Hasni dan Firma, Bangkit Setelah Jatuh Bangun Usaha

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Selasa, 28 Desember 2021 | 16:09 WIB
JATUH BANGUN: Tidak ada yang tidak mungkin. Terjun di dunia usaha bukan kali pertama, pasang surut dialami. Hingga perlahan memetik hasil dengan usaha kuliner.
JATUH BANGUN: Tidak ada yang tidak mungkin. Terjun di dunia usaha bukan kali pertama, pasang surut dialami. Hingga perlahan memetik hasil dengan usaha kuliner.

Benar kata seorang filsuf, guru terbaik adalah pengalaman. Itulah yang dialami pasangan suami istri Hasni dan Firma Ayu Renjani Putri. Tak patah semangat meski berkali-kali alami cobaan. Mengantarkan mereka yang kini menuai hasil manis dari jerih payah kembali membangun usaha.

 

TANGGUNG jawab besar sebagai seorang suami, membawa Hasni melakoni pekerjaan apa saja. Termasuk bekerja melepaskan mata pancing. “Itu namanya caddy. Jadi kerja di kolam pemancingan, bantu pemancing melepaskan mata pancing dari ikannya. Kerjanya dari habis maghrib sampai 2 malam. Cuma dapat Rp 20-30 ribu sehari, demi biaya hidup waktu itu. Dia mau bertanggung jawab lah untuk keluarga,” beber Firma.

Nasib terus bergulir, Hasni sempat bekerja di bank namun tak lama. Hingga akhirnya anak pertama mereka lahir sejak pernikahan 2012 lalu. Kondisi keuangan mereka kurang stabil Saudara menyarankan untuk membuka usaha. Lalu pada 2014, hijrah ke Long Bagun, Mahakam Ulu dari Tenggarong, Kutai Kartanegara.

Di sana, Hasni bekerja sebagai supir taksi perahu. Mengantar anak sekolah atau siapapun yang ingin menyeberang sungai. Perlahan, uang yang terkumpul ditambah Firma menjual beberapa perhiasan digunakan untuk membuka toko sembako hingga rental play station.

“Pokoknya di sana lumayan sampai 3 tahunan. Termasuk punya usaha rental mobil, ada empat mobil bawa bahan bakar. Enggak gampang perjuangannya, tapi kita bisa. Lumayan lah, rental mobil penghasilan bersih bisa sampai Rp 40 jutaan waktu itu,” jelas perempuan kelahiran 1995 itu.

Nasib baik hanya mampir sebentar. Salah satu mobil mereka yang masih dalam masa kredit masuk ke jurang. Asuransi tak bisa dicairkan. Usaha mereka mulai goyang. Disusul kondisi kesehatan anak kedua yang terus menurun, mengharuskan mereka bolak-balik.

“Sekitar 2017 akhirnya memutuskan untuk kembali ke Tenggarong. Meninggalkan semua di sana, aset dijual semua. Memulai kembali, cari kerja lagi. Termasuk coba buka usaha dekorasi, usaha jual keripik kentang. Pokoknya apa yang bisa menghasilkan kita coba, termasuk suami pernah jadi kuli angkut di pasar,” kenang Firma.

Hidup masih terus berjalan, kondisi keuangan mereka masih belum membaik. Termasuk ada tiga anak yang mesti mereka rawat. Hingga pada 2020, salah satu anaknya melihat iklan pizza di televisi dan minta dibelikan. Firma mencoba membuatnya sendiri.

“Nah suami bilang enak. Padahal bikin dengan bahan seadanya, cuma adonan roti dikasih saus. Dari situ, coba pasarkan. Pakai nama Pizza Zada. Tawarkan ke keluarga dan teman-teman, nah pas dekat Lebaran 2020 itu yang lumayan. Sehari bisa sampai 40 boks,” kata Firma.

Namun pesanan datang tak tentu. Mereka membuat pesanan sesuai orderan. Hingga suatu hari Hasni meminta istrinya membuat 20 loyang. “Nah sore itu dia pergi bawa 20 boks itu, pulang jam 9 malam. Ternyata habis, ternyata dia coba pasarkan door to door. Dari situlah, kami mulai pasarkan. Dan sampai sekarang jadi salah satu kekuatan bisnis kami,” jelasnya.

Kini Pizza Zada mampu menghidupi 26 karyawan. Termasuk sudah ada satu outlet yang buka untuk melayani membeli serta dua booth. Mereka juga merambah Samarinda dengan tim sales atau pemasaran. Perlahan berkembang menjadi salah satu usaha kuliner yang semakin dikenal masyarakat Tenggarong khususnya. (rdm)

Editor : izak-Indra Zakaria