bermain film.
Dalam bincang-bincang yang dipandu Reza Rahadian dan Raya Makarim, Stone membenarkan ada semacam hukum tak tertulis soal karir aktris di Hollywood ketika mencapai usia senja. ”Bagi pelakon perempuan, kecenderungannya adalah para filmmaker lebih memilih talenta-talenta yang lebih muda dan sehat,” kata peremuan yang pernah mengalami pendarahan otak pada 2001 itu.
Meski tawaran job semakin sedikit di usia senjanya, Stone tidak mau berpangku tangan menunggu. Waktunya dilewati dengan kegiatan yang tak hanya produktif secara materi, tapi juga berdampak. Sejak 1995, Stone aktif sebagai rekanan American Foundation for AIDS Research (amFAR) sebagai duta kampanye kesadaran AIDS.
Bersama amFAR, Stone sudah mengunjungi berbagai negara. Terlebih, negara-negara dengan risiko HIV/AIDS tinggi. Nomine Best Actress pada Academy Awards 1996 itu mengampanyekan kesadaran tentang HIV/AIDS. ”Termasuk, bagaimana untuk hidup bersama para penderitanya. Kami juga mencoba mengampanyekan ke politisi karena banyak dari mereka yang meremehkan pengidap HIV/AIDS,” papar Stone.
Tak hanya mengampanyekan kesadaran, Stone juga secara aktif mengajak banyak pihak untuk berkontribusi pada riset seputar HIV/AIDS. ”Hingga kini sama sekali belum ada vaksin. Sebisa-bisanya risetnya harus berjalan kan?” katanya.
Selain HIV/AIDS, Stone memiliki bidang lain di mana dirinya mencurahkan kepeduliannya. Tumbuh besar di keluarga kelas menengah, Stone mengaku prihatin dengan nasib dan hari tua para veteran perang di AS. Organisasi Combat Wounded Coalition –organisasi yang bergerak di bidang kesejahteraan veteran perang– pernah menggandeng Stone dalam kegiatan mereka.
Hingga kini pun, Stone menggunakan popularitas dan pengaruhnya untuk mengampanyekan hal positif. Misalnya, menyuarakan pentingnya anti kekerasan seksual yang memantik gerakan #MeToo di Hollywood. ”Pokoknya ingat saja, kalian punya hak untuk marah dan terganggu jika ada yang melecehkan kalian,” katanya. (len/c13/ayi)
Editor : izak-Indra Zakaria