Sejak hijrah ke Samarinda pada 2014, Suska Ari Setyawan sempat mencoba berbagai usaha. Mulai berjualan kuota internet, pakaian, kuliner. Namun pada 2016, dia mencoba peruntungan lewat minuman susu berbagai rasa. Tak mudah, namun dia juga tak menyerah. Kini, usahanya itu sudah tersebar di 15 titik se-Samarinda.
SETAHUN pertama Suska dan istrinya, Tika Dhefiana memang harus lebih banyak berpikir kreatif. Kala itu, minuman susu berbagai rasa yang dia jual memang masih minim pesaing. Bahkan diakui sebagai yang pertama di Samarinda.
“Orang masih belum banyak tahu kayak es susu begini. Tahunya kan es kepal milo, kemudian juga es teh. Di awal itu paling tinggi sehari laku 30-40 gelas. Itu sudah paling kencang. Saya sama istri kan kerja pagi, jadi ada karyawan satu orang yang jaga. Kami pulang kerja, baru gantian kami yang jaga,” jelas Suska.
Mesti ada hal menarik untuk mengenalkan usaha mereka. Tepat usaha tersebut berjalan satu tahun, Suska berpikir untuk membuat undian berhadiah. Sekaligus sebagai perayaan anniversary Momoo Milk Fresh.
Disambut antusias, penjualan perlahan naik. Sejak saat itu, mulai banyak yang tahu. Selain itu, Suska juga mulai melihat bahwa target pasarnya yakni kalangan bawah hingga menengah. Apalagi kala itu harga yang ditawarkan hanya Rp 6 ribu per gelas.
Seiring berjalannya waktu, dia memiliki lima outlet. Kala itu masih menangani sendiri. “Saya bagian logistik. Jadi packing, kemudian diantar tengah malam. Pagi lanjut kerja. Enggak sanggup kan, akhirnya mulai hire orang untuk bantu di operasional. Istri yang ngurus bagian karyawan,” jelas ayah dua anak itu.
Perihal berbagai varian rasa yang ditawarkan, datang dari Suska. Dijelaskan jika dia sendiri yang menakar komposisi rasanya. Sehingga saat di outlet, karyawan hanya tinggal mencampurnya dengan gula dan susu.
“Jadi misal mau ada menu atau varian baru, ya tesnya coba ke teman-teman. Mana yang mereka suka. Atau dibikin promo saat di outlet, bagaimana penjualannya. Bikin kayak polling di Instagram, jadi bisa lihat bagaimana pendapat pembeli,” beber pria kelahiran 1991 itu.
Termasuk ketika dia sudah paham target pasar dari produknya. “Soalnya diperhatikan rata-rata itu ibu-ibu, anak sekolahan sama anak kuliahan. Sejak 2017 juga sudah masuk di ojek online. Tapi enggak ada yang bisa mengalahkan beli langsung ke outlet. Perbandingannya sekitar 75 persen datang langsung dibanding online,” bebernya.
Dia juga mulai belajar tentang manajemen usaha. Semua dipahami secara autodidak. Naik turun usaha dilalui. Belajar dari pengalaman. Suska menyebut meski sudah memiliki belasan cabang, dirinya masih terus belajar dan memperbaiki manajemen usahanya.
RADEN RORO MIRA
@rdnrrmr
Editor : izak-Indra Zakaria