Rintis Studio Foto dari Nol

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Minggu, 9 Oktober 2022 | 11:24 WIB
Photo
Photo

Tak banyak perempuan Kalimantan Selatan yang menggeluti fotografi. Bahkan sampai menjadikannya sebagai profesi. Seperti yang ditempuh Nadya Islamanda Chair. Dari sekadar hobi, kini cewek asal Banjarbaru ini punya studio sendiri. Binary Photoworks namanya.

Dya, panggilan akrabnya, mengaku jatuh cinta pada fotografi sejak masih berseragam SMP. Padahal, putri dari pasangan Abdul Chair dan Rahmatul Jennah ini seorang sarjana kesehatan. 

Setahun yang lewat, ia membuka studio tersebut. Hasil menabung dari job-job mandirinya. “Tahun 2019 mulai masuk ranah profesional, baru mulai ada penghasilan,” kata perempuan 25 tahun ini.

“Awalnya memang orang tua mengarahkan bekerja di bidang kesehatan, sesuai keilmuan. Tapi alhamdulillah, setelah melihat anaknya bisa membangun usaha dari nol, mereka sekarang sangat mendukung,” tambahnya.

Pencinta kamera Nikon dan lensa 50 mm dan 85 mm ini sekarang lebih fokus ke Wedding Photography dan Portrait.

Menurutnya, kedua genre ini mendatangkan kepuasan tersendiri. Sebab ia bekerja untuk mengabadikan kebahagiaan orang lain.

“Paling berkesan ketika klien gembira melihat hasil foto kita,” ujarnya.

Pengagum fotografer Tania Salim dan Lucas Edo ini memperdalam ilmunya secara otodidak. Dya tak secara khusus masuk sekolah fotografi atau ikut kursus.

“Dari awal banget memang belajar sendiri sih. Pernah juga jadi freelance di beberapa vendor dan diajarin sama owner-nya. Kalau sekarang belajar dari Youtube buat upgrade ilmu,” katanya.

Dya mengingat satu momen di mana ia benar-benar bahagia atas pilihan profesinya. Semasa kuliah, Dya menjadi juara pertama dalam sebuah kompetisi fotografi dengan tema kopi.

“Masih teringat terus sampai sekarang, terasa membanggakan sekali. Saya ingat hadiahnya 500 ribu rupiah. Itulah pendapatan pertama di bidang fotografi,” kenangnya.

Sebagai perempuan, bukannya tak ada kendala. Momok yang kerap dihadapi Dya adalah mobilisasi gear dan properti yang berat dan besar.

Tak jarang klien meminta dipotret di luar studio. “Saya belum bisa menyetir mobil sendiri. Jadi kalau ada job di luar, kadang perlu bantuan,” ceritanya.

Keuntungan menjadi fotografer cewek, dalam resepsi perkawinan, lebih mudah baginya untuk berkomunikasi dengan mempelai wanita. “Lebih leluasa mengeksplorasinya,” sambungnya.

Ditanya berapa pendapatannya, Dya menjawab normatif. Yang terpenting, kebutuhannya sudah terpenuhi. Tak lagi tergantung pada bantuan orang tua.

“Pendapatan bukan soal sudah bisa membeli apa. Lebih ke tak tergantung lagi pada orang lain. Itu yang saya syukuri,” tutupnya. (rvn/by/fud)

 
 
 
Editor : izak-Indra Zakaria